Dalam hidup ini, kita pasti akan menemukan banyak sekali rintangan, baik dalam bidang ekonomi, sosial, pendidikan, pekerjaan, keluarga, bahkan diri kita sendiri. Globalisasi menuntut kita untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Pada zaman modern yang serba cepat dan mudah ini acap kali memberikan dampak yang signifikan untuk generasi yang lahir di era ini. Salah satunya adalah generasi Z, sempat dianggap generasi yang kurang mampu berpikir jauh ke masa depan, justru berani melakukan perubahan besar dengan hasil nyata. Namun, generasi ini memiliki banyak permasalahan, terutama masalah mental. Mereka mudah overthinking, labil, lelah mental, dan permasalahan mental lainnya.
Setiap generasi memiliki masalahnya masing-masing, generasi Z cenderung memiliki masalah mengenai bully, tekanan akademik, dan kesehatan mental. Di sisi lain, generasi ini juga menjadi salah satu generasi yang terbuka dengan isu kesehatan mental. Generasi Z tumbuh bersama kemajuan teknologi dan cepatnya arus informasi. Hal ini membuat mereka mengalami tekanan mental akan semua hal yang begitu cepat. Generasi ini cenderung mudah merasa lelah mental, sehingga perlu adanya upaya pencegahan dan pemulihan.
Mental seseorang terbentuk dari lingkungan sejak ia kecil hingga besar, akumulasi itu memiliki dua kemungkinan. Apabila besar di lingkungan yang mengerti akan mental, maka akan aman-aman saja, bahkan menjadi anak dengan potensi yang luar biasa. Namun, jika besar di lingkungan yang tidak tahu-menahu mengenai edukasi mental, maka anak akan tumbuh dengan membawa luka tanpa sempat disembuhkan lebih awal. Apakah berbahaya? Jelas berbahaya bagi perkembangan anak, perlu adanya penanganan khusus.
Manusia merupakan makhluk yang memiliki kemampuan yang luar biasa, mereka diberikan akal untuk berpikir dan juga hati untuk merasakan. Sebagai manusia, kita memiliki hak untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Mengubah hidup, bukan dengan mengubah diri kita sepenuhnya, tetapi dengan cara menerima terlebih dahulu apa adanya diri kita. Coba ambil waktumu sendiri untuk menenangkan pikiranmu, cari apa yang kamu suka dan tidak dari dirimu. Cari pula kelebihan dan kekuranganmu, kemudian terima itu. Terima jika memang kamu tidak sempurna baik segi fisik, mental, maupun pola pikir.
Pada hakikatnya, kehidupan tidak selalu sesuai keinginan kita. Terkadang kita berhasil, kadang pula kita gagal. Namun, apakah hal itu salah? Apakah itu buruk? Apakah itu sesuatu yang sangat memalukan? Jawabannya tidak, justru kegagalan adalah bukti bahwa kita pernah mencoba. Hidup bukan tentang siapa yang paling banyak berhasil, tetapi siapa yang selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik, rendah hati, dan tetap konsisten.
Menerima diri, bukan berarti memanipulasi diri agar terlihat positif, tetapi itu bentuk kita sayang dan peduli pada diri sendiri. Bagaimana kita akan mengubah diri menjadi lebih baik? Jika kita tidak mengenal kekurangan dan kelebihan kita. Ketika kita sudah mengenal, menerima, dan memahaminya, akan jauh lebih mudah untuk kita berusaha bertumbuh lagi. Fokuslah pada apa yang kamu miliki, bukan apa yang tidak kamu miliki. Sejatinya Tuhan tak pernah menuntut sempurna, Tuhan hanya menganjurkan mengusahakan yang terbaik. Hasil ada di tangan Tuhan dan tugas kita hanya mengupayakan sesuai kemampuan kita.
Nama : Rofiqoh Fatimatazzahro
NIM : 2502020054
Matkul : Dasar-dasar Sintaksis
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia