Tentang Busana Pengantin Setjonegoro di Wonosobo

Peringatan Hari Jadi ke-200 Kabupaten Wonosobo menjadi momentum penting yang tidak hanya menandai dua abad perjalanan sejarah daerah berhawa sejuk di jantung Pulau Jawa itu, tetapi juga menjadi panggung kebangkitan kembali berbagai warisan budaya lokal yang selama ini hampir terlupakan oleh arus modernisasi. 

Salah satu warisan budaya yang menarik perhatian masyarakat pada perayaan tahun ini adalah diperkenalkannya kembali Busana Pengantin Setjonegoro, sebuah pakaian adat yang dahulu digunakan oleh keluarga bangsawan dan tokoh masyarakat Wonosobo dalam upacara pernikahan. Dalam gelaran peringatan ini, busana tersebut diperagakan dengan penuh kebanggaan oleh pasangan muda Wonosobo, seolah menghidupkan kembali semangat leluhur yang tertanam dalam setiap jahitan kain dan corak yang melekat di dalamnya.

Busana Pengantin Setjonegoro tidak lahir begitu saja, melainkan berakar dari sejarah panjang Wonosobo sejak masa pemerintahan Raden Tumenggung Setjonegoro, Bupati pertama yang memimpin wilayah ini pada awal abad ke-19. Nama Setjonegoro sendiri bukan sekadar penanda sosok tokoh, melainkan simbol kepemimpinan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakat kala itu. 

Dalam catatan sejarah lokal, busana ini diciptakan sebagai bentuk penghormatan terhadap adat istiadat dan tata nilai masyarakat Jawa yang sarat makna filosofis. Setiap unsur dalam busana ini mulai dari pilihan warna, bahan, hingga aksesorinyamenyimpan pesan moral yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Wonosobo terhadap cinta, kehormatan, serta keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual.

Busana ini tampil mencolok dalam berbagai pementasan budaya, salah satunya sendratari peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang mengisahkan perjuangan heroik Setjonegoro. Dalam pementasan tersebut, busana ini digunakan untuk menegaskan citra kemegahan dan keagungan tokoh yang menjadi simbol kejayaan daerah. Warna, corak, dan desainnya dipilih secara cermat untuk menggambarkan nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, dan kemakmuran. Dengan tampilan yang megah dan khas, Busana Setjonegoro menjadi representasi visual dari perjalanan panjang Wonosobo dalam membangun identitas budayanya sendiri.

Busana Pengantin Setjonegoro memiliki keistimewaan pada kemampuannya menggabungkan unsur tradisi Jawa klasik bergaya Gagrak Jogja yang dikenal elegan, berwibawa, dan sarat filosofi dengan nilai-nilai lokal khas Wonosobo yang mencerminkan karakter daerah pegunungan yang sejuk, alami, dan bersahaja. Perpaduan ini menjadikan busana tersebut bukan hanya sekadar hasil imitasi dari budaya Jawa keraton, tetapi juga bentuk adaptasi kreatif yang menegaskan identitas budaya Wonosobo yang mandiri dan berkarakter.

Ciri khas busana dapat terlihat dari paes yang berbentuk ujung buah carica yang merupakan tanaman khas kabupaten Wonosobo. Selain itu pengantin wanita mengenakan kebaya belenggen berwarna hijau botol yang dihiasi dengan motif bunga carica dan daun purwaceng dengan ronce melati yang diselingi dengan bunga mawar dan kenanga. Pengantin pria menggunakan surjan berwarna senada yang dihiasi dengan motif bunga carica dan daun purwaceng serta menggunakan keris Wulan tumanggal sebagai simbol wibawa seorang pria. Kain jarik yang digunakan yang ini motif Pring Sedapur yang mengandung makna filosofis Pring atau bambu yang dikenal sebagai tanaman yang bermanfaat di setiap bagiannya mulai dari tunas hingga akar, mengandung harapan mencapai kehidupan yang sejahtera, harmonis dan bermanfaat bagi diri mereka sendiri serta orang lain. Motif rintik hujan melambangkan harapan akan rezeki yang mengalir layaknya rintik hujan. 

Setiap elemen dari paes hingga aksesori menggambarkan filosofis yang mendalam tentang keindahan, kesucian dan harapan. Hal ini bukan hanya sekadar tradisi tapi juga makna simbol identitas dan kekayaan budaya Wonosobo yang patut dijaga dan dibanggakan.

Selain dari sisi motif, iringan atau prosesi pengantin yang menggunakan cucuk lampah lengger juga memperkuat keistimewaan busana ini. Lengger, sebagai tari tradisional khas Wonosobo, merepresentasikan kegembiraan, kesopanan, dan keanggunan perempuan Jawa pegunungan. Kehadiran cucuk lampah lengger dalam prosesi pernikahan menambah sentuhan artistik dan memperkaya makna simbolik bahwa pernikahan adalah perjalanan suci yang diiringi doa, harmoni, serta keindahan budaya lokal. Elemen ini membuat upacara pernikahan dengan Busana Setjonegoro tidak hanya megah, tetapi juga hidup dengan nilai-nilai lokal yang otentik. 

Dengan demikian, keistimewaan Busana Pengantin Setjonegoro tidak hanya terletak pada bentuk dan bahan kainnya, tetapi pada identitas budaya yang dikandungnya yakni perpaduan harmonis antara tradisi keraton (Gagrak Jogja) dan kearifan lokal Wonosobo. Busana ini menjadi simbol bahwa kebudayaan dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar, sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat Wonosobo mampu menghadirkan tradisi dalam bentuk yang tetap relevan dan membanggakan di masa kini. 

Pengenalan kembali Busana Pengantin Setjonegoro dalam peringatan Hari Jadi ke-200 Wonosobo menjadi langkah strategis Pemerintah Kabupaten dan para budayawan lokal dalam upaya pelestarian budaya. Melalui kegiatan tersebut, pemerintah berkolaborasi dengan komunitas perancang busana tradisional, seniman, dan akademisi untuk menampilkan busana ini dalam bentuk yang lebih segar tanpa menghilangkan esensi aslinya. (*)

Oleh Vanda Yoga Puspita