Sunan Giri dan Jati Cempurung

Demak pada abad ke-15 adalah pusat denyut kekuasaan dan spiritualitas di tanah Jawa. Jalan-jalan pasar dipenuhi pedagang rempah dari Maluku, suara tawar-menawar berbaur dengan gema adzan subuh dari surau-surau kecil. Di atas pendopo yang dibangun dari kayu jati mengkilap, Raden Patah duduk di singgasana, memandang para wali yang berkumpul. “Kita akan menegakkan Masjid Agung,” suaranya bulat, memecah kesunyian pagi. “Tiangnya bukan dari kayu biasa. Aku ingin ia tumbuh dari doa dan diberkahi sejak akarnya.”

Tatapan Raden Patah beralih pada Sunan Giri , seorang wali berwajah teduh, bersorban putih sederhana, tapi matanya memancarkan keteguhan. Dari samping, Sunan Kalijaga meraih bahu Sunan Giri. “Pergilah ke selatan. Alam sana penuh misteri, namun Tuhan akan menuntun. Ujian yang kau temui akan membersihkan hati.”

Subuh itu, Sunan Giri meninggalkan pesisir Gresik. Udara asin dari Laut Jawa masih menerpa wajahnya, namun perlahan digantikan aroma tanah lembab ketika ia berjalan menapaki jalan tanah merah. Desa-desa dilewati; para petani melepas topi caping dan menyuguhkan nasi liwet serta air kelapa muda. Di kejauhan, Bengawan Solo bergemuruh, membawa cerita banjir dari pegunungan. Hutan mulai mendekap jalannya. Randu raksasa dengan duri-duri tajam tumbuh seperti penjaga rimba, monyet-monyet berloncatan sambil berteriak, dan kabut pagi menempel di kulit, seolah enggan melepas.

Pada malam ketiga, ia berteduh di bawah pohon waru berdaun lebar. Dalam tidurnya, ia didatangi sosok berjubah hijau tua, namun memancarkan cahaya, kemungkinan sosok itu adalah jelmaan Nabi Khidzir. “Di timur, di lembah Wana-Giri, pohon yang kau cari menunggu. Tapi hutan itu punya roh penjaga. Engkau harus melewati uji kesabaran.” ucap sosok dalam mimpi Sunan Giri.

Sunan Giri terbangun, nafasnya panjang. Di balik semak, terdengar langkah dan desah napas. Ia tahu ada yang mengikutinya, yaitu Wasingo , pemuda desa yang diam-diam membuntuti sejak tadi. Namun Sunan Giri hanya tersenyum tipis. “Ujian pertama sudah dimulai,” batinnya.

Disisi lain, Bertahun-tahun lalu, seorang pangeran muda Majapahit bernama Ki Donosari atau Ki Ageng Donoloyo menyaksikan istana Trowulan dilalap api ketika pasukan Demak menyerbu pada 1478. Ki Ageng Donoloyo sendiri, ia menghilang ke pedalaman selatan, hanya membawa sebilah keris dan pengetahuan obat-obatan warisan tabib istana.

Di lembah sunyi yang kelak bernama Wonogiri, ia membangun pondok bambu, menanam jahe, kunyit, dan bibit jati yang dibawanya dari Majapahit. Puluhan musim hujan berlalu, ia menjelma menjadi pertapa yang disegani. Namun, kenangan tentang robohnya kejayaan masih membayang, membuatnya berhati-hati terhadap pendatang dari manapun dan siapa pun.

Sunan Giri menapaki jalur berbatu menuju pondok itu. Hutan di sekitarnya ibarat kerajaan hijau. Jati-jati setinggi 50 meter, akarnya menjalar lebar, udara harum bunga melati liar bercampur tanah lembab. Di tengah hamparan itu, berdirilah Jati Cempurung, sosok raksasa hijau dengan batang sebesar delapan lingkar lengan. Saat Sunan Giri menyentuh kulit kayunya yang kasar seperti sisik naga, getaran hangat menjalar di tangan. Dalam sekejap, ia “melihat” pohon itu lahir dari benih di masa kejatuhan Majapahit, disiram air keramat oleh roh gunung.

Di pondok dekat hutan jati tersebut, Ki Donosari tengah meracik jamu. Ia menyambut Sunan Giri tanpa terkejut seolah sudah menunggu. “Hutan ini warisan leluhur saya,” katanya lambat. “Jati Cempurung adalah ratunya. Tapi bila benar untuk menegakkan iman, maka ambillah. Kita jalani dulu puasa dan doa untuk memohon izin pada Sang Penjaga.”

Malam itu, di bawah langit yang penuh gugusan bintang, mereka berdoa dan berbagi kisah. Pagi datang, kapak tua menghantam batang jati. Pohon itu tumbang perlahan, disambut gemuruh seperti gong raksasa. Anehnya, burung-burung tak terbang namun mereka hinggap mengelilingi, seolah menjadi saksi suci.

Setelah proses penebangan selesai, Sunan Giri berpikir, batang kayu sepanjang 20 meter itu tak mungkin diusung kuda. Sunan Giri menemukan solusi pada aliran Sungai Keduang. Untuk meredam liar arus, Sunan Giri memanggil Mbok Suro, janda berusia setengah abad, mantan penari istana Demak yang kini menjadi pesinden.

Setelah berbincang dengan Mbok Suro, awalnya ia menolak, ia mengatakan dirinya “hanya perempuan desa.” Tapi Sunan Giri menatap lembut, “Suaramu adalah doa yang mengalir di udara.”

Hingga akhirnya ia pun duduk di atas kayu jati, memainkan rebab bambu tipis, menyanyikan tembang macapat tentang perjalanan suci. Alunan itu membuat arus mengalun jinak, ikan-ikan mengikuti di samping, dan angin membantu menggerakkan rakit. Kayu raksasa itu pun meluncur menuju Demak seperti tamu kerajaan yang diiringi musik.

Di sepanjang perjalanan, Mbok Suro merasakan getaran seperti ucapan terima kasih dari kayu itu. Setelah peristiwa ini, ia dikenal sebagai dukun penyanyi yang mampu menyembuhkan orang sakit lewat tembang, dan hingga kini keturunannya mewarisi bakat seni di Wonogiri.(*)

Kembali pada sosok pengikut Sunan Giri, Wasingo akhirnya ketahuan ikut. Tubuhnya basah kuyup, napasnya pun terengah. “Maafkan saya, Kanjeng. Saya hanya ingin ikut bekerja.” ujarnya sedikit takut. “Kau lulus ujian kesabaran,” kata Sunan Giri sambil tersenyum. Di pinggir sungai, Sunan Giri menatap lembah dan gunung di sekitarnya. “Tempat ini akan disebut Wana dan Giri. Wonogiri yang bermakna tanah ketangguhan.”

Wasingo kemudian dididik berdzikir, menjadi penjaga bukit yang kelak disebut Gunung Giri. Ia berkeluarga, dan anak-cucunya tumbuh sebagai pelindung pusaka. Cerita rakyat menyebut, di masa pendudukan Belanda, keturunan Wasingo menyembunyikan pusaka Sunan Giri di gua-gua. Bahkan, konon seekor singa gaib disekitar Gunung Giri adalah wujud roh Wasingo, wujud roh ini disebutkan pernah membantu Pangeran Sambernyawa mengusir musuh. Hingga akhirnya kini tradisi “selametan” tahunan diadakan untuk menyapa sang “Singa Penjaga”.

Jati Cempurung akhirnya berdiri tegak menjadi saka agung (tiang) Masjid Demak. Tiang itu menjadi saksi waktu, tak lapuk meski berabad-abad berlalu. Wonogiri sendiri berubah, dari yang awalnya hutan Donoloyo menjadi petilasan Ki Donosari, tempat ziarah yang konon kadang disertai hembusan angin beraroma bunga. Mbok Suro, Wasingo, dan Ki Donosari hidup dalam ingatan kolektif rakyat, menjadi teladan iman, kesabaran, dan keberanian.

Kini, di Wonogiri, berbagai tradisi masih terjaga. Singkong kering (gaplek) memenuhi lumbung, waduk Gajah Mungkur membentang biru, dan kisah perlawanan rakyat melawan penjajah terus diceritakan dengan semangat. Jika seseorang sedang singgah di Gunung Giri atau Hutan Donoloyo, dengarkan baik-baik. Mungkin suara tembang Mbok Suro akan menyapa, atau dari kejauhan terdengar auman sang Singa Penjaga.

Oleh Vanya Artika Putri Nur Utami