Bahaya Rokok Elektrik

Rokok elektrik atau vape merupakan perangkat yang dioperasikan seperti rokok konvensional namun pada vape menggunakan baterai untuk memompa nikotin atau aerosol e-liquid psiokoaktif lainnya. Perbedaan vape dengan rokok konvensional adalah pada vape hanya perlu memompa atau menekan bagian tertentu dalam benda tersebut. Vape menjadi benda yang telah lama diperbincangkan bahkan sebagian besar anak remaja sudah mulai menggunakannya.

Cara kerja vape dianggap lebih mudah dibandingkan dengan rokok konvensional yang harus membakar tembakau terlebih dahulu. Vape bekerja dengan cara memanaskan cairan yang ada dalam perangkat sehingga akan menghasilkan uap yang akan dihirup penggunanya. Pada proses ini memerlukan peran baterai yang akan memberi energi pada elemen pemanas. Saat elemen pemanas ini siap, dia akan mengeluarkan uap cairan yang diserap oleh sumbu perangkat itu. Pada uap aerosol ini mengandung beberapa partikel, seperti nikotin, perasa, dan zat lainnya yang akan masuk ke paru-paru.

Pada zaman sekarang ini banyak kita jumpai bahwa remaja atau anak sekolah masa kini telah berani mencoba hingga menggunakan vape. Faktor yang memengaruhi hal ini diantaranya karena adanya pengaruh pergaulan dengan teman sebaya atau keluarga, rasa dan tampilan vape yang lebih menarik, dan kemudahan akses untuk mendapatkannya jika dibandingkan dengan rokok konvensional.

Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2019 menunjukkan data bahwa sekitar 10,6% pelajar berusia 13-15 tahun di Indonesia pernah menggunakan rokok elektrik. Dan berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2022 mencatat peningkatan jumlah pengguna vape dominan di isi oleh kelompok remaja.

Masyarakat beranggapan bahwa vape adalah alternatif rokok konvensional yang lebih aman. Vape telah memikat banyak pengguna karena pemikiran seperti ini dan rasa keterkaitan untuk mencoba karena vape yang menyediakan berbagai varian rasa atau aroma. Pemasaran vape yang agresif juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya pengguna vape mulai dari kalangan remaja hingga dewasa.

Di lansir dari rs pondok indah rokok konvensional dan vape keduanya berbahaya, namun rokok konvensional dianggap lebih berbahaya karena mengandung tar dan bahan kimia berbahaya lainnya. Vape mungkin memiliki risiko yang lebih rendah, tetapi pada vape masih mengandung nikotin dan bahan kimia lain yang dapat mengganggu sistem kerja organ tubuh manusia. Efek samping penggunaan vape adalah seperti terjadinya iritasi tenggorokan dan paru-paru. Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan organ seperti pada paru-paru, jantung, hingga ketergantungan nikotin. Beberapa pengguna vape juga mengalami masalah pada pernapasan akibat cairan vape yang dikenal sebagai evali. Maka dari ini vape tidak sepenuhnya aman untuk digunakan dan masih berisiko buruk bagi kesehatan.

American Lung Association menyebutkan beberapa penelitian telah menemukan zat-zat kimia beracun pada vape seperti propilen glikol, nikotin, karsinogen, acrolein, diacetyl dan benzene. Propilen glikol dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan pada beberapa individu. Nikotin merupakan zat adiktif yang dapat memengaruhi perkembangan otak remaja secara negatif. Pada vape juga ditemukan kandungan karsinogen yang dapat menyebabkan penyakit kanker. Acrolein adalah zat yang digunakan untuk membunuh gulma dan dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Zat diacetyl yaitu zat kimia yang berhubungan dengan penyakit paru-paru bronchiolitis obliterans. Zat kimia berbahaya lainnya yaitu benzene yang merupakan senyawa organik yang mudah menguap dan merupakan partikel kecil yang dapat dihirup jauh ke dalam paru-paru perokok.

Untuk dapat mengurangi atau mencegah peningkatan penggunaan vape ini akan lebih baik jika kita mulai mengedukasi sejak dini tentang bahaya vape terhadap kesehatan manusia. Dan sebagai orang tua hendaknya menasehati anak untuk memilih pergaulan teman sebaya yang sehat sehingga tidak akan menjerumuskan anak pada hal-hal yang merugikan. Karena pada dasarnya, vape bukan hanya sekadar gaya hidup melainkan masalah kesehatan yang harus mendapatkan perhatian serius. Edukasi yang tepat, pengawasan, dan dukungan dari keluaraga dan lingkungan menjadi sumber untuk melindungi anak dari revolusi gaya hidup saat ini seperti vape.(*)

Oleh Azizah Lulu Nurul Haliah