Munculnya teknologi kecerdasan buatan (AI) ini membawa beberapa dampak, baik secara positif maupun negatif. Dampak positif AI diantaranya yaitu dapat mempermudah pekerjaan dan memecahkan masalah. Selain itu, AI juga dapat memberikan dampak negatif yaitu menimbulkan adanya kekhawatiran akan hilangnya lapangan kerja dalam kehidupan di masyarakat. Berdasarkan hasil Riset tim Microeconomics Dashboard (Micdash), Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah menjelaskan bahwasanya penggunaan AI yang semakin hari semakin meningkat.
Adapun pendapat dari Qisha Quarina, selaku koordinator kajian Microeconomics Dashboard (Micdash), menyebutkan sebanyak 77% orang masih khawatir bahwa teknologi AI dapat berpotensi menghilangkan pekerjaan dan menggantikan tugas-tugas manusia. Peneliti Microeconomics Dashboard (Micdash) lainnya, Raniah Salsabila mengungkapkan bahwa AI seperti ChatGPT akan membantu menyelesaikan suatu pekerjaan dan menggantikan keterampilan tertentu, “Hal ini tentunya menunjukkan AI tidak saja menggantikan manusia, melainkan menggantikan keterampilan tertentu yang dibutuhkan pekerja untuk membuat pekerjaan lebih efisien,” jelas Raniah.
Kecerdasan buatan (AI) ini menghadirkan peluang dan tantangan besar bagi para penggunanya. Salah satunya yaitu negara kita sendiri, Indonesia. Di satu sisi, AI meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Di sisi lain, teknologi ini juga berpotensi dalam mempengaruhi suatu karakter bangsa, dengan perubahan adaptasi yang meningkat. Dalam hal demokrasi, penggunaan AI dapat membantu manusia menyelesaikan masalah, tetapi jika tidak digunakan secara bijak, teknologi ini dapat menjadi ancaman bagi kesejahteraan rakyat.
Sebagai rakyat Indonesia, kita perlu menekankan pentingnya penguatan karakter bangsa, seperti integritas dan gotong royong, agar tidak terbawa arus oleh kemajuan teknologi yang ada. Seharusnya kita memiliki landasan karakter yang kuat, baik dalam dunia kerja ataupun dalam kemajuan teknologi sehingga masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi negatif yang terdapat di teknologi. Tanpa karakter kuat, AI berbahaya dalam penyebaran ideologi bangsa yang salah dan tidak berdasarkan asas nilai pancasila. Antonius Benny Susetyo dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), mengingatkan tentang adanya risiko manipulasi demokrasi lewat AI yang dapat memengaruhi opini publik. Karena itu, pengendalian dan regulasi AI menjadi sangat penting.
Faktanya negara-negara seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat telah mengatur penggunaa AI secara ketat. Bahkan Indonesia pun menyusun pengaturan tentang AI melalui Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) dengan fokus pada etika, hukum, dan nilai Pancasila. Adapun dalam dunia pendidikan, AI telah membuka berbagai peluang baru, termasuk dalam fasilitas pembelajaran, dan peningkatan efektivitas pengajaran. Dengan AI, proses pembelajaran menjadi lebih inovatif dan responsif terhadap kebutuhan individu siswa, untuk pencapaian hasil belajar yang lebih baik.
AI berperan penting dalam sistem proses pendidikan di Indonesia. AI membantu guru dalam pengajaran dan interaksi dengan siswa. Dalam proses belajar mengajar, AI dapat membantu guru dalam melakukan penilaian dan evaluasi sehingga mempermudah guru untuk menganalisis nilai siswa. Hal itu juga dapat membantu guru dalam menghemat waktu, agar dapat merancang strategi pembelajaran yang lebih baik dan interaktif. Dengan melakukan strategi pembelajaran yang interaktif dapat mendorong pengembangan metode pengajaran yang lebih kreatif. Maka, proses belajar menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi siswa. Meski begitu, Ketua Pusat Artificial Intelligence, Institut Teknologi Bandung (ITB), Nugraha Priya Utama berpendapat bahwa AI tidak dapat menggantikan hubungan personal antara guru dan siswa. AI hanyalah menjadi alat bantu karena aspek-aspek manusiawi seperti empati, bimbingan karakter, interaksi sosial, dan motivasi hanya dapat diberikan oleh manusia.
Kecerdasan buatan (AI) membawa banyak manfaat dalam proses pendidikan. AI dapat membantu pembelajaran menjadi lebih menarik, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhan setiap orang. Akan tetapi dibalik semua kemudahan itu, kita perlu waspada. Bahwasanya AI dapat menggeser peran manusia, memunculkan kesenjangan keterampilan, serta membahayakan nilai-nilai penting bangsa seperti gotong royong, etika, dan demokrasi. Jika tidak dikendalikan, AI dapat digunakan untuk hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan.
Setelah mengetahui berbagai dampak yang di timbulkan oleh AI. Kita perlu bijak dalam mengambil pesan ataupun informasi yang terdapat dalam AI. Di era ini, kita harus siap dalam menghadapi situasi perkembangan teknologi yang semakin pesat ini. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus bekerja sama untuk memastikan bahwa AI digunakan secara bijak dan penuh tanggung jawab. Tidak hanya itu, nilai-nilai Pancasila juga harus tetap menjadi pegangan utama agar teknologi AI tidak mengubah jati diri bangsa. Dengan berlandaskan Pancasila, Indonesia dapat maju dalam dunia digital tanpa kehilangan identitas nasionalnya.
Sumber :
Agungnoe. (2024). Teknologi AI Tidak Sepenuhnya Bisa Menggantikan Pekerjaan Manusia. Universitas Gadjah Mada (online) (Teknologi AI Tidak Sepenuhnya Bisa Menggantikan Pekerjaan Manusia – Universitas Gadjah Mada)
CBQA Global. (2024). Privasi Data di Era AI: Tantangan dan Solusinya. CBQA Global. (online) (https://www.cbqaglobal.com/privasi-data-di-era-ai-tantangan-dan-solusinya/)
Kominfo & Komdigi. (2024). Kecerdasan Buatan, Membangun Karakter Bangsa di Era Digital. Komdigi. (online) (https://www.komdigi.go.id/berita/artikel/detail/kecerdasan-buatan-membangun-karakter-bangsa-di-era-digital)
Akmalia, I. (2024). AI dalam Pendidikan: Revolusi Pembelajaran Menuju Masa Depan yang Lebih Cerdas. Institut Teknologi Bandung (online) (https://itb.ac.id/berita/ai-dalam-pendidikan-revolusi-pembelajaran-menuju-masa-depan-yang-lebih-cerdas/61183)
Nama : Eka Nur Fadilah
NIM : 2502020110
Rombel : 4 (Empat)
Mata Kuliah : Dasar-Dasar Sintaksis
Dosen : Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, S.pd., M.Pd.