Di zaman yang semakin modern ini, siapa sih yang tidak mengenal Skincare? Skincare merupakan perawatan wajah yang sangat penting untuk kesehatan kulit, skincare sudah menjadi rutinitas sehari hari, baik di kalangan remaja hingga orang tua. Tentunya rutinitas ini sudah tidak asing dan banyak dilakukan karena terasa menenangkan. Banyak orang, termasuk saya dan teman-teman, mulai beranggapan skincare sebagai waktu untuk diri sendiri. Perasaan itu muncul dari hal-hal kecil. Misalnya saat malam hari, akhirnya bisa duduk sambil menatap cermin, membersihkan wajah dan merasa “Oh ini waktunya”. Bukan karena pengen kulitnya langsung berubah glowing tiba-tiba, tetapi sebagai bentuk kecil perawatan kepada diri sendiri
Beberapa penelitian menyebutkan, bahwa perawatan diri yang sederhana bisa membantu suasana hati menjadi lebih stabil atau istilah yang sering kita dengar adalah mood yang bagus. Seseorang merasa lebih teratur dan lebih percaya diri karena ada hal yang bisa mereka kontrol, jadi wajar kalau skincare merupakan bagian dari bentuk self-care. Dengan menerapkan self-care secara konsisten, wanita dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan mencapai potensi penuh dalam segala aspek kehidupan mereka.
Di balik itu semua, dunia skincare saat ini seperti mempunyai dua wajah atau dua sisi. Sisi pertama, tenang dan pribadi. Sisi kedua, penuh tren dan ribut atau kata lain tren yang heboh. Setiap membuka aplikasi TikTok atau Instagram, pasti selalu ada produk baru yang viral. Ada yang mengatakan toner tertentu wajib punya, ada yang mengatakan serum ini bikin hidup berubah, dan kalau tidak ikut menggunakan, rasanya kayak “eh, kok aku ketinggalan ya?”.
Masalahnya, di sinilah mulai terasa tekanannya. Banyak orang yang sebenarnya kulitnya baik-baik saja, tetapi merasa perlu beli sesuatu karena yang lain beli. Ada juga memaksakan punya produk yang mahal agar tidak ada yang bilang “skincare murah”. Padahal kenyataannya, kebutuhan tiap kulit orang itu beda-beda. Tapi karena internet sering Fomo produk skincare, orang jadi bingung antara mana yang memang perlu dibeli dan mana yang hanya ikut-ikutan agar tidak merasa aneh sendiri.
Saya sering melihat, tiap orang jadi mempunyai rutinitas yang panjang sekali hingga belasan langkah. Padahal kalau ditanya, “mengapa menggunakan semua ini?”, jawabannya sering “hanya mengikuti review.” Kadang lucu, kadang sedih juga. Karena dari yang niatnya mau merawat diri, malah berubah jadi beban. Ada yang kulitnya makin sensitif karena kebanyakan mencoba produk. Ada yang bingung uangnya habis tapi hasilnya tidak kelihatan.
Jika dibayangkan ulang, sebenarnya perawatan diri itu tidak harus rumit, sederhana saja sudah cukup. Yang penting adalah kita tahu apa yang cocok dan apa yang tidak. Dan itu tidak selalu harus sama dengan orang lain, justru bagian paling penting dari skincare bukan produknya, tapi momen ketika kita berhenti sebentar dan memperhatikan diri sendiri. Rasanya berbeda jika dilakukan tanpa tekanan.
Jadi, buat saya pribadi skincare itu memang bisa jadi bentuk self-care, tapi hanya kita yang memegang kendali, bukan tren yang mengatur. Jika kebiasaan ini bikin kita nyaman, ya lanjutkan. Tapi jika malah bikin pusing, bikin boros, atau bikin kita merasa kurang terus, ya berarti ada yang salah. Perawatan diri mestinya bikin hidup terasa lebih ringan, bukan malah menambah beban.
Dari sudut pandang medis, ahli kecantikan sepakat bahwa skincare penting untuk kesehatan kulit. “Menggunakan produk skincare yang tepat adalah pilihan cerdas untuk menjaga kebugaran kulit,” ungkap para ahli. Pada akhirnya, skincare hanya bagian kecil dari hidup. Tidak harus kelihatan sempurna, tidak harus lengkap, dan tidak harus sama dengan orang lain. Yang penting adalah apa yang kita rasakan setelah melakukannya. Kalau setelah pakai pelembap kita merasa sedikit lebih baik, itu sudah cukup. Kalau tidak, ya juga bukan menjadi masalah. Self-care itu bukan perlombaan, yang paling sederhana justru yang paling cocok.
Oleh Alvika Lutfitamulia