Kota Jepara memiliki banyak pantai yang indah. Kota ini diberi nama “Kota Ukir”. Kota ini juga memiliki tekstil yang terkenal dengan nama “TENUN TROSO”. Tenun troso ini menjadi inspirasi bagi industri mode di seluruh dunia. Kain tradisional tenun troso khas dari Desa Troso, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah.
Tetapi, generasi saat ini jarang sekali memiliki minat untuk mempelajari cara pembuatan kain tradisional tenun troso. Bahkan saat ini yang memproduksi kain tradisional tenun troso ini sangat jarang. Karena kain ini memproduksinya bisa sampai berminggu-minggu untuk satu kain saja. Kain ini memiliki macam-macam motif yang bervariasi. Jika melihat dari desain motifnya, terdapat lebih dari 30 jenis motif tenun troso, ntetapi jika dikumpulkan dalam kelompok besar, mereka dapat dibagi menjadi 5 jenis motif hias
Sejak tahun 1935, kerajinan ini telah ada. Ini dimulai dengan tradisi menenun dalam satu keluarga sebelum menyebar ke seluruh desa hingga menjadi sentra tenun. Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat setempat, nama “Tenun Troso” diambil dari nama desa pembuatnya.
Meskipun kini sudah mengalami perkembangan dalam motif dan teknik seiring kemajuan zaman dan teknologi, pembuatan tenun Troso sebagian besar masih dilakukan secara tradisional. Dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai warisan budaya.
Kain tenun Troso dikenal luas di Indonesia karena harganya yang relatif terjangkau, bahan baku yang mudah diperoleh di Pulau Jawa, serta penggunaan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang efektif. Keunikan dan keaslian proses tradisional menjadikan tenun Troso tetap eksis dan dikenal sejajar dengan tenun daerah lain seperti Rangrang Nusa Penida dan Tapis Lampung.
Kain Tradisional Tenun Troso ini biasanya sering menjadi kombinasi di baju formal seperti kemeja, blouse, outer, dan juga baju pengantin, tas, syal, taplak meja, sarung bantal dan lain-lain. Kain ini sangat lembut, nyaman dan tahan lama karena menggunakan benang katun atau benang sutra.
Banyak generasi muda di daerah Jepara lebih memilih bekerja dipabrik-pabrik atau merantau dari pada melanjutkan tradisi menenun. Karena penghasilan menenun dianggap tidak menjanjikan, pekerjaan menenun dianggap melelahkan dan memerlukan ketelatenan, bersaing dengan pabrik tekstil yang harganya lebih murah, dan biaya produksi yang tinggi karena benang berkualitas dan pewarna alami yang mahal.
Diera digital yang sangat marak ini menyebabkan para generasi sekarang sangat mengikuti trend dan menyukai gaya hidup yang sangat instan. Dengan itu kita dapat mengikuti perkembangan zaman saat ini dengan mengupload di platform tiktok, instragram,dan lain-lain cara memproduksi kain tenun troso seperti penyiapan benang, pembuatan motif,menenun,dll, kita juga dapat menggabungkannya dengan Fashion modern. Lalu pihak sekolah juga dapat memberikan pembelajaran tentang cara memproduksi kain dan cara menggembangkan bisnis troso kepada generasi saat ini agar mereka dapat tertarik untuk melestarikannya.
Pemerintah juga dapat mendukung UMKM lokal untuk menunjukkan kepada dunia tentang keindahan dari Kain Tradisional Tenun Troso Jepara ini. Dengan mmbuat bazar,UMKM, event-event nasional/internasional lalu dengan mengadakan kompetisi-kompetisi, dan Fashion show yang dapat dilihat secara umum. Kita juga dapat bekerja sama dengan influencer lokal.
Saran saya agar generasi saat ini memiliki minat untuk melestarikan Kain Tradisional Tenun Troso itu dengan menggunakan motif yang sesuai dengan trend saat ini tapi tidak meninggalkan kesan tradisionalnya, dengan mengikuti trend-trend yang ada saat ini mungkin tidak hanya generasi muda setempat saja yang tertarik untuk melestarikannya generasi muda yang di luar pulau jawa juga dapat tertarik untuk melestarikannya.
Kita juga dapat mendirikan tempat pelatihan, mendorong generasi muda untuk membangun bisnis kain berbasis troso seperti souvenir,aksesoris,dll. Kita memadukannya agar tidak hanya baju saja yang dapat dibuat dari kain troso. Di bali mereka mengajarkan budaya lokal dengan melakukan praktik secara langsung sehingga generasi muda dapat memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikan budaya lokal.(*)
Oleh Syaqilla Zicha Gresiella