Aku dan Impianku

Tahun 2006, sudah 19 tahun yang lalu. Apa yang kalian ingat  pada tahun itu? Gempa Jogja? Semburan Lapindo?. Jika kalian bertanya apa yang aku ingat pada tahun itu, jawabannya tidak ada.

Aku baru dilahirkan pada tahun itu, ya 2006. Dari keluarga sederhana yang penuh kasih sayang, keluarga yang tidak pernah meninggikan suaranya pada anak, keluarga yang tidak pernah mengayunkan tangan pada anak, dan keluarga yang menjaga tutur kata didepan anak-anaknya. Tidak ada bentakan, pukulan dan cacian dirumah itu. Hanya rumah dengan kehangatan di dalamnya. Terasa seperti rumah impian bukan?

Ceritaku tidak istimewa, tidak juga menarik, apalagi berharga untuk diceritakan, tapi terlalu sayang untuk dilupakan. Hanya kisah dari seorang anak pertama, cucu pertama dan seorang perempuan yang menjalani kehidupan dengan banyaknya impian tinggi yang ingin dicapai.

Gadis kecil yang terbiasa dengan kebahagian sederhana, kasih sayang dan perhatian disekelilingnya, kini sudah beranjak dewasa, sudah saatnya berdiri tegak dan melangkah mengejar mimpi yang diinginkan. Bingung? Ragu? Takut?. Tentu semua aku rasakan, bercampur aduk di kepala. Bagaimana jika itu semua tidak sesuai dengan apa yang aku impikan.

Mimpi apa yang aku inginkan? Banyak. Banyak hal yang aku impikan, banyak hal yang ingin aku lakukan, banyak hal yang ingin aku kuasai. Ingin menjadi serba bisa. Tapi aku tidak ingin menyebutkannya satu persatu. Dan apa semua bisa terwujud? Aku.. tidak yakin. Semua terasa sulit, aku tidak tahu harus apa, harus kemana dan harus bagaimana. Sudah terbiasa mengikuti alur saja. Kini tersadar harus ada perubahan untuk mewujudkan semua.

Namun terkadang realita seringkali meleset dari perkiraan. Puluhan, ribuan bahkan ratusan mimpi yang terbayang ingin diwujudkan, harus kalah dengan realita. Aku tidak mendapat impian pertama ku untuk berkuliah di Fakultas Pertanian. Ya, kalian tidak salah membaca, memang pertanian. Kini aku berada di Fakultas Teknik, tidak menyangka aku akan berada di fakultas ini. Aku bahkan tidak tau yang telah aku jalani ini impian nomor berapa dalam pikiranku. Apakah benar ini yang aku inginkan, atau hanya mengambil kesempatan yang ada.

Bayang-bayang impian itu kini menuntut bentuk nyata, memaksa untuk diwujudkan. Bukan impian pertama? Tidak apa-apa. Akan aku selesaikan dan akan aku wujudkan. Apapun itu, aku pasti bisa. Aku pasti bisa sukses dari sini.

Melangkah setinggi ini sebagai yang pertama memang terasa berat. Namun, aku harus bisa, demi menjadi contoh baik. Menjadi contoh bahwa semua bisa dicapai asal mau berusaha.

Menjadi contoh bahwa pendidikan tinggi untuk perempuan memang penting. Aku yakin. Tidak ada kalimat “perempuan untuk apa sekolah tinggi, nanti juga di dapur akhirnya.” Itu hanya bualan, di dapur atau tidak perempuan layak mendapat pendidikan hingga sarjana. Semua orang pasti didapur, semua orang butuh makan. Jika tidak dari dapur dari mana makanan itu.

Aku ingin menjadi seseorang yang kehadirannya bukan hanya menambah ramai, tetapi menambah nilai. Aku ingin melihat diriku bukan sekadar memegang ijazah, tetapi memegang kendali atas pilihan hidupku. Aku ingin pulang ke kerumah dan menjadi yang pertama untuk memulai perubahan kecil di sana. Mulai menurunkan generasi yang berpendidikan tinggi. Pendidikan tinggi adalah kunciku untuk membuka pintu itu, pintu yang akan membawaku keluar dari batasan-batasan dan menuju sebuah kehidupan di mana aku bisa memberi dan mencipta, bukan hanya menerima. Aku tidak ingin menjadi pengecualian, aku ingin menjadi standar baru.

Kini tantangannya adalah bagaimana mewujudkan impian itu di tengah keterbatasan dan banyaknya pertanyaan di benakku. Tapi Akan aku usahakan, aku tidak akan berhenti apalagi menyerah, aku akan belajar, aku akan mencari informasi sebanyaknya dan aku yakin aku bisa.

Sebab, impian ini bukan hanya tentang ambisi pribadi, melainkan janji pada orang paling berharga dalam hidupku. Ya.. Ibu. Membayangkan, menjadi yang dibanggakan, berada di posisi teratas, disanjung dan dihormati adalah fakta yang tak terelakkan karena itulah hasil yang akan aku dapat jika berusaha keras. Tapi itu semua tidak sebanding dengan tatapan bangga dari Ibu. Ia lah alasan aku ingin mencari banyak jalan untuk sukses. Aku tahu, jalannya akan berliku, namun aku yakinkan diriku sendiri, semua rintangan hanyalah batu pijakan yang harus kulewati. Fokus, aku hanya perlu fokus, dan aku akan mewujudkannya.(*)

Oleh Anggi Agastya Mega Aristiantini