MARAKNYA PENGGUNAAN BAHASA TOXIC DI KALANGAN MAHASISWA

Bahasa toxic di kalangan mahasiswa kini menjadi hal yang semakin sering terlihat, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Banyak mahasiswa menggunakan kata-kata kasar seperti anjir, anjing, anjay, dan sebagainya. Parahnya, mereka menganggap ini sesuatu yang keren dan gaul. Padahal kebiasaan ini sangat tidak mencerminkan sebagai seorang mahasiswa.

Dampak dari bahasa toxic tidak hanya merusak citra diri, tetapi juga dapat merusak kesehatan mental dan hubungan sosial. Kata-kata yang menyakitkan berpotensi menurunkan rasa percaya diri, memicu perundungan, bahkan menciptakan lingkungan yang kurang nyaman. Media sosial memperkuat pengaruh ini karena mahasiswa merasa lebih bebas berbicara tanpa memikirkan akibatnya, sehingga penyebaran bahasa toxic makin sulit dikendalikan.

Untuk mengatasi masalah ini, menurut saya, kesadaran diri dan edukasi mengenai etika berkomunikasi perlu diperkuat dari diri sendiri. Kita harus sadar bahwa hal itu sama sekali tidak mencerminkan kita sebagai mahasiswa. Dengan membiasakan komunikasi yang positif dan saling menghargai, mahasiswa dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif dan nyaman.

Nama: Fairuz Dava Maulana

NIM: 2502020161

Rombel: 5