Dampak buruk pada limbah fashion bukanlah suatu hal baru lagi untuk diperbincangkan, perkembangan zaman yang semakin maju yang berpengaruh trend gaya berpakaian yang terus berganti- ganti. Hal tersebut menyebabkan fenomena fast fashion atau pemakaian pakaian jangka pendek yang memberi penggaruh maupun dampak yang besar terhadap lingkungan. akibat dunia industri fesyen yang terus menyumbang limbah tekstil menyebabkan pencemaran air yang dapat merusak ekosistem laut, sampah tekstil yang sulit terurai dapat mengakibatkan pencemaran tanah, dan asap pabrik yang dihasilkan pada proses pewarnaan dapat mengakibatkan polusi udara.
Di Amerika sendiri diperkirakan telah menyumbang sekitar 11,3 juta ton limbah tekstil atau setara dengan 85% dari seluruh tekstil berakhir di tempat pembuangan akhir setiap tahunya . jumlah ini setara dengan sekitar 81,5 pon (37 kilogram) yang dihasilkan setiap orang per tahun dan sekitar 2.150 lembar per detik diseluruh negeri.
Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi penulis yang berkembang di industri fesyen, sekaligus menyadari untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan limbah yang terjadi akibat limbah fesyen. langkah untuk mewujudkan harapan tersebut maka penulis menggolah limbah perca yang diproduksi untuk membuat produk busana menjadi sebuah lembaran kain melalui teknik jahit tindas (Quailting) dan memanfaatkan sebuah media berupa plastic biogradeadible yang merupakan kantung plastik berbahan dasar dari pati ubi kayu atau zat tepung singkong yang bernama telo roll bag. Yang bersifat water soluble atau polimer plastik yang mudah larut dalam air, dan dalam penggolahan limbah perca kain pemanfaatanya sebagai media pelapis dapat membantu dalam pembuatan karya seni.
Dalam mewujudkannya, hal pertama yang perlu dilakukan oleh penulis adalah dengan mencari informasi terkait karya yang akan dibuat denggan mempelajari jenis-jenis kain perca yang dapat digunakan. Dalam proses ini, mencari teknik- teknik yang membantu dalam proses pembuatan karya, dengan ini penulis dapat merumuskan langkah-langkah yang perlu diketahui dalam mengelola limbah perca kain dengan teknik jahit tindas pada kain perca yang dilapisi dengan media telo bag.
Langkah selanjutnya penulis perlu menentukan rancangan desain, bentuk, dan bahan yang akan digunakan, lalu membuat motif dari hasil potongan sisa kain perca menjadi suatu bentuk tertentu seperti sebuah polkadot, kotak, kotak, segiiga dan sebagainya, serta tak hnya menggabungkan sisa kain perca saja tetapi dipadukan juga dengan limbah benang tak terpakai.
Setelahnya kain perca tersebut dapat disusun pada lembaran telo bag sesuai dengan sketsa desain yang telah ditentukan dan diberi lapisan telo bag setelah disusun, lalu jahit menjelujur perca yang ada pada lapisan telo bag untuk memastikan pola kain perca yang telah disusun tidak terlepas dan dapat dilanjutkan ke tahap menjahit menggunakan teknik jahit tindas higga jahitan tersebut dapat memenuhi seluruh lapisan telo bag.
Langkah terakhir yang perlu dilakukan adalah mengaplikasikan teknik merebus lembaran telo bag yang telah dijahit tindas ke dalam air mendidih selama 15 menit hingga telo bag tersebut larut dalam air dan menjadi sebuah lembaran kain baru yang dihasilkan oleh limbah perca kain. sehingga setelah proses perebusan lembaran kain baru dapat dijemur dan dapat diolah menjadi suatu produk fesyen baru yang dapat digunakan kembali.
Pembuatan water soluble yang dihasilkan melalui sisa limbah perca kain industri fesyen ini dilakukan berdasarkan mengalaman pribadi penulis, yang sebelumya sadar akan perkembangan di industri fesyen yang terus berkembang dan menyebabkan fenomena fast fashion, yang dimana penggunaan pakaian dalam jangka waktu yang pendek sehingga produksi hasil pabrik dan konveksi pakaian terus-menerus menghasilkan produk baru dan menghasilkan sisa kain yang terbuang begitu saja yang akhirnya berdaampak pada kerusakan lingkungan yang dihasilkan oleh limbah pada industri fesyen.
Dengan melakukan tindakan ini, pelulis berharap agar upaya yang dilakukan dapat menjadi sebuah kegiatan positif dan salah satunya dapat ikut serta menggurangi penumpukan dan pencemaran limbah . Hal ini dapat menjadi inspirasi dan mengajak masyarakat lainya secara tidak langsung untuk menyadari dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi. Pembuatan water soluble sendiri dilakukan dengan memanfaatkan sebuah perca, lalu membuat sebuah pola motif pada kain percaa yang dilapisinya dengan telo bag dan di jahit menggunakan teknik jahit tindas (quilting), sehingga menghasilkan lembaran kain baru yang dapat digunakan untuk membuat suatu produk baru.
Telo bag telah menunjukan potensi yang luar biasa sebagai sebuah material yang dapat diolah kembali menjadi sebuah lembaran kain, dengan menggunakan telo bag kita dapat menggubah masalah lingkungan menjadi solusi yang berkelanjutan. Dengan pengalaman praktik pembuatan watersoluble ini, penulis berharap dapat mendorong Telo bag agar dapat digunakan oleh banyak masyarakat terutama dalam industri fesyen yang nantinya dapat memberikan dampak positif di masa depan baik bagi lingkungan dan kualitas hidup masyarakat.(*)
Oleh Alisa Salsabila