Pukul Tiga

Oleh Aninditha Sekar Syifarani 

“Kau percaya tidak kalau gedung itu benar-benar memiliki kisah seram?” 

Begitulah ucap temanku Nana, yang berbadan sedikit lebih tinggi daripadaku itu, tanpa takutnya menunjuk gedung pertunjukan itu, gedung Teater Keong Mas. Mengapa tiba-tiba dia berucap seperti itu? Tentu saja, karena kami sedang berjalan-jalan, sudah banyak sekali tempat yang kami kelilingi tiap ke mari, namun tetap saja gedung itu selalu kami hindari. Dari hawanya saja sudah memberikan aura yang mencekam, begitu pikirku. Namun kali ini, temanku itu dengan jelas berucap seperti itu.

“Ya, aku sih percaya saja. Mengapa memangnya?” Tanyaku kepada Nana. “Kau tahu? Dulu aku pernah dengar cerita bahwa ada film yang ditayangkan tiap pukul tiga. Namun, film itu sudah tidak ada lagi. Katanya, banyak yang menganggap bahwa ceritanya cukup mengganggu mental penontonnya,” ucap Nana sambil memandangi Teater Keong Mas itu. Aku mengangguk paham sambil memperhatikan sekitar gedung itu dan melihat sesosok pria paruh baya yang memandangiku. Aku membuang muka dan melihat ke arah Nana yang melanjutkan kalimatnya.

“Tapi katanya, film itu bisa tiba-tiba terputar jika jadwal penayangan pukul tiga kosong. Kebetulan jadwalnya sudah kuperiksa dan ya… kosong. Mau coba menyelinap?” Omongan dengan kekehan ringannya itu aku anggap serius, dan memang Nana suka sekali dengan hal mistis. Namun kali ini, entah mengapa ia ingin mencobanya. Aku yang memikirkan omongannya kembali melihat ke arah pria paruh baya tadi. Ia menggelengkan kepalanya, seakan-akan melarangku untuk ke sana. Aku menghiraukan kakek itu dan tersenyum masam ke arah Nana, “Hm.. Baiklah.” 

Kami pun mulai berjalan mendekati gedung Teater Keong Mas itu. Semakin dekat, suasana terasa semakin sunyi, padahal di luar area tadi masih terdengar riuh pengunjung. Entah mengapa, seperti ada batas tak kasat mata yang memisahkan keramaian dan kesunyian ini. Aku merapatkan cardigan yang kukenakan, sementara Nana justru terlihat semakin bersemangat. 

Kami berjalan mengendap-endap menghindari penjaga yang berkeliling, sehingga kami menemukan pintu samping yang sedikit terbuka. Nana mendorongnya perlahan, menimbulkan bunyi berderit panjang yang menggema di dalam ruangan. Gelap. Sedikit cahaya dari luar yang masuk. “Ayo, aku sudah tidak sabar!” bisik Nana bersemangat. Aku ragu sejenak, lalu mengikuti langkahnya masuk ke dalam, karena pikirku, memang hal seburuk apa yang dapat terjadi?

Di dalam, kursi-kursi teater tersusun rapi, dipenuhi debu. Layar besar di depan tampak kusam. Tidak ada petugas yang memutar film di atas dan tidak ada penonton. Kosong, terlalu kosong serta hampa rasanya. Kami berjalan pelan menuruni tangga menuju kursi tengah. Setiap langkah kaki kami terasa terlalu keras di ruangan itu. Tiba-tiba, lampu yang redup mati sendiri. Aku terlonjak kaget. “Na, ini normal, kan?” tanyaku pelan. Nana tidak menjawab. Matanya tertuju ke layar. Beberapa detik kemudian, layar itu berkedip… lalu menyala.

Film mulai diputar tanpa suara pembuka. Gambarnya buram, seperti rekaman lama. Terlihat banyak sekali orang berkumpul di sana sedang bermain peran, seperti cerita teater pada umumnya. Namun, ekspresinya menggambarkan kesedihan, kesengsaraan mendalam. Hingga tiba-tiba di suatu adegan, mereka terdiam. Tidak bergerak. Suasana menjadi semakin mencekam. Aku mulai merasa tidak nyaman. “Na, kita keluar saja yuk?” bisikku. Namun Nana tetap diam, seperti terpaku. Tiba-tiba, terasa hawa sejuk mengelilingi sekujur tubuhku hingga rasanya merinding; bulu kudukku berdiri. Nana tidak bereaksi apa pun.

Aku menoleh ke arah Nana, mencoba menggoyangkan lengannya pelan. “Na…?” suaraku bergetar. Namun, ia tetap menatap layar tanpa berkedip; wajahnya datar, seolah kehilangan kesadaran. Di saat yang sama, aku mulai menyadari sesuatu yang aneh: orang-orang di layar itu perlahan bergerak lagi… tetapi kali ini, mereka semua menoleh ke arah yang sama. Ke arah kami. 

Jantungku berdegup semakin cepat. Satu per satu, sosok di layar itu melangkah maju, mendekati layar, seolah-olah jarak di antara kami dan mereka semakin menipis. Wajah mereka kini terlihat lebih jelas, pucat, kosong, sengsara dengan tatapan yang terasa menembus. Aku mengernyitkan dahiku ketakutan dengan napasku yang mulai tersengal-sengal. Tanganku masih menggenggam lengan Nana yang terasa dingin.

Tiba-tiba terdengar suara berdesis pelan dari segala arah. Bukan dari layar saja, tapi seperti berasal dari seluruh ruangan. Aku menoleh panik, mencoba mencari sumber suara itu. Namun nihil, tiba-tiba saja layar kembali berkedip keras, lalu menampilkan sosok pria paruh baya yang tadi kulihat di luar. Kali ini ia berdiri di tengah “panggung” dalam film itu. Perlahan, ia mengangkat tangannya, memberi isyarat seperti menyuruh diam. Suara desisan langsung berhenti. Ruangan menjadi sunyi yang terasa menekan.

Dalam keheningan itu, suara berat pria itu terdengar, meski bibirnya tidak bergerak. “Kalian… tidak seharusnya menonton.” Seketika lampu menyala sangat terang, membuatku refleks menutup mata. Saat kubuka kembali, layar sudah gelap… dan Nana tidak ada di mana pun. Aku berlari keluar sambil melihat layar sekilas. Aku merasa bahwa Nana di layar itu menatapku dengan tatapan sedih. Keluar dari Teater Keong Mas itu, langit keemasan menyambutku dan aku segera pulang ke rumah. Sampai di rumah, aku membaca notifikasi chat dari Nana.

“Aku hari ini diajak keluargaku ke luar kota. Kita ke TMII-nya kapan-kapan saja ya?”(*)