Catatan Lidah dari Blora

Oleh Aura Suci Cahya Billah

Meski Blora bukan tempat lahir saya, Blora tetaplah rumah yang sering saya rindukan. Pemandangan pohon jati atau sawah pada setiap jalan, udara yang berangin meski panas, serta suasana yang damai dan tenang bahkan di pusat kotanya. Blora merupakan tempat yang memberikan saya banyak pengalaman. Apalagi makanan dari Blora, rasa asin dan pedas yang mendominasi pada setiap hidangan, sungguh membuat saya rindu.

Saat pindah ke Blora, tante saya langsung mengajak kami ke pusat kota, tepatnya di pusat kuliner di depan Makam Sunan Pojok. Karena posisinya sangat strategis, yaitu masih di sekitar alun-alun, tempat ini cukup ramai. Berderet berbagai macam warung makanan khas Blora beserta beberapa meja dan kursi untuk tempat makan.

Tante mengarahkan kami untuk mencoba soto klethuk. Awalnya saya bingung, kenapa namanya soto klethuk? Apa bedanya dengan soto lainnya? Saat disajikan, soto tersebut terlihat layaknya soto pada umumnya. Terdapat soun, tauge, suwiran daging ayam, dan telur rebus yang dibelah. Kecuali pada topping berbentuk kotak dadu dan berwarna cokelat layaknya sudah digoreng.

Iku tela goreng, Ndhuk Cik. Enak kok, jal dimaem sik,” tawar Tante yang saya balas anggukan.

Saya mencoba makan topping tersebut. Akhirnya saya mengerti kenapa soto tersebut dinamakan soto klethuk. Rasanya asin gurih seperti singkong dibumbu dengan kunyit dan garam, namun teksturnya saat dikunyah terdengar ‘klethuk’ karena digoreng garing. Selain itu, rasanya layaknya soto pada umumnya. Saya pun menghabiskan satu porsi itu. Tante benar, soto klethuk rasanya memang enak.

Setelah menetap di Blora, saya menyadari bahwa ada tradisi bernama Sedekah Bumi. Sedekah Bumi atau Gas Deso ini diadakan setelah panen atau pada bulan Selo. Susunan acaranya terbagi menjadi beberapa bagian. Pada pagi sampai siang terdapat rangkaian acara kirab gunungan dan bancakan di balai desa atau tempat sakral desa. Lalu di siang hari akan ada silaturahmi. Teman dan kerabat akan datang ke rumah kita.

Setiap rumah biasanya akan menyajikan sayur lodeh merah dengan rasa gurih pedas berisi nangka muda dan kacang panjang. Disajikan juga beberapa jajanan pasar, namun yang paling menjadi favorit adalah dumbeg, kue bugis, dan kue pasung. Dumbeg terasa manis dan legit karena terbuat dari tepung beras dan gula jawa, dibungkus menggunakan janur dengan bentuk mengerucut seperti terompet lilit. Kemudian ada kue bugis, yaitu kue basah dari tepung ketan berisi parutan kelapa dicampur gula jawa dan dibungkus menggunakan daun pisang.

Menurut saya, kue yang paling unik adalah kue pasung. Terbuat dari tepung beras dan gula merah, lalu dibungkus dengan mengerucut menggunakan daun pisang. Namun, kue pasung tidak hanya terasa manis seperti kue lain; ia sedikit terasa masam dan memiliki tekstur seperti kue apem. Sedekah Bumi kemudian ditutup dengan pertunjukan seni seperti wayang kulit, ketoprak, atau barongan, tergantung keinginan masyarakat desa.

Kuliner Blora tidak hanya sampai di situ; masyarakat masih melanjutkan beberapa kuliner ekstrem. Salah satunya adalah aneka ragam olahan entung. Entung atau ulat pohon jati ini berbentuk kepompong dan berwarna cokelat. Entung yang dikenal sebagai sumber protein tinggi ini tidak tersedia setiap saat. Mereka hanya muncul pada awal musim hujan sekitar dua minggu saja.

Bapak dan nenek saya termasuk masyarakat yang masih melestarikan kuliner tersebut. Pada saat musim muncul entung, Bapak tidak mengumpulkannya sendiri. Namun, membeli dari penjual di pasar atau anak kecil iseng untuk menambah uang saku. Dalam skala penjual, mereka menjual dalam hitungan kilo dan plastik kresek. Namun, pada skala anak-anak, mereka hanya menjual dalam hitungan gelas minuman kemasan bekas.

Pada saat itu, Bapak mengolah entung dengan ditumis. Bumbunya sederhana saja: bawang merah, bawang putih, cabai, garam, micin, dan kecap. Lalu bapak menyantap tumis entung tersebut bersama nasi putih hangat lengkap dengan kerupuk. Kombinasi makan yang umum jika lauk entung diganti dengan tumis kangkung dan sebagainya.

Saat melihat Bapak makan, saya jadi penasaran apakah seenak itu sampai Bapak lahap sekali makannya. Sepertinya Bapak juga menyadari bahwa saya sedang memantau. Bapak kemudian menoleh dan menawarkan sesuap nasi lengkap bersama beberapa entung tumis dan kerupuk.

Enak, jajal sik ngko nek gak doyan lepeh ae,” ucap bapak sambil hendak menyuapi saya.

Karena penasaran, saya pun menerima suapan Bapak, masuklah nasi dan entung tersebut ke mulut saya. Selain rasa nasi dan bumbu yang hadir, lidah saya mengenali tekstur dan rasa yang sama layaknya entung ini. Meski kulit luarnya sedikit renyah, bagian dalamnya terasa lembut dan seret seperti kacang hijau.

Setelah melihat saya menelan, Bapak terlihat sedikit terkejut karena saya doyan. Pasalnya, ibuk saja melihat entung sudah geli, apalagi memakannya. Bapak juga terlihat senang dan bersemangat menyuapi saya lagi. Padahal bapak jarang menyuapi saya makan, lebih-lebih di umur sembilan tahun. Pada dasarnya, saya juga tidak terlalu suka kacang hijau. Acara makan entung tersebut terhenti pada suapan ketiga. 

Namun, musibah terjadi saat malam hari ketika entung tersebut sudah tercerna. Muncul bentol-bentol gatal di kulit saya. Awalnya saya pikir itu hanya karena nyamuk biasa. Namun setelah ibuk melihat bentol yang semakin banyak beliau langsung mengajak saya berobat ke tetangga, yang merupakan bidan desa. Benar saja, saya alergi terhadap entung. Setelah mendengar omelan, ibuk kami sekeluarga sepakat agar bapak saja yang menikmati hidangan ekstrem tersebut.

Pada akhirnya, kuliner Blora bukan hanya sekadar rasa asin dan pedas saja, melainkan juga tentang bagaimana masyarakat menghargai alam dan melanjutkan tradisi yang ada. Setiap suapan soto, kue pasung, bahkan entung musiman rasanya mengingatkan saya akan kedamaian kabupaten ini. Blora selalu memiliki tempat di hati saya sebagai tempat yang memberikan saya banyak rasa dan sejuta kenangan.(*)