Oleh Anggraini Pratiwi
Salatiga bukan sekadar tempat singgah bagiku, melainkan tempat aku tumbuh dan menghabiskan masa kecilku hingga saat ini. Kota yang berada di kaki Gunung Merbabu itu selalu memiliki cara untuk menenangkan setiap orang dengan udara sejuknya yang tak pernah berubah. Sejak kecil, aku sudah terbiasa dengan suasana kota yang tenang, asri, dan sangat bersahabat bagi siapa saja yang tinggal di dalamnya.
Bagiku, Salatiga bukan sekadar kota kecil membosankan yang tidak memiliki banyak tempat berkesan untuk dikunjungi. Padahal di sinilah aku mulai membentuk momen-momen yang terangkai rapi dalam ingatan. Hari-hari aku habiskan bersama mereka yang sangat kusayangi. Setiap sudut kota memiliki cerita, dan setiap cerita selalu melibatkan seseorang di dalamnya.
Sebagai orang asli Salatiga, aku sangat bangga dengan julukan Kota Toleransi yang diberikan pada tanah kelahiranku ini. Aku tumbuh besar dengan melihat betapa indahnya keberagaman di sini, di mana kami hidup berdampingan dengan tentram dan damai. Setiap sudut jalan dan bangunan kolonial yang ada seolah menjadi saksi bisu pertumbuhanku dari masa kanak-kanak hingga menjadi remaja.
Kenanganku bermula di Lapangan Pancasila, jantung kota yang selalu menjadi tempat yang sering aku datangi bersama keluarga maupun teman-temanku. Aku ingat betul rasanya berlarian di atas rumputnya yang luas atau sekadar duduk santai sambil menikmati jajanan dari pedagang kaki lima yang berderet rapi. Di tempat inilah aku melihat banyak sekali kebersamaan dari setiap orang yang lalu lalang, seperti dengan pasangannya, keluarganya, dan teman-temannya. Aku juga sering berolahraga disana sambil menghirup udara segar dipagi hari. Dimalam hari suasananya lebih ramai lagi, apalagi pada malam minggu.
Saat ada waktu luang, aku bersama keluargaku sering melangkahkan kaki menuju Jalan Jenderal Sudirman yang merupakan pusat dari kota kami. Sebagai warga lokal, aku sudah sangat akrab dengan deretan toko dan bangunan lainnya. Disana adalah tempat perdangan dan kuliner. Makanya setiap hari selalu ramai dengan hiruk pikuk orang-orang yang menawarkan dagangannya dan orang yang sedang berbelanja. Berjalan kaki di trotoarnya sambil melihat mereka sibuk saling bertegur sapa dengan ramah meskipun tidak mengenal satu sama lain memberikan rasa hangat dan damai dalam lubuk hatiku.
Aku juga sering berjalan santai menuju Pohon Pengantin di daerah Pulutan. Pohon tunggal yang berdiri kokoh di tengah hamparan sawah ini adalah tempat yang menurutku cocok untuk memulai hari atau melepas penat setelah seharian beraktivitas pada sore harinya. Duduk di batang pohon sambil menatap Gunung Merbabu dan menikmati matahari terbenam selalu berhasil mengingatkanku untuk selalu bersyukur bisa menikmati indahnya alam di tempat ini.
Tempat lain yang menjadi bagian tak terlupakan di kota kelahiranku adalah Mata Air Senjoyo. Aku baru mengunjunginya ketika duduk dibangku SMA bersama kakakku. Tempat ini adalah tujuan yang tepat jika ingin merasakan kesegaran air alami yang mengalir langsung dari perut bumi. Aku ingat betul keseruan saat kami bermain air di kolam-kolamnya yang jernih dan sangat dingin, sambil menikmti berbagai macam makanan dan minuman yang dijual disana. Sebuah pengalaman yang selalu membuatku rindu untuk kembali ke sana karena sekarang kami jarang memiliki waktu bersama.
Salatiga juga merupakan surga kuliner. Aku memiliki beberapa tempat makan yang pernah kukunjungi. Salah satunya adalah menikmati Sate Sapi Suruh dan Bakso, berada di Pasaraya 2, Jl. Jend. Sudirman. Bumbunya sangat meresap dan dagingnya begitu empuk. Bagiku, menikmati makanan ini bukan hanya soal rasanya, tetapi juga kenangan makan bersama keluarga atau teman-teman dekat di tengah dinginnya udara kota.
Selain makanan, aku juga pernah mampir ke kedai Ronde Sekoteng Jago yang sudah sangat legendaris di pusat kota. Aroma jahe yang kuat dan kuah ronde yang manis selalu menjadi teman setia saat hawa malam terasa semakin dingin. Duduk di kedai itu sambil berbagi tawa bersama orang-orang terkasih adalah saat-saat di mana aku merasa benar-benar berada di rumah yang sesungguhnya.
Bagiku, setiap jengkal tanah di kota ini menyimpan potongan cerita yang sangat berharga dalam hidupku. Mulai dari Lapangan Pancasila tempatku bermain hingga Pohon Pengantin dan Senjoyo tempatku untuk melepas lelah, ditutup dengan menyantap hidangan yang memiliki cita rasa yang tidak perlu diragukan lagi. Meskipun tempat-tempat tadi tidak sebagus dan terkenal seperti tempat lainnya tapi aku masih bisa merasakan kesenangan tersendiri. Setiap sudut di kota ini telah mengajarkanku tentang kesederhanaan, ketulusan, dan betapa berharganya sebuah tempat tinggal yang penuh dengan kedamaian.
Salatiga akan selalu menjadi tempat pertama yang ingin aku tuju untuk pulang. Semua pengalaman yang aku lalui di tanah kelahiranku ini tidak akan pernah pudar dari ingatanku. Setiap tempat di kota ini telah mempunyai ceritanya sendiri dan akan selalu menjadi bagian dari hidupku selamanya. Sampai kapan pun tempat itu akan selalu menjadi hal yang tak terlupakan, karena di setiap tempat di Salatiga selalu ada kenanganku bersama orang-orang yang penting dalam hidupku.(*)