Kenangan Berharga di Stadion Mochtar

Oleh Damar Jagat Arso Kusuma

Stadion Mochtar yang kita lihat sekarang adalah hasil renovasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang pada 2021, agar tempat ini tetap terlihat megah tanpa retak di tembok yang mengganggu mata ketika melihatnya. Dengan merogoh hampir delapan miliar, cukup membuat stadion kebanggaan warga Pemalang bisa menampung 8.000 penonton sekaligus dalam satu pertandingan.

Begitu sampai di depannya, kita disambut gapura megah dengan kayon pewayangan besar di atasnya. Sinar matahari sore menembus lubang-lubang pada kayu, membentuk pola-pola abstrak pada dinding-dinding beton penutup area hijau. Saat memasuki dinding penghalang itu, kita melihat area hijau yang dikelilingi karpet merah di sampingnya dan ditutup melingkar oleh beton-beton dengan bangku dan tangga berwarna merah dan biru.

Menjelang petang, tempat ini semakin sesak dengan langkah kaki. Para anak muda yang sedang mengejar lari 12 menit agar mendapatkan masa depan yang lebih baik dengan masuk akademi, bersanding dengan orang tua yang hanya sekadar melepaskan keringat agar tubuh tuanya tetap bugar menghadapi hari tua. Saat melangkah meninggalkan stadion, tercium aroma bakso dan jagung bakar seolah menjadi hadiah kecil bagi setiap keringat yang menetes pada karpet merah.

Saya memiki banyak sekali kenangan di tempat ini. Melompat ke 8 tahun sebelumnya, pada saat saya masih duduk di kelas 5 SD. Ibu saya memberikan tawaran yang sangat menarik bagi saya, yaitu mengikuti sekolah sepak bola. Mungkin Ibu saya lelah mencuci baju yang kotor karena terkena tanah merah setiap saya bermain sepak bola bersama teman-teman di sore hari.

Tentu saja saya menerima tawaran itu dengan senang hati. Singkatnya, hari pertama saya ikut sekolah sepak bola ini pun tiba. Duduk di belakang bapak yang mengendarai sepeda motor, saya sudah memakai peralatan tempur saya. Mulai dari baju timnas Belanda dengan nama Arjen Robben, kaus kaki panjang, dan sepatu hitam yang dibelikan ibu saya sehari sebelumnya.

Setelah berkendara selama 15 menit, kami pun sampai di depan tempat kebanggaan warga Pemalang ini. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Stadion Mochtar yang kita lihat sekarang dengan Stadion Mochtar yang saya datangi untuk mengikuti sekolah sepak bola pertama kalinya sangat berbeda. Delapan tahun lalu, bangunan ini terasa begitu usang dengan retakan-retakan pada dinding beton dan lapangan yang sebagian berlubang.

Pertama kali masuk ke dalam, sudah ada banyak anak yang berdiri untuk melakukan pemanasan. Terdapat dua kelompok dalam setiap latihan yang dilatih oleh pelatih yang berbeda. Pada saat melihatnya, saya bertanya dalam hati, “Kenapa dibagi jadi dua gini?”. Tapi setelah dijelaskan ketika kami mendaftar, dalam SSB Bina Liga terdapat satu kelompok yang dibuat untuk persiapan turnamen-turnamen yang akan dihadapi ke depannya.

Di hari pertama saya mengikuti latihan, rasa takut justru lebih dominan daripada rasa senang; takut karena ini baru pertama kalinya bagi saya mengikuti latihan dan takut kalau nanti saya salah dalam melaksanakan instruksi pelatih. Tetapi pada hari itu saya bisa mengikuti instruksi dengan lancar. Pada latihan kedua dan ketiga pun saya bisa melaluinya dengan sangat baik.

Pada latihan keempat, saya didatangi oleh coach Albet, pelatih yang bertanggung jawab untuk melatih dan mempersiapkan anak-anak untuk mengikuti turnamen. Rasa kaget, senang, bangga, sekaligus takut menjadi satu. Senang dan bangga karena hanya dalam 3 kali latihan, saya langsung dipromosikan ke kelompok yang disiapkan untuk mengikuti turnamen. Tetapi rasa senang dan bangga juga diikuti dengan rasa takut. Rasa ini muncul karena saya tahu teman-teman yang berada pada kelompok ini memiliki skill yang sudah di atas rata-rata.

Satu bulan setelah mengikuti latihan bersama, kami mengikuti turnamen yang dilaksanakan di Stadion Mochtar. Pada turnamen ini, saya langsung dimainkan hampir dalam setiap pertandingan. Pada semifinal, kami bertemu sekolah sepak bola dari kota lain. Kami bermain imbang tanpa gol pada waktu normal, sehingga dilanjutkan ke babak adu penalti. 

Coach Albet menyebut satu per satu nama yang akan menendang bola dari titik putih. Nama pertama, kedua, dan ketiga disebut. Ada banyak nama yang sudah mengikuti pertandingan dan turnamen bersama tim ini. Setelah menyebutkan nama penendang ketiga, ia menyebut sambil menunjuk bocah yang baru satu setengah bulan untuk menendang bola keempat bagi tim kami. Kemudian dilanjutkan dengan menyebut nama penendang kelima.

Kelima anak yang disebut dikumpulkan, kemudian Coach Albet memberi beberapa saran untuk kelima anak ini. Penendang pertama dan kedua berhasil menceploskan bola ke gawang dengan baik. Namun, pada penendang ketiga, tendangannya berhasil ditepis oleh kiper lawan. Sementara itu, semua penendang lawan berhasil memasukkan bola ke gawang.

Selagi berjalan menuju kotak penalti, saya diliputi rasa takut. Karena jika tendangan ini saya tidak bisa memasukkan bola ke gawang, kami dipastikan kalah. Sementara jika saya berhasil mencetak gol, kami masih mempunyai harapan. Bola sudah ditata. Wasit meniup peluit menandakan saya harus segera menendang bola. Menendang ke tengah dengan kencang menjadi opsi terakhir, selain untuk menghindari bola melebar dari gawang, kiper lawan dari ketiga tendangan juga tidak pernah berdiam diri di tengah.

Bola saya tendang sekuat tenaga menuju ke tengah gawang. Namun, karena terlalu bertenaga, bola justru melambung. ‘DARRR!’ Bunyi keras hantaman bola pada tiang gawang seketika membuyarkan harapan kami. Di saat dunia terasa berhenti, para pemain lawan justru berlari merayakan kemenangan.

Tim kami pun dipastikan kalah. Walau penendang terakhir menendang, kami tidak bisa mengejar gol yang musuh lesatkan. Berakhirlah perjalanan kami di turnamen ini. Saya merasa sedih dan bersalah karena saya membuat tim kami kalah. Tetapi semua rekan tim saya memeluk dan menyemangati bahwa ini bukan akhir dari semuanya; masih banyak turnamen-turnamen selanjutnya yang bisa kami menangkan.

Itulah hal yang tidak mungkin saya lupakan di tempat ini, tempat yang membentuk mental, tempat yang mengajarkan arti kekalahan. Meskipun menyedihkan, kenangan ini menjadi indah jika dikenang sekarang. Anak yang baru satu minggu mengikuti latihan langsung diminta siap untuk mengikuti turnamen-turnamen. Rasa bangga diakui meskipun hasil pertama yang didapat mengecewakan.(*)