Merah Buah Naga, Hangat Secangkir Kopi

Oleh Fathin Averyane Ramadhani

Liburan itu dimulai dengan perjalanan pagi yang terasa begitu hidup, penuh tawa kecil yang mengisi ruang mobil, seolah tak ingin memberi celah bagi kesunyian. Aku duduk di kursi belakang mobil bersama adikku, sesekali saling bertukar cerita yang tak penting namun terasa begitu berarti. Sedangkan Ayah menyetir dan Ibu sesekali menoleh ke belakang memastikan kami baik-baik saja, menunjukkan tatapannya yang selalu hangat, seperti rumah yang ikut kami bawa dalam perjalanan itu. Udara terasa lebih segar dan entah kenapa, hatiku ikut terasa ringan.

Aku memalingkan wajah menatap jendela, melihat hamparan hijau yang semakin luas saat kami menjauh dari kota. Pemandangan itu seperti lukisan yang bergerak pelan, menenangkan tanpa perlu berkata apa-apa. Tujuanku hari itu sederhana, yaitu menikmati liburan di Kebun Kopi Jolong dan melihat hamparan Bukit Buah Naga. Melihat indahnya alam yang asri dan menyatu dengan alam untuk sesaat. Tapi entah mengapa, jauh di dalam hati, rasanya lebih dari sekadar perjalanan. Seperti ada kerinduan yang ingin dipenuhi, sesuatu yang ingin ditemukan kembali.

Sesampainya di sana, aku langsung disambut oleh barisan pohon kopi yang tertata rapi, seolah-olah menyambut kedatanganku dengan diam yang ramah. Aroma kopi yang khas langsung tercium, lembut tapi menenangkan seperti pelukan yang tak terlihat. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menyimpan aroma itu dalam ingatan. Membuatkan satu klip khusus untuk menjadikannya sebuah kenangan yang kelak ingin kuingat kembali. Kami berjalan bersama menyusuri jalan setapak kecil di antara pohon-pohon kopi. Adikku berlari kecil di depan, penuh rasa ingin tahu, sesekali berhenti karena penasaran melihat buah kopi berwarna merah. Aku dan Ayah mengikuti di belakang; langkah kami lebih pelan, menikmati setiap detik. Sementara Ibu sibuk mengabadikan momen dengan ponselnya. Mungkin karena beliau tahu, waktu seperti ini tak selalu datang dua kali.

Menatap hamparan pohon kopi yang lebat. Daun-daunnya hijau pekat dan di beberapa ranting, buah kopi merah terlihat menggoda. Seorang petani yang sedang bekerja tersenyum padaku, menghampiri kami lalu mengajak kami untuk mencoba memetik kopi sendiri. Awalnya aku ragu, takut merusak, takut salah, tapi akhirnya aku ikut mencobanya. Aku yang penasaran langsung mencobanya, diikuti oleh Ayah . Saat tanganku menyentuh buah kopi yang matang, ada perasaan aneh, semacam kepuasan sederhana. Aku memetik beberapa buah dan memasukkannya ke keranjang kecil yang diberikan. Ternyata tidak semudah yang terlihat, tapi justru di situlah serunya. 

Tidak mudah memilih buah yang benar-benar matang. Kami tertawa bersama saat beberapa kali salah memetik. Adikku ikut mencoba, meskipun lebih sering bercanda daripada serius. Ibu hanya tertawa melihat kami, sesekali ikut memetik satu dua buah. Momen kecil itu terasa hangat tanpa perlu kemewahan, tanpa perlu sesuatu yang berlebihan. Setelah itu, aku diajak melihat proses pengolahan kopi. Dari buah merah yang baru kupetik, hingga menjadi biji kopi yang siap disangrai. Aku takjub melihat betapa panjangnya perjalanan secangkir kopi hingga dapat dinikmati. Selama ini, kopi hanya sekadar minuman. Tapi hari itu, aku melihat cerita di baliknya, tentang proses, tentang kesabaran, tentang kerja keras yang sering tak terlihat. Ayah juga terlihat sangat tertarik. Rasanya seperti membuka rahasia kecil yang selama ini tak pernah kupikirkan.

Menjelang siang, kami duduk di sebuah gazebo kayu yang menghadap langsung ke kebun. Angin berhembus pelan, membawa suara dedaunan yang saling berbisik. Secangkir kopi hangat tersaji untuk Ayah dan Ibu, sementara aku dan adikku menikmati minuman hangat lainnya. Aku menyeruput sedikit kopi milik Ibu secara perlahan. Rasanya berbeda. Ada sensasi yang lebih dalam yang muncul. Mungkin karena aku tahu asalnya. Mungkin juga karena aku ikut menjadi bagian kecil dari prosesnya. Ada kesenangan tersendiri karena apa yang dinikmati sekarang ini adalah hasil dari apa yang aku petik. 

Kami mengobrol santai, membahas hal-hal sederhana, dari cerita lucu adikku hingga kenangan lama keluarga dan hal-hal kecil yang justru terasa paling berharga. Waktu seperti berjalan lebih lambat, seolah memberi kami kesempatan untuk benar-benar hadir di momen itu. Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa suara daun yang saling bergesekan. Tak lama, aku berdiri dan mulai menyusuri lebih dalam kebun ini. Hingga ku melihat bukit kecil yang dipenuhi hamparan pohon buah naga.

Aku berlari mendaki jalan menanjak itu, menyusuri tanah yang basah akibat embun. Memandang pohon yang menjalar itu dan memperhatikan lekukannya. Tanaman itu menjalar dengan bentuk yang unik, seperti lukisan alam yang tak pernah selesai. Aku bersandar dengan kehati-hatian, menatap langit biru yang luas. Tidak ada suara bising kendaraan; tidak ada notifikasi ponsel yang mengganggu. Hanya aku, alam, secangkir kopi dan pohon menjalar itu.

Di momen itu, terlintas satu hal di pikiranku, bahwa kebahagiaan ternyata sesederhana ini. Duduk bersama keluarga, jauh dari kesibukan, menikmati waktu tanpa gangguan. Aku sadar bahwa liburan ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah jeda dari rutinitas, dari tekanan, dari segala hal yang membuatku lelah. Sebuah pelarian dari hiruk-pikuk kota. Sebuah ruang kecil di tengah kehidupan yang sibuk. Yang menjadi tempat aku bisa kembali mengenal diriku sendiri dan mengingat apa yang benar-benar penting.

Saat matahari mulai condong ke barat, kami berjalan perlahan kembali menuju mobil. Ada rasa enggan, tapi juga rasa syukur yang jauh lebih besar. Kebun Kopi Jolong bukan hanya memberiku pengalaman baru, tapi juga ketenangan yang selama ini kucari. Dan dalam hati, aku tahu ini adalah salah satu kenangan yang akan selalu kuingat bersama keluargaku.

Hari itu, aku tidak hanya membawa pulang foto-foto indah. Aku membawa pulang rasa. Dan sebuah kesadaran bahwa kebahagiaan sejati sering kali sudah ada di dekat kita, hanya saja kita terlalu sibuk untuk menyadarinya. Dan aku tahu, jauh di dalam hati, momen ini akan selalu hidup—menjadi cerita yang akan terus kuingat, tentang kopi, buah naga merah, dan keluarga yang selalu menjadi rumah.(*)