Malioboro dan Kamu

Oleh Intan Nuraini

Yogyakarta, 2024

Awan mendung terlihat menggumpal tebal di langit Kota Jogja. Minggu ini memang semakin sering hujan. Para tukang becak mulai menepi, menutupi becaknya agar tidak terkena air hujan. Satu per satu air hujan mulai menetes. Gerimis semakin deras, pengunjung kocar-kacir berlari sambil menutup kepala, dan barang-barang belanjaannya. Satu dua dari mereka mulai meneduh; beberapa memilih menerobos hujan dengan payung.

Di sela-sela itu, terlihat seorang gadis duduk di halte menunggu bus. Perempuan itu bernama Nura dan sibuk memainkan handphone-nya. “Huh… kapan busnya akan datang? Hujan juga semakin deras,” monolog Nura. Dirinya sudah begitu bosan menunggu bus Trans Jogja sedari tadi. Beberapa menit kemudian, sebuah bus mulai berhenti di halte tempat Nura menunggu. Para penumpang mulai masuk ke dalam, termasuk dirinya.

Bus mulai melaju perlahan, meninggalkan halte. Roda-rodanya menyusuri jalanan Jogja yang basah karena hujan. Kaca pun mengembun. Nura menatap ke luar, melihat bus kini mulai memasuki Jalan Malioboro. Sampailah di tempat pemberhentian. Bus kembali berjalan perlahan, berhenti di “Halte Malioboro 1.”

“Akhirnya sampai juga. Kota ini sudah semakin berubah sejak terakhir kali aku ke sini.” Nura mengukir senyum simpul.

Kakinya melangkah di trotoar; tubuhnya ditutupi payung merah muda. Seperti dugaannya, Malioboro tak akan sepi walaupun hujan. Entah mengapa, ada banyak hal yang terputar di ingatan Nura selepas menginjakkan kaki kembali di sini. Ingatan terputar seperti sebuah tayangan lama, dengan percakapan yang masih jelas.

Yogyakarta, 2022

Hujan di Jogja kali ini tak bisa diprediksi. Kapan pun kamu berada, harus sedia payung atau jas hujan. Namun, berbeda dengan sepasang sahabat itu, mereka justru lebih memilih basah kuyup karena hujan. “Kita mau lanjut ke mana lagi, El?” tanya seorang gadis berusia lima belas tahun.

“Jangan menerobos hujan, nanti kamu sakit.” Lelaki di samping tersenyum hangat, sambil menutupi kepala Nura. “Tenang saja, kamu jangan terlalu khawatir denganku. Eum… mungkin kita bisa berteduh sebentar sambil makan? Perutku sudah berbunyi sedari tadi,” ucap lelaki bernama Michael.

Mereka akhirnya mampir ke sebuah gerai ayam goreng. Sehabis terkena hujan tadi, perut mereka mulai keroncongan. “Ini kita nggak apa-apa, ‘kan, masuk?” ujar Nura, khawatir mereka akan kena usir karena baju yang dikenakannya dan Michael basah.

“Tenang saja, baju kita nggak terlalu basah, kok. Lagipula, kita datang ke sana untuk makan, bukan maling.” Mendengar jawaban Michael, Nura menjadi sedikit tenang.

Mereka masuk dan mulai memesan menu yang terpajang. Duduk menunggu di meja makan, sambil melihat pemandangan kota Jogja saat hujan.

“Ra, kira-kira setelah lulus sekolah nanti, kamu. Mau lanjut di sini atau ke kota lain?” Michael membuka obrolan lebih dulu.

Obrolan terhenti sejenak. Nura terlihat. bingung menjawab pertanyaan sang sahabat.

“Aku juga tak tahu, El. Aku ingin berkuliah di sini, tapi tak akan terasa anak kuliah jika tidak merantau. Dan pergi ngekos. Kalau dirimu sendiri?” Nura balik bertanya kepada Michael, yang sedari tadi duduk sambil mendengarkannya berbicara.

Lelaki itu mengangkat bahu. “Aku juga masih bingung. Mungkin nanti atau besok akan kupikirkan lagi,” jawab Michael dengan senyum khasnya.

Beberapa menit setelah obrolan singkat, makanan. datang. Mereka segera memakan dengan lahap, sambil sesekali berbincang dan bergurau. Usai makan, Nura dan Michael lanjut berjalan menyusuri kota sehabis hujan. Rasanya syahdu dan dingin. Para turis mulai terlihat di beberapa titik.

“Ra, kalau nanti kamu sudah kuliah, jangan lupakan tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, ya?”

Nura hanya mengangguk pelan sebagai jawaban singkat.

Sore itu dihabiskan dengan berjalan bersama Michael. Secara tidak sadar, Nura sudah lama memendam perasaan itu kepada sahabatnya

“Perasaan itu kembali.” Langkah Nura terhenti saat melihat papan jalan bertuliskan “JL. Malioboro”. Kilasan balik tentang kenangannya bersama Michael kembali berputar di benaknya.

Tak bisa dipungkiri, dirinya memang masih menyimpan perasaan suka kepada lelaki itu. Sekuat apa pun dirinya melupakan, semua itu akan tetap tersimpan rapi di dalam pikirannya.

“El, aku sudah menepati janjimu di waktu itu. Aku akan selalu mengingat tempat yang pernah kita kunjungi, walaupun saat itu status kita hanya sahabat dekat, tak lebih.”

Perempuan itu kembali menyusuri jalanan Malioboro yang masih diguyur hujan. Terkadang, perasaan bisa timbul terhadap siapa saja, baik itu teman dekatmu atau teman sekelasmu.

Nura telah melakukannya. Ia menyukai Michael diam-diam. Walau tidak pasti, apakah Michael juga tahu kalau Nura suka padanya atau tidak?

Selalu ingat, di setiap langkahmu pergi, kau akan selalu membuat kenangan di tempat itu, atau bahkan bernostalgia atas kenangan itu. Tak perlu kau lupakan, cukup rasakan dan simpan baik-baik di pikiran.(*)