Oleh Martha Arzya Renandita
Asal-usul nama Baturraden bermula dari sebuah kisah cinta legendaris yang penuh perjuangan di Kadipaten Kutaliman antara seorang pemuda rendah hati bernama Suta yang bekerja sebagai pelayan atau pemelihara kuda istana (Batur) dengan seorang putri raja yang merupakan bangsawan luhur (Raden). Kedekatan mereka bermula saat Suta dengan keberanian luar biasa berhasil menyelamatkan sang putri dari ancaman mematikan seekor ular raksasa di hutan, sebuah aksi heroik yang membuat sang putri jatuh hati hingga keduanya menjalin hubungan asmara secara sembunyi-sembunyi.
Namun, ketika niat tulus Suta untuk meminang sang putri diketahui oleh ayahandanya, sang raja murka karena merasa martabat kerajaan dinodai oleh hubungan beda kasta tersebut, sehingga Suta disiksa dan dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah yang gelap serta penuh air hingga kakinya mengalami kelumpuhan. Sang putri yang tidak tega melihat penderitaan kekasihnya kemudian mengatur rencana pelarian dengan bantuan seorang pelayan setia, hingga akhirnya mereka berhasil melarikan diri jauh ke arah utara menuju lereng Gunung Slamet yang kala itu masih berupa hutan belantara yang sangat asri.
Di tempat yang sejuk dan memiliki banyak sumber mata air panas itulah mereka memutuskan untuk hidup sederhana sebagai rakyat biasa, saling menjaga dalam suka maupun duka, dan membangun permukiman yang jauh dari jangkauan prajurit kerajaan. Tempat persembunyian sekaligus saksi bisu kesetiaan cinta mereka akhirnya dikenal luas oleh masyarakat dengan nama Baturraden, sebuah akronim yang secara mendalam menyatukan kata Batur (pelayan) dan Raden (bangsawan) sebagai simbol bahwa cinta sejati mampu meruntuhkan tembok perbedaan status sosial.
Hingga saat ini, legenda tersebut tetap hidup dan menjadi jiwa bagi keindahan alam Baturraden di Purwokerto, mengingatkan setiap pengunjung bahwa nama besar destinasi wisata ini lahir dari pengorbanan dan keteguhan hati dua insan dalam mempertahankan kasih sayang mereka.(*)