Oleh Fiorenza Verda Hasna
Namaku Fiorenza Verda Hasna. Aku lahir dan besar di Semarang, kota yang kalau siang hari kadang terasa seperti sedang dipanggang perlahan. Bukan tiga puluh derajat lagi, rasanya mataharinya ada lima. Panasnya itu tipe panas yang bikin orang baru keluar rumah lima menit sudah merasa sedang dipanggang. Tapi anehnya, aku tetap sayang sama kota ini. Mungkin karena di sinilah semua kenangan kecilku bertebaran, dari yang manis sampai yang bikin geleng-geleng kepala sambil bilang, “Ya ampun.”
Kalau bicara soal cuaca, Semarang punya karakter sendiri. Panasnya serius, bukan panas bercanda. Kadang aku merasa angin yang lewat itu bukan menyejukkan, tapi ikut nimbrung memanaskan keadaan. Tapi jangan salah, kalau hujan datang juga tidak setengah-setengah. Pilihannya cuma dua: hujan lewat sebentar atau sekalian badai seperti langit sedang punya masalah pribadi.
Semarang itu kota yang lengkap. Mau suasana ramai ada, mau suasana tenang juga ada. Kalau sedang ingin melihat gedung-gedung tua yang estetik, aku suka membayangkan berjalan di kawasan Kota Lama. Bangunannya berdiri gagah seperti sedang pamer umur. Sebagai orang Semarang, aku juga akrab dengan makanan khasnya. Lumpia, tahu gimbal, wingko babat, bandeng presto—eh, kalau ditulis semua bisa jadi daftar belanja.
Dari semua itu, lumpia selalu jadi ikon yang sulit dikalahkan. Rasanya enak, tapi kalau makan terlalu banyak juga bikin kenyang sampai lupa niat diet. Hal yang paling khas dari Semarang menurutku adalah campuran budayanya. Kota ini punya nuansa Jawa, Tionghoa, Arab, dan modern yang bercampur jadi satu. Jadi, kalau berjalan ke beberapa sudut kota, rasanya seperti sedang pindah bab dalam buku yang berbeda, tetapi masih satu cerita.
Salah satu kenangan yang paling aku ingat adalah saat pergi ke Semarang Zoo, atau dulu dikenal sebagai Bonbin Mangkang, bersama pacarku. Kami berdua sama-sama tipe orang yang langsung bahagia kalau lihat hewan. Bisa dibilang, kebahagiaan sederhana kami adalah melihat kambing makan rumput—iya, cuma makan rumput.
Begitu masuk area kebun binatang, kami langsung semangat sendiri. Melihat burung, rusa, dan monyet, semuanya terasa seru. Pacarku sibuk menunjuk hewan-hewan sambil memberi komentar seolah dia presenter acara dokumenter. Aku juga tidak kalah antusias ketika domba-domba lucu menghampiriku saat aku membawa makanan, serasa berperan sebagai Disney princess yang ada di film-film kartun.
Kami juga sempat membeli minuman dingin yang rasanya langsung jadi penyelamat hidup. Di tengah panas Semarang yang seperti ujian kesabaran, minuman dingin itu terasa seperti hadiah dari alam semesta. Kami duduk sebentar, ngobrol ringan, dan ketawa tanpa alasan yang jelas—mungkin karena capek, mungkin karena bahagia.
Selain ke kebun binatang, pengalaman lain yang tidak kalah berkesan adalah waktu aku nonton sirkus saat masih kelas 1 SMP. Waktu itu aku benar-benar merasa seperti masuk ke dunia lain. Lampu warna-warni, musik yang keras tapi seru, dan orang-orang dengan kemampuan yang bikin aku berpikir, “Ini manusia apa superhero sih?”
Aku duduk dengan mata yang nggak bisa diam, mengikuti setiap gerakan para pemain sirkus. Ada akrobat yang lompat-lompat di udara, badut yang lucu—tapi jujur agak seram—dan pertunjukan hewan yang bikin aku takjub. Semuanya terasa magis, seperti mimpi yang tiba-tiba jadi nyata. Yang paling aku ingat adalah perasaan kagum yang nggak bisa dijelaskan. Waktu itu aku masih kecil, jadi semuanya terasa lebih besar, lebih luar biasa. Aku bahkan sempat berpikir, “Apa aku bisa seperti mereka ya?” meskipun jelas jawabannya… mungkin jangan dulu.
Semarang, dengan segala keunikannya, menyimpan banyak kenangan dalam hidupku. Dari cuacanya yang legendaris sampai momen-momen sederhana yang jadi berharga. Kota ini bukan cuma tempat tinggal, tapi juga tempat aku tumbuh, belajar, dan—seringnya—mengeluh.
Sekarang setiap kali aku memikirkan Semarang, yang terlintas bukan cuma panasnya, tapi juga tawa, cerita, dan pengalaman yang pernah aku jalani. Dan meskipun aku sering bercanda soal matahari yang jumlahnya lima, pada akhirnya aku tahu—aku tetap akan selalu kembali ke kota ini, dengan segala “kehangatannya.”(*)