Oleh Galant Miftakhul Huda
Di lereng Gunung Ungaran, terdapat dua anak bernama Galant dan Malik. Dia hidup di desa yang kecil yang tak jauh dari puncak Gunung Ungaran.
Ketika malam telah tiba, Galant merencanakan dengan Malik untuk melihat sunrise di puncak Gunung Ungaran.
”Lik, sepertinya melihat sunrise di puncak, seru nih,” ucap Galant. Malik pun menjawab, “Iya sepertinya seru tuh. Boleh, boleh. Gas….”
Keesokan pagi pun tiba sekitar pukul 03.00. Mereka berdua bertemu di Via Perantunan untuk memulai perjalanan. Saat mereka memulai perjalanan banyak suara jangkrik yang mengiringi perjalanan mereka
Mereka berjalan berdua di jalan di kanan-kiri itu di hutan. Mereka mengikuti jalan pendakian yang sudah disediakan. Embusan angin menggoyahkan daun daun dan ranting ranting memberikan suasana yang damai
Di tengah perjalanan, Galant berbicara kepada Malik, “Seru ya di sini kita bisa menenangkan pikiran.”
Malik pun menanggapinya, “Kamu pasti akan merasakan ketenangan lagi jika berada di atas nanti. Tunggu saja.”
Galant pun berkata, “Baik, kalau begitu kita lanjutkan perjalanan sampai puncak”
Ketika sampai di puncak, Galant berkata, “Wau, iya ya benar katamu, Lik, ternyata di atas rasanya lebih tenang ya.”
“ Iya, karena kita bisa merasakan embusan angin yang sejuk ini.”
Sekitar pukul 05.00, matahari mulai terbit. Mereka melihat keindahan sunrise pada pagi hari. “Besok, jika ada waktu, kita ke sini lagi, ya, Lik,” ucap Galant.
“Iyaa Lant. Kita harus luangkan waktu kita untuk ke sini lagi.”
Galant dan Malik duduk berdua di tanah, menyaksikan matahari terbit. Terlihat burung-burung mulai beterbangan seolah-olah menyapa mereka berdua. Rumput-rumput bergoyang seperti yang diembuskan angin seolah-olah melambaikan tangan.
Ketika sudah mulai panas, mereka pun turun dengan hati yang senang. Mereka merasa capai tetapi itu terbayar oleh keindahan sunrise di puncak Gunung Ungaran (*)