Oleh Diki Ramadani
Di tengah hamparan pegunungan Jawa Tengah, Wonosobo berdiri sebagai daerah yang seolah dikelilingi oleh pelukan alam. Udara di sana terasa lebih dingin dibandingkan dengan kebanyakan tempat lain, apalagi saat pagi hari ketika kabut tipis masih menggantung di antara perbukitan. Daerah ini dikenal sebagai pintu masuk menuju kawasan Dieng Plateau, sebuah dataran tinggi yang menyimpan banyak keindahan alam sekaligus cerita-cerita menarik dari masa lalu. Setiap sudutnya seperti punya daya tarik sendiri, mulai dari telaga berwarna, kawah aktif, hingga perbukitan yang menawarkan pemandangan luar biasa.
Bagi banyak orang, Wonosobo bukan sekadar tempat singgah, tapi tempat untuk benar-benar merasakan suasana alam yang tenang dan sedikit berbeda dari hiruk-pikuk kota. Salah satu tempat yang paling membekas bagiku di kawasan Dieng adalah Bukit Sikunir. Bukit ini terkenal sebagai spot yang sangat bagus untuk menikmati matahari terbit, bahkan sering disebut memiliki “golden sunrise” yang tidak kalah indah dari tempat-tempat lain di Indonesia.
Aku jadi teringat salah satu pengalaman pribadiku saat berkunjung ke sana. Bukan perjalanan yang direncanakan jauh-jauh hari, tapi lebih ke spontan bersama beberapa teman di waktu yang terasa pas.
Beberapa hari setelah Idulfitri, aku dan beberapa teman memutuskan untuk pergi ke Bukit Sikunir. Kami berangkat tidak terlalu pagi, jadi memang tidak berniat mengejar sunrise, melainkan sekadar menikmati pemandangan yang ada di Bukit Sikunir. Perjalanan menuju ke sana tetap terasa menyenangkan, apalagi jalanan dataran tinggi yang bergelombang dengan pemandangan pegunungan di sekitarnya membuat suasana perjalanan jadi lebih hidup. Sesekali kami juga bercanda sepanjang jalan, membuat perjalanan terasa lebih santai dan tidak membosankan.
Sesampainya di kawasan Dieng, suasana dingin langsung terasa lebih kuat dibandingkan di bawah. Udara yang sejuk berpadu dengan pemandangan sekitar membuat kami semakin tidak sabar untuk segera naik ke puncak. Tanpa berlama-lama, kami langsung menuju jalur pendakian.
Perjalanan naik ke puncak Bukit Sikunir ternyata cukup melelahkan. Meskipun begitu, adanya tangga yang sudah dibuat di sepanjang jalur cukup membantu langkah kami. Tetap saja, rasa capek tidak bisa dihindari. Kami beberapa kali berhenti untuk mengatur napas, sambil menikmati suasana sekitar yang terasa tenang dan jauh dari keramaian kota. Justru pada momen-momen istirahat itulah, perjalanan terasa lebih santai dan menyenangkan.
Akhirnya, kami sampai di puncak. Saat itu, kondisi di atas cukup berkabut dan lumayan dingin. Angin yang berhembus membuat suasana semakin dingin, tapi juga menambah kesan khas pegunungan. Meskipun pemandangan tidak sepenuhnya terlihat jelas, suasananya justru terasa berbeda: itu terasa lebih tenang, sedikit sunyi, dan jauh dari kebisingan.
Kami pun menghabiskan waktu sejenak di puncak untuk menikmati suasana tersebut. Tidak ada banyak yang kami lakukan selain duduk, melihat sekitar, dan merasakan udara dingin. Momen sederhana seperti itu justru terasa cukup berkesan.
Seperti biasa, kami tidak melewatkan kesempatan untuk berfoto beberapa kali di puncak. Walaupun tidak mendapatkan langit cerah seperti yang sering terlihat di foto-foto orang, tetap saja rasanya seru bisa sampai di atas bersama teman-teman. Setelah itu, kami memutuskan untuk turun kembali dengan langkah yang lebih santai.
Setelah turun, kami menyempatkan diri mampir ke Telaga Cebong yang berada tidak jauh dari kaki bukit. Suasananya lebih santai, dengan air telaga yang tenang dan pemandangan di sekitarnya yang tetap indah. Kami sempat duduk di sekitar telaga, menikmati suasana sambil beristirahat setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga.
Setelah cukup beristirahat, kami pun memulai perjalanan pulang. Namun, ternyata perjalanan tidak berjalan semulus yang kami kira. Kami sempat terjebak macet cukup panjang, kemungkinan karena masih suasana libur Lebaran. Kendaraan terlihat padat di beberapa titik, membuat perjalanan terasa lebih lama dari biasanya.
Meski begitu, pengalaman hari itu tetap terasa menyenangkan dan berkesan. Bukan hanya karena tempat yang kami kunjungi, tetapi juga karena kebersamaan dan cerita-cerita kecil yang terjadi sepanjang perjalanan. Dari perjalanan santai, pendakian yang melelahkan, hingga macet di jalan pulang, semuanya menjadi bagian dari pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan.(*)