Pemenuhan Impian Masa Kecil bersama Kakak

Oleh Fawnia Okta Ramadhani

Hari itu terasa berbeda bagiku, seperti ditekan di berbagai sisi. Tekanan di antara tenggat yang menumpuk, ujian mendadak, dan presentasi kelompok yang melelahkan serta keinginanku untuk melukis sebuah perjalanan indah sejak menginjak dewasa ini. Tapi malam itu notifikasi ponselku berbunyi. Terlihat pesan dari seseorang yang sangat aku sayangi. Pesan itu berbunyi: “Dhik, sebagai janji ulang tahunmu itu, 2 minggu mendatang tepat pada hari Jumat kita daki Ungaran bersama. Kakak janji bawa kamu ke puncak mimpi.” 

Dua minggu itu jadi perpaduan epik antara keringat dan buku teks. Pagi hari, sebelum kuliah pukul 13.00, aku jalan santai keliling kampus di Semarang. Napas yang tak beraturan itu menjadi awalan untuk membakar semua lemak di tubuhku. Aku jauh lebih bisa berpikir jernih, hafalan mata kuliah dasar jadi lebih mudah. Siangnya, aku kuliah seperti biasa dan diskusi kelompok jauh lebih lancar karena energi stabil dari rutinitas pagi. Malam hari, setelah adaptasi pretest yang melelahkan, aku review catatan untuk keesokan harinya. Dua minggu itu stamina terasa naik, deadline tugas mingguan selesai tepat waktu, dan hidupku jauh lebih produktif dari biasanya yang hanya kuliah, pulang, tidur saja. 

Hari kamis siang tiba, kami berangkat bersama menuju basecamp Ungaran via Perantunan. Perjalanan yang membutuhkan waktu satu jam lamanya itu terasa seperti 10 menit. Perjalanan itu penuh dengan cerita canda tawa yang tak bisa dijelaskan dengan jari-jemari ini. Baru perjalanan saja sudah mengukir indahnya waktu bersamanya. Waktu yang tak bisa kumiliki dengannya selama tiga tahun terakhir. Sungguh sangat berharga mengukir perjalanan bersamanya yang penuh tawa, seperti menyembuhkan luka rindu yang lama terpendam.

Kami tiba di basecamp Ungaran via Perantunan tepat sebelum azan Asar berkumandang. Kami mendirikan tenda bersama dalam irama magis timelapse yang terekam abadi selamanya. Impian kami waktu kecil itu terwujud satu, yaitu mendirikan tenda yang nyata. Bukan lagi tenda yang kami bangun dengan selimut dan sarung yang saling menyatu di antara sudut-sudut dinding kamar kala itu. Tenda ini nyata, bukan lagi angan-angan yang kami ciptakan dalam imajinasi. Sekarang tenda ini terasa penuh akan perlengkapan mendaki kami, bukan lagi bantal, guling dan boneka busuk kami lagi. Tenda ini benar-benar nyata saat itu, kantung tidur yang dulunya hanya sebuah sarung yang tipis kini benar-benar nyata hangatnya.

Sepanjang malam itu kami ukir kenangan dengan memasak makanan bersama. Benar benar bersama mulai dari menyalakan percikan api dari kompor portable mini. Udara malam mulai dingin menusuk, tapi aroma bumbu kecap manis, bawang putih goreng, dan cabai rawit menyeruak menggoda, bercampur asap tipis yang menari-nari diatas panci kecil dengan muatan daging, bawang bombay harum dan sosis lezat itu mulai keluar lewat ventilasi tenda. Setiap potong daging mendesis ganas di atas api, percikan minyak panas beterbangan liar. Sosis mengembang bulat sempurna, kulitnya renyah retak saat diputar, cairan lemak menetes dan meledak percikan baru yang membuat suasana menjadi hidup penuh keajaiban. Kami duduk bersila di atas tikar tipis, piring enamel sederhana penuh tumpukan grill panas, daging juicy berasap, sosis menggigit, dan sambal kecap pedas buatan Kakak. Masakan yang selama ini aku rindukan. Setiap gigitan yang mencipta kenangan baru dan cerita masa kecil yang mulai diputar. Masa demi masa kami ceritakan di malam yang dingin itu. Tapi malam itu terasa sangat hangat, bukan dari jaket tebal yang kami gunakan tapi dari cerita nostalgia yang kami putar satu per satu.

Malam itu, di tenda nyata penuh grill harum dan percikan magis, bukan lagi imajinasi kain sarung masa kecil yang penuh imajinasi akan masak-masakan dengan panci Ibu, tapi kami mengukir di kapsul waktu abadi. Timelapse ponsel mencipta bukti kebersamaan yang tak akan pernah tergantikan. Saat api padam, kami tidur dengan perut kenyang dan hati penuh, siap mencipta sebuah perjalanan ke puncak Ungaran esok pagi. 

Pukul tiga pagi, alarm ponsel berdering pelan namun tegas di dalam tenda basecamp Perantunan, langsung membangunkan aku dari mimpi indah tentang grill malam tadi yang masih meninggalkan rasa gurih di lidah. Kakak sudah bangun lebih dulu, senter kepalanya menyinari wajahnya yang penuh semangat dan tekad baja, seolah tak tergoyahkan oleh kantuk yang masih menyelimuti. Udara dingin pegunungan menusuk tulang hingga membuat bulu kuduk merinding, sementara aroma kopi instan yang kaya dan menggoda mulai menyebar dari kompor portable yang dinyalakan Kakak, menciptakan suasana hangat di tengah kegelapan malam yang pekat.

Kami segera bangun, menggosok muka dengan air dingin dari keran sebelah tenda kami yang hampir membeku, sambil menggelengkan kepala untuk mengusir sisa-sisa mimpi, siap untuk mengukir hari baru penuh tantangan di lereng gunung yang menjulang. Sarapan kami kali ini semangkuk mie instan panas yang menggugah selera, ditaburi telur rebus dan irisan sosis sisa dari grill semalam, kuah pedasnya yang mengepul menghangatkan perut kosong dan membangkitkan energi untuk perjuangan panjang ke puncak. Setelah itu, kami cek ulang ransel kami, menyiapkan perbekalan penuh untuk melakukan perjalanan pertamaku itu. Stamina dari rutinitas jogging dua minggu terakhir pun sudah siaga penuh, siap menghadapi tanjakan demi tanjakan yang menanti di depan.

Langit masih gelap pekat, bagai kanvas hitam tanpa bintang tersisa, saat kami melangkah keluar tenda basecamp Perantunan dengan hati berdebar penuh antisipasi. Senter kepala Kakak menerangi jalur awal yang berbatu kasar dan tak beraturan, setiap cahaya kuning pudar memantul di genangan embun seperti permata tersembunyi. Udara pagi yang dingin menusuk paru-paru bagai pisau es, langsung membangkitkan adrenalin liar untuk tantangan pertama yang menanti di balik kegelapan hutan. Kakak memimpin di depan dengan langkah yang membuat aku semakin percaya diri untuk terus naik, meski tanah basah oleh embun malam licin mengintai setiap pijakan, suaranya pelan memotivasiku “Pelan-pelan aja, puncak nggak akan ke mana-mana”. Pada detik itu juga semangatku mulai membara, tak ingin rasanya latihan dua minggu itu sia-sia.

Jalur mulai menanjak curam bagai tangga raksasa alam yang tak berujung, bebatuan licin menghalangi langkah kami setelah hujan semalam yang meninggalkan jejak tanah. Permukaan batu-batu itu mengkilap seperti cermin hitam yang licin telanjang, setiap pijakan yang salah bisa membuat tubuh lemah ini terguling ke bawah lereng gelap. Aku pegang erat tongkat trekking pole kokoh. Jantung berdegup kencang menghindari tergelincir yang mengancam setiap detik. Tapi aku percaya, aku akan selalu aman di dekat Kakak walau dalam kondisi yang mencekam sekali pun.

Di tengah tanjakan pertama yang melelahkan ini saat napas mulai tersengal dan keringat dingin bercucur, kami mencipta sebuah momen keabadian lagi dengan pose tangan saling genggam tongkat seperti prajurit legenda. Latar sunrise mulai menyembul pelan dari ufuk timur, bola api jingga merah membelah kabut pagi bagai janji kemenangan, sinarnya menyinari wajah kami yang basah peluh dan embun. Semangat baru terbakar, tanjakan licin tak lagi menakutkan.

Bebatuan besar menumpuk seperti tembok alami, memaksa kami panjat dengan tangan dan kaki bersamaan. Rasa pegal mulai menyerang betis, tapi semangat Kakak terus menjaga ritmeku. Akar-akar menjuntai dari celah batu menjadi pegangan utama yang teguh. Kami melewatinya dengan penuh semangat. Ungkapan semangat dari beberapa pendaki membuatku terus meyakinkan diri bahwa aku harus bisa sampai puncak bersama Kakak. Walau jalur tanjakan licin berlanjut dengan derasnya kabut pagi yang membatasi pandangan, aku tak akan pernah menyerah. 

Ribuan rintangan kami jalani, semangat yang rasanya tak pada mini berhasil membawaku dan Kakak ke puncak. Kami berfoto di setiap spot untuk mengabadikan setiap momen yang tak pernah kami ciptakan sebelumnya. Pemandangan 360 derajat membentang megah lautan awan di bawah, gunung-gunung tetangga menyapa di kejauhan. Angin sepoi berhembus membawa aroma rumput basah, sementara matahari pagi menyinari wajah lelah kami dengan hangat. Foto puncak pertama diabadikan dengan pose kemenangan, tangan terangkat tinggi ke langit biru.

Kami berdiri di salah satu spot untuk mengabadikan momen bersama. Kami berdiri kagum di tepi tebing alami dengan timelapse handphone berputar pelan, menangkap lautan awan putih bergulung lambat seperti samudra kapas yang hidup di bawah kaki kami. Angin sejuk berembus segar, sementara matahari pagi menyinari wajah kami yang lelah tapi bahagia, membuat awan bergoyang dramatis bagai tarian dewa gunung. Lelah kami terbayarkan dengan pemandangan lautan awan indah kala itu. Timelapse terus berjalan, frame demi frame abadikan pir kuning kami yang menggigit renyah yang airnya menetes di dagu. Sementara awan naik-turun seperti napas bumi yang dalam. Stamina kembali mengalir deras, otot pegal rileks sejenak di tengah pemandangan 180 derajat yang hypnotic ini. 

Kami bergerak ke Puncak Botak yang landai dan terbuka lebar, angin kencang menyambut dengan pelukan segar. Di sini, kami abadikan momen dengan serangkaian foto yang lagi-lagi tak bisa dijelaskan oleh jari-jemari yang menari di atas kibor ini.  Puncak Botak ini seperti panggung alam, rumput hijau kontras dengan biru langit cerah. Rasanya seperti aku bermimpi. Mimpi yang kala itu hanya imajinasi kecil kami berdua saat memandang langit-langit kamar yang penuh dengan bekas kubangan air hujan. Tapi saat ini, pemandangan biru langit itu benar-benar nyata. Aku sedang di puncak dengan menikmati kebersamaan bersama Kakak. 

Setelah beristirahat yang lumayan panjang dan dipenuhi dengan cerita saat itu, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Trek yang awalnya tampak tinggi saat kami naik, kini jauh lebih menyeramkan karena curam. Tapi lagi-lagi wajah Kakak menghiasi suatu pesan yang tak tersirat. Seperti sedang memberikan kepercayaan padaku bahwa aku bisa melewati rintangan itu semua. Aku bisa turun dengan selamat walaupun celana ku penuh dengan tanah yang menempel.

Aku menjadikan pengalaman ini sebagai kenangan yang kami ukir dari basecamp imajinasi masa kecil dengan tenda dari selimut dan sarung, hingga puncak Ungaran yang nyata dengan lautan awan di bawah kaki. Bersama Kakak yang menepati janji, tak ada mimpi yang tak bisa kami capai.(*)