Langkah yang Tak Seharusnya di Tempat Sunyi Nyi Rantam Sari

Oleh Livia Rheta Maolaya

Nama aku Livia Rheta. Aku tinggal di Pemalang, sebuah daerah yang bagiku terlihat biasa, namun sebenarnya menyimpan banyak kisah tak biasa. Sejak kecil, aku sering mendengar tentang kisah Nyi Rantam Sari. Konon, dia adalah seorang wanita yang memilih untuk hidup terasing di tempat sepi. Dulu, aku hanya mendengar cerita itu seperti bualan semata.

Sebatas kisah fiksi untuk membuat anak kecil takut.

Seiring waktu, cerita itu semakin jarang aku dengar. Namun, entah kenapa, saat berbincang santai dengan sepupu, nama Nyi Rantam Sari terucap kembali. Sepupuku menyebutkan ada lokasi di hutan Candi Batur yang konon pernah menjadi tempat meditasinya. Sejak saat itu, rasa keingintahuanku kembali muncul, terutama karena aku memang tertarik terhadap hal-hal yang sedikit “menantang”. Aku mengajak sepupuku untuk pergi ke sana. Awalnya mereka semua

setuju.

Namun, saat hari pergi tiba, satu demi satu sepupuku memutuskan untuk batal. Berbagai alasan muncul; beberapa mengatakan takut, sedangkan yang lain mengaku tidak merasa sehat. Akhirnya, hanya aku saja yang benar-benar memiliki niat untuk pergi. Meskipun sempat bimbang, aku tetap melanjutkan. Aku beranggapan siang hari seharusnya aman. Aku berangkat sendirian, mengendarai motor hingga batas jalan yang masih bisa dilalui, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki.

Semakin jauh aku melangkah, suasana semakin sunyi. Jalan setapak yang aku lewati dipenuhi daun-daun kering. Setiap langkahku menimbulkan suara “kresek-kresek” yang malah membuat suasana semakin sunyi. Dan hamparan hutan yang lebat itu cukup membuat bulu kudukku berdiri. Aku mulai merasa agak tidak nyaman. Namun, aku sudah terlalu jauh untuk kembali. Akhirnya, aku melanjutkan perjalanan sambil sesekali memperhatikan sekeliling. Betapa rimbunnya hutan itu sehingga siapa pun pasti merasa takut untuk mendekat.

Hingga akhirnya aku sampai di lokasi yang dituju. Di sana terdapat area yang sedikit terbuka, dengan beberapa pohon besar dan sebuah batu yang cukup mencolok. Suasana terasa dingin, meski sinar matahari masih cukup terang. Dan berada di tengah hutan. Aku berdiri sejenak, berusaha memastikan bahwa tempat itu memang “tidak ada apa-apa”. Tetapi entah mengapa, hatiku merasakan hal yang berbeda. Ada atmosfer yang sulit untuk diungkapkan, seolah ada sesuatu yang mengawasi.

Aku mencoba duduk dekat batu tersebut. Pada awalnya, hanya ingin beristirahat sejenak. Namun, semakin lama di sana, pikiranku mulai melesat, terutama saat mengingat kisah tentang Nyi Rantam Sari yang sering kudengar di masa lalu. Tiba-tiba, aku menangkap suara langkah kaki. Pelan, tetapi terdengar jelas. Aku segera menoleh ke belakang. Tidak ada seorang pun.

Aku berusaha tetap tenang dan meyakini bahwa itu hanya suara biasa.

Beberapa saat kemudian, suara tersebut muncul lagi. Kali ini lebih dekat, seperti ada yang berjalan mengelilingiku. Detak jantungku menjadi lebih cepat. Mataku melirik ke segala arah. Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang. Daun-daun di sekitarku bergerak bersama, menghasilkan suara yang cukup keras. Aku merasa seolah berada di tempat yang seharusnya tidak aku kunjungi.

Perasaan ketakutan mulai terasa dengan jelas. Aku mengambil keputusan untuk pergi. Namun, ketika mulai melangkah, kakiku terasa berat. Seakan ada sesuatu yang menahan dari belakang. Aku tidak berani melihat ke arah belakang. Aku hanya fokus untuk melangkah maju. Namun, rasa diawasi itu semakin kuat. Rasanya seperti ada yang mengikuti di belakang.

Setelah cukup jauh dari lokasi, aku memberanikan diri untuk menoleh. Di antara pepohonan, ada sosok perempuan yang berdiri diam. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tetapi cukup untuk membuatku panik. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari. Aku hampir terjatuh beberapa kali. Yang terpenting saat itu adalah keluar dari tempat itu secepat mungkin.

Setelah tiba di motor, aku langsung pulang dan tancap gas. Sepanjang perjalanan, pikiranku masih bercampur aduk. Aku terus memikirkan apa yang baru saja aku saksikan. Sesampainya di rumah, aku bercerita kepada orang tuaku. Mereka tidak terkejut. Mereka hanya menyampaikan agar aku lebih berhati-hati dan tidak sembarangan mendatangi tempat yang dianggap memiliki kisah mistis.

Sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi menganggap remeh cerita tentang Nyi Rantam Sari. Pengalaman tersebut menyadarkanku bahwa tidak semua hal dapat dijelaskan secara logis. Sekarang, setiap kali mendengar nama Nyi Rantam Sari, aku langsung mengingat kejadian itu. Rasanya bukan hanya takut, tetapi juga rasa hormat. Karena ternyata ada hal-hal di sekitar kita yang sepatutnya tidak diabaikan.(*)