Oleh Rizkia Intan Nuraini
Setiap menjelang Ramadan, suasana di sekitar Menara Kudus selalu berubah karena adanya Dandhangan. Kebetulan rumahku memang dekat dengan situ, jadi aku bisa langsung merasakan keramaiannya. Bahkan tanpa harus pergi jauh, suasananya sudah terasa sampai rumah. Suara orang, kendaraan, dan pedagang mulai terdengar sejak sore. Kadang terasa berisik, tapi lama-lama justru jadi hal yang biasa. Buatku, itu seperti tanda kalau Ramadan sudah dekat. Seolah-olah kota ini ikut berubah jadi lebih hidup.
Sore itu aku pergi ke Dandhangan bareng kedua adikku dan ibuku. Kami jalan kaki dari rumah karena jaraknya memang dekat. Sepanjang jalan, kami sudah melihat orang-orang yang juga menuju ke arah yang sama. Suasananya terasa ramai tapi seru. Ibuku sempat bilang supaya kami hati-hati karena pasti akan berdesakan. Aku dan kedua adikku cuma mengangguk sambil tetap semangat. Rasanya seperti mau pergi ke tempat yang sudah ditunggu-tunggu.
Begitu sampai di area sekitar Menara Kudus, suasananya benar-benar padat. Pedagang berjejer di sepanjang jalan. Mereka menawarkan berbagai macam barang dagangan. Dari makanan sampai barang unik, semuanya ada. Aku berjalan pelan sambil sesekali menoleh ke kanan-kiri. Kedua adikku juga terlihat sangat senang melihat banyak hal. Ibuku sesekali mengingatkan kami supaya tidak terpisah.
Tradisi Dandhangan ini katanya sudah ada sejak zaman Sunan Kudus. Dulu, orang-orang berkumpul untuk mendengar bedug sebagai tanda datangnya Ramadan. Sekarang memang sudah berubah jadi lebih modern. Tapi menurutku, nilai tradisinya masih tetap terasa. Hal itu yang membuat Dandhangan tetap dipertahankan sampai sekarang. Aku merasa bangga bisa merasakannya langsung.
Di tengah keramaian itu, kedua adikku mulai minta jajan. Mereka menunjuk beberapa makanan yang menarik perhatian. Ibuku tersenyum lalu membelikan satu dua jajanan. Aku ikut memilih walaupun tidak terlalu lapar. Kami makan sambil duduk di pinggir jalan. Rasanya sederhana tapi menyenangkan. Momen kecil seperti itu terasa hangat.
Setelah itu, kami lanjut jalan lagi. Kedua adikku beberapa kali berhenti karena tertarik dengan mainan yang dijual. Ibuku kadang mengizinkan, kadang juga menolak dengan halus. Aku hanya ikut melihat dan sesekali tertawa. Suasana itu terasa santai walaupun ramai. Aku jadi sadar kalau kebahagiaan itu tidak harus besar. Hal kecil seperti ini saja sudah cukup.
Jujur saja, suasananya memang cukup melelahkan. Jalan sempit, orang banyak, dan suara bising di mana-mana. Aku sempat merasa capek. Tapi melihat kedua adikku yang masih semangat, aku jadi ikut semangat lagi. Ibuku juga tetap sabar menemani kami. Dari situ aku merasa kebersamaan itu lebih penting.
Di tengah keramaian, aku melihat banyak pedagang yang sibuk melayani pembeli. Mereka terlihat berusaha keras menawarkan dagangannya. Dari situ aku berpikir kalau Dandhangan bukan hanya tradisi. Tapi juga kesempatan untuk mencari rezeki. Banyak orang menggantungkan harapan pada momen ini. Hal itu membuatku lebih menghargai suasana ini.
Aku terus berjalan sambil melihat-lihat sekitar. Sesekali aku berhenti memperhatikan barang yang dijual. Tidak semua menarik, tapi tetap seru untuk dilihat. Aku merasa cukup senang walaupun hanya melihat-lihat. Tidak harus membeli untuk bisa menikmati suasana. Yang penting adalah pengalaman yang didapat.
Di tengah suasana itu, aku mulai berpikir tentang makna dari Dandhangan. Tradisi ini seperti pengingat bahwa Ramadan sudah dekat. Bukan hanya sekadar acara tahunan. Tapi juga momen untuk mempersiapkan diri. Aku merasa ini penting untuk direnungkan. Supaya tidak hanya ikut ramai saja.
Semakin malam, suasana justru semakin ramai. Lampu-lampu terlihat semakin terang. Orang-orang terus berdatangan. Suara semakin ramai dari berbagai arah. Aku mulai merasa lelah karena sudah cukup lama berjalan. Akhirnya aku mengajak ibuku untuk pulang.
Kami berjalan pulang berempat dengan langkah pelan. Kedua adikku masih terlihat senang dengan apa yang mereka dapatkan. Ibuku sesekali tersenyum melihat kami. Aku sendiri lebih banyak diam sambil menikmati suasana malam. Walaupun capek, ada rasa puas yang muncul. Seperti habis melewati momen yang berarti.
Sesampainya di rumah, suasana masih terasa ramai dari kejauhan. Aku bisa mendengar suara Dandhangan walaupun sudah di dalam rumah. Hal itu membuatku tersenyum sendiri. Aku merasa beruntung tinggal di dekat tempat ini. Tidak semua orang bisa merasakan hal yang sama. Ada pengalaman yang terasa lebih dekat dan nyata.
Aku lalu duduk sebentar dan mengingat kembali kejadian tadi. Dari awal berangkat sampai pulang, semuanya terasa sederhana tapi berkesan. Kebersamaan dengan kedua adikku dan ibuku menjadi hal yang paling aku ingat. Bukan soal apa yang dibeli, tapi tentang waktu yang dihabiskan bersama. Itu yang membuatnya terasa spesial.
Bagi aku, Dandhangan bukan hanya tentang keramaian. Tapi juga tentang kebersamaan, suasana, dan pengingat. Tinggal dekat Menara Kudus membuat semua itu terasa lebih dekat. Setiap tahun pasti ada cerita baru. Dan setiap kali itu juga, aku selalu merasakan hal yang berbeda. Itulah yang membuat Dandhangan selalu berarti bagiku.(*)