Zaman sudah semakin maju, kini era digital semakin cepat perkembangannya. Segala aktivitas kini dapat diakses melalui internet. Dengan segala kemudahan, masyarakat kini bergantung pada penggunaan ponsel, mereka tak bisa lepas dari ponselnya. Rata-rata dari mereka menggunakan ponselnya lebih dadi 6 jam per hari, kebanyakan dari mereka menghabiskan banyak waktu untuk menonton hiburan di media sosial. Banyak dari masyarakat kini lebih menyukai konten-konten singkat yang dapat ditonton sekilas kemudian menggulir untuk mendapatkan konten singkat lainnya. Hal tersebut sudah menjadi rutinitas, kebanyakan dari mereka adalah para remaja dan anak-anak yang lahir di generasi Z dan generasi alpha.
Rutinitas menonton konten hiburan selama berjam-jam tersebut memunculkan sisi negatif. Sisi negatif tersebut berupa “Brain Rot” atau bisa diartikan sebagai pembusukan otak. Saya sendiri sebagai pelaku kebiasaan buruk tersebut merasakan adanya brain rot pada diri saya. Secara sadar saya merasakan kondisi dimana pikiran tidak teratur karena sering menyerap informasi dari media sosial yang berbeda-beda dalam sekejap, menjadi malas beraktivitas karena rasa ingin terus mengakses media sosial, hingga menurunnya kemampuan kognitif. Akibatnya, sulit untuk fokus, sulit menginat sesuatu, dan sulit untuk memecahkan masalah.
Dampak dari brain rot ini bisa saja merusak masa depan seseorang jika kemampuan kognitif terus menurun. Sayangnya, masih banyak orang yang tidak sadar akan hal tersebut. Bahkan, sekarang sebagian para orang tua justru membiarkan anaknya yang masih dibawah umur mengonsumsi video konten pendek setiap harinya dengan berdalih agar si anak tidak rewel. Akibatnya, kini banyak anak yang akan menangis, memberontak, dan marah ketika mereka tidak diberikan ponsel untuk melakukan rutinitas menontonnya tersebut. Lebih buruknya, anak-anak yang tidak bisa lepas dengan ponselnya seringkali mengabaikan keadaan sosial di sekitarnya. Hal ini, akan berdampak buruk pada cara bersosialisasi sang anak.
Dampak brain rot juga terjadi pada kalangan remaja yang sebagian besar dari mereka merupakan generasi Z. Banyak dari mereka menghabiskan waktu luang untung scrolling media sosial, atau mungkin sebaliknya mereka meluangkan waktu untuk melakukan kebiasaannya padahal banyak tugas mereka yang belum terselesaikan. Hal tersebut, mebuat mereka selalu menunda-nunda waktu. Kebanyakan dari mereka menjadi mudah lelah, mudah bosan, dan cepat menyerah karena efek dari scrolling yang tiada henti. Para remaja cenderung ingin melakukan dan mendapatkan semua hal secara instan karena mereka mudah menyerah, sehingga sekarang banyak para remaja menggunakan joki untuk menyelesaikan segala tugasnya atau menggunakan AI untuk menjawab secara instan. Jika hal tersebut terus berlanjut akan merusak fungsi otak karena jarang digunakan untuk berfikir.
Kebiasaan scrolling dengan isi konten yang beraneka ragam juga dapat menimbulkan masalah psikis secara tidak sadar. Konten-konten pencapaian seseorang yang dibagikan lewat media sosial sebagian orang akan mengankapnya sebagai motivasi untuk maju, namun beberapa orang ketika melihat pencapaian yang diposting tersebut malah merasa insecure. Rasa insecure tersebut memicu timbulnya rasa selalu kurang, sehingga menurunnya rasa percaya diri. Selain itu, dampak scrolling media sosial secara terus menerus dapat mengubah mood seseorang secara tiba-tiba. Apapun yang lewat diberanda media sosial tidak bisa dikontrol, konten-konten yang disajikan bisa saja membuat sedih, tertawa, bahkan marah. Terkadang seseorang akan terbawa oleh hal yang sedang ditonton.Hal tersebut jika terusa menerus dilakukan akan merusak mental seseorang.
Meskipun sudah banyak sekali orang-orang yang terjerumus dalam masalah ini. Mungkin solusi yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan edukasi mengenai dampak brain rot kepada khalayak umum agar masyarakat bisa mengurangi rutinitas scrolling media sosial dengan jangka waktu yang lama. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat tersadar sehingga mengurangi masalah brain rot yang akan merusak masa depan.
Oleh : Khansa Nurilma Zamzam