Makam Terapung  Syekh Mudzakir Sayung Demak

Oleh Qudiyatur Rohmah

Di pesisir Sayung, Demak, tepatnya di Dusun Bendono, terdapat sebuah pemandangan yang melawan logika. Di saat daratan di sekitarnya perlahan “ditelan” oleh abrasi dan naiknya air laut hingga menyisakan puing-puing bangunan, ada satu titik yang tetap kokoh berdiri: yaitu Makam Syekh Mudzakir.

Syekh Abdullah Mudzakir, atau sering dipanggil Mbah Mudzakir, lahir pada tahun 1869 di Dusun Jago, Desa Wringinjajar, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, dan wafat pada tanggal 13 September 1950 di Dusun Tambaksari, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak.

Salah satu hal yang paling bikin merinding adalah fenomena “ makam terapung”. Warga  sekitar bilang, setinggi apa pun air pasang laut di Sayung, makam beliau tidak pernah tenggelam. Logikanya, kalau bangunan lain hancur diterjang ombak, makam ini harusnya juga ikut hilang. Tapi kenyataannya, tanah makam itu seakan-akan terangkat naik mengikuti level air, jadi airnya cuma numpang lewat di sekelilingnya saja tanpa masuk ke dalam.

Dulu waktu saya Ziarah kesana, saat itu kalau menuju ke makam Syekh Mudzakir kita harus jalan kaki diatas jembantan kayu yang sangat Panjang dan di sepanjang jembatan kayu tersebut banyak tanaman mangrove yang bisa meneduhkan dan menyejukkan kita saat mau menuju ke makam Syekh Mudzakir, pada saat itu saya kesana pada tahun 2018, dan akomodasi Ketika mau ke makamnya beliau sebenarnya ada dua jalur yaitu jalur laut sama jalur darat yang jalur darat kita harus jalan kaki dan ketika kita lewat jalur laut kita harus menaiki perahu kecil yang bisa diisi 8-10 orang tergantung kapasitas perahu tersebut.

Waktu saya Ziarah ke makam Syekh Mudzakir pada tahun 2018, saya menggunakan jalur laut, saya menaiki perahu besama keluarga besar saya ,pada saat itu saya kebetulan ziarah ke makam beliau karena habis mengantarkan kakek saya pergi umrah, jadi sekalian satu keluarga sepakat untuk mengunjungi makam Syekh Mudzakir, dari situ saya tau ternyata ada salah satu makam yang sangat masyaallah, makam yang bikin kita tau bahwa kuasa Allah itu sangat Dahsyat nyatanya, makam yang bisa terapung ditengah tengah laut tanpa ada air yang masuk kedalam makam tersebut.

Setelah saya berdoa bersama dengan keluarga besar saya, ketika sudah selesai, saya dan keluarga saat mau menaiki perahu buat pulang, keluarga saya mendapat tawaran dari warga lokal bahwa kita bisa lihat-lihat desa yang dulunya masih utuh, tapi sekarang sudah tenggelam tertutupi lumpur dan pohon-pohon mangrove. Yang tersisa hanya beberapa bangunan yang tertutup lumpur. Dan yang paling bikin saya kagum adalah ada satu musala yang masih berdiri kokoh tanpa ada bangunan yang hancur, hanya bagian jendela yang pecah, dan itu masih bersih; lantai musalanya saja yang terpendam oleh lumpur.

Dari mata memandang suasana yang sangat sunyi di tengah hutan mangrove dan pasangnya air laut ini justru membuat saya merasa bahwa ini adalah pemandangan yang sangat menakjubkan. Setelah puas mengelilingi desa yang dulunya tenggelam, kami sekeluarga kembali ke daratan untuk melanjutkan perjalanan kami selanjutnya. Itu adalah pengalaman saya untuk bisa mengetahui makam Syekh Mudzakir atau makam terapung yang ada di tengah laut tersebut.

Setelah sekian lama, kurang lebih sudah 8 (delapan) tahun berlalu, akhirnya ada kesempatan saya untuk menceritakan kembali Makam Syekh Mudzakir ini, pada tahun 2026 ini saya mendapatkan tugas proyek akhir sekaligus tugas sebagai UTS (Ujian Tengah Semester), saya mengambil nama Syekh Mudzakir untuk tugas tersebut, karena saya mau memberi tahu kepada semua orang bahwa ada salah satu waliyulllah yang dimakamkan di tengah laut tersebut, makam yang katanya keramat, karena memang banyak kejadian yang pernah terjadi di area makam tersebut.

Setelah saya kembali mendatangi makam Syekh Mudzakir pada tahun 2026 ini, ada banyak sekali perubahan. Kalau dulu, ketika mau menuju makam beliau, bisa menggunakan jalur darat, tapi sekarang akses untuk ke sana melalui jalur darat ini sudah tidak bisa kita gunakan lagi, karena jembatan yang menghubungkan makam dengan daratan ini terputus dan rusak berat akibat terhantam kapal tongkang yang hanyut terbawa ombak besar pada awal Maret 2026. Hantaman tersebut juga merusak gapura dan dinding area makam apung tersebut. Ada satu rumah warga yang terkena hantaman kapal tongkang tersebut hingga hancur setengahnya. Di sana juga masih ada beberapa rumah warga lokal yang dibangun di area di sisi makam dan masih ada yang bertahan hidup di sana. Walau kondisi cuaca kadang buruk, seperti adanya badai besar dan seringnya air masuk ke dalam rumah, hal itu tidak membuat beberapa warga lokal berpindah dan masih bertahan hidup di sana.

Waktu saya kemarin datang ke sana setelah Lebaran, niatnya saya mau ke makam Syekh Mudzakir itu, sebenarnya mau sekalian pas waktu saya mau pulang dari Semarang ke Demak. Tetapi tidak jadi karena waktu itu sudah terlalu sore dan saya pada waktu itu sedang naik motor sendirian. Jadi niat ke sana saya urungkan dan saya ganti di hari lain. Akhirnya terlaksana pada tanggal 29 Maret 2026 pagi. Kukira pada waktu setelah Lebaran dan pada saat itu kebetulan saya datang ke sana waktu pagi hari itu, wisata religi ini sepi. Ternyata banyak pengunjung yang datang, hingga banyaknya bus-bus besar dari para peziarah.

Saya datang ke makam Syekh Mudzakir ditemani teman saya. Kami ke sana menggunakan motor dan menuju ke makam menggunakan perahu. Untuk menaiki perahu, kita mengeluarkan biaya 24.000 untuk pulang-pergi. Di sana saya ketemu banyak para peziarah dan saya sempat berbincang-bincang dengan para ibu-ibu, sempat menanyakan dari mana mereka. Ternyata mereka ada yang dari Rembang, Pati, Demak, dan banyak lagi dari berbagai daerah lainnya. Waktu sudah sampai di makamnya Syekh Mudzakir, saya melihat banyak sekali bangunan yang berubah dari makam itu sendiri. Dulu makamnya di bawah; sekarang dibangun lebih tinggi dan lebih bagus. Dulu juga tidak ada kamar mandinya; sekarang sudah ada dan bangunannya lebih lebar dan menggunakan bangunan tembok, padahal dulunya masih kayu dan bangunannya masih kecil.

Tidak jarang peziarah datang ke sini sampai meneteskan air mata. Bukan cuma karena sedih, tapi karena merasa “diingatkan” kalau dunia ini cuma sementara. Semua yang kita miliki bisa hilang dalam sekejap karena bencana, tapi malapada dan nama baik seperti yang ditinggalkan oleh Syekh Mudzakir bakal terus diingat dan dijaga sampai kapan pun. Meskipun areanya sederhana dan jauh dari kesan mewah, aura di makam Syekh Mudzakir ini kuat banget. Tidak perlu kubah emas untuk menunjukkan kemuliaan seseorang. Cukup dengan jejak sejarah dan keajaiban yang nyata di depan mata, orang sudah tahu kalau yang bersemayam di sini bukan orang biasa. Kebersihan dan ketenangan di dalam makam juga selalu dijaga banget sama para juru kunci.

Tantangan ke depannya memang berat, apalagi air laut makin naik. Tapi warga Sayung percaya bahwa selama makam itu ada, mereka masih punya harapan. Upaya pelestarian mangrove di sekitar makam juga terus dilakukan. Ini adalah bentuk gotong royong antara manusia dan alam untuk menjaga warisan sejarah yang luar biasa ini agar tidak hilang dimakan zaman. Intinya, kisah Syekh Mudzakir di Sayung ini  adalah pengingat buat kita semua. Mau seberapa besar badai yang datang dalam hidup, kalau fondasi iman kita kuat, kita tidak bakal tenggelam. Jadi, kalau kalian lagi di Jawa Tengah, coba deh sempatkan mampir ke makam Syekh Mudzakir. Rasakan sendiri sensasi berdiri di atas “karomah” yang nyata di tengah kepungan lautan Demak. Itu adalah cerita tentang makam terapung yang ada di tengah Laut Demak dari saya.(*)