Kolaborasi UNNES dan Universiti Malaya mengembangkan keterampilan tulang daun, ecoprint, dan kerajinan resin bagi remaja dewasa berkebutuhan khusus.
SEMENYIH, SELANGOR — Universitas Negeri Semarang (UNNES) melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Leaf to Market: Teknologi dan Inovasi Produk Giftable Inklusif Berbasis Skeleton Leaf dan Ecoprint di APIM Semenyih–Selangor, Malaysia”. Kegiatan ini didanai melalui DPA UNNES yang dikelola LP2M UNNES.
Program diawali dengan sosialisasi melalui Zoom pada 6 Juli 2026, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan dan pendampingan secara langsung pada 13 Juli 2026 di Akademi Permata Impian (APIM), Semenyih, Selangor. Kegiatan terselenggara melalui kolaborasi FMIPA dan FBS UNNES dengan Fakulti Sains, Universiti Malaya (Dr. Maisarah binti Hasbullah).
Tim pengabdian dipimpin Prof. Dr. Ir. Amin Retnoningsih, M.Si., dengan anggota Prof. Dr. Ari Yuniastuti, M.Kes.; Prof. Dr. drh. R. Susanti, M.P.; Prof. Dr. Aditya Marianti, M.Si.; Prof. Dr. Noor Aini Habibah, M.Si.; Dr. Dewi Mustikaningtyas, S.Si., M.Si.Med.; Dr. Sigit Saptono, M.Pd.; dan Dr. Eko Sugiarto, M.Pd. Tiga mahasiswa yang terlibat adalah Sania Luthfia Atika, Dafina Armesya Putri, dan Hizkia Martanoel Kristian.

Tim Pengabdian UNNES bersama mitra Universiti Malaya, pengelola, dan guru pendamping APIM seusai pelatihan pembuatan tulang daun, ecoprint, serta kerajinan resin di Semenyih, Selangor, Malaysia, Senin, 13 Juli 2026.
Pelatihan diikuti guru pendamping, peserta didik APIM yang terdiri atas remaja dewasa berkebutuhan khusus, serta sejumlah peserta didik tamu. Dengan pola stasiun kerja, peserta mempraktikkan pembuatan tulang daun menggunakan abu gosok, pembersihan dan pewarnaan tulang daun, ecoprint teknik pukul, serta pembuatan kerajinan berbasis tulang daun dan resin.

Peserta didik dan guru pendamping APIM memperhatikan dan mempraktikkan tahapan pembuatan tulang daun menggunakan bahan abu. Setiap proses disusun dalam langkah sederhana, visual, berulang, dan aman agar sesuai dengan kemampuan peserta. Guru pendamping dan peserta didik tampak antusias mengikuti seluruh tahapan, mulai dari menyiapkan bahan baku hingga menghasilkan produk kriya yang berpotensi dikembangkan menjadi cendera mata bernilai jual.
Untuk mendukung keberlanjutan program, tim UNNES menyerahkan empat Standar Operasional Prosedur (SOP), yaitu pembuatan tulang daun dengan abu, pewarnaan tulang daun, ecoprint pukul, serta pembuatan kerajinan berbasis resin dan tulang daun. SOP menjadi panduan bagi guru pendamping untuk melaksanakan latihan secara konsisten dan mandiri.
Program Leaf to Market mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan, SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 17 tentang kemitraan. Pemanfaatan daun sebagai bahan kriya mendorong kreativitas sekaligus membuka ruang pembelajaran vokasional yang inklusif.
Tahap penerapan, evaluasi, dan pendampingan lanjutan akan dilakukan melalui Zoom untuk memantau perkembangan keterampilan, mutu produk, dan kendala yang dihadapi APIM. Melalui program berkelanjutan ini, peserta didik diharapkan semakin terampil, percaya diri, serta mampu belajar dan berkarya secara lebih mandiri.
Tagar:
#UNNES #LP2MUNNES #DPAUNNES #PengabdianMasyarakat #APIMSemenyih #LeafToMarket #KriyaInklusif #SkeletonLeaf #TulangDaun #EcoprintPukul #KerajinanResin #PendidikanInklusif #KemandirianDisabilitas #PemberdayaanBerkelanjutan #SDGs #KolaborasiIndonesiaMalaysia #UniversitiMalaya #FMIPAUNNES #FBSUNNES #UNNESMendunia