Pantai Kartini dan Ingatan yang Tak Pernah Mati

Pantai Kartini dan Ingatan yang Tak Pernah Mati

Oleh Nurut Syaha Nata

Malam itu, Pantai Kartini tampak jauh berbeda dari suasana ceria yang biasa hadir di akhir pekan. Tidak ada bau jagung bakar yang menggoda atau teriakan anak-anak yang berlarian di bawah patung kura-kura raksasa.

Saat itu aku memilih menjelajahi sudut kota Jepara seorang diri. Aku mencoba mencari ketenangan setelah penatnya ujian akhir semester yang terasa melelahkan. Langit Jepara malam itu tampak bersih, membiarkan cahaya bulan memantul di permukaan air yang tenang. Di belakangku, bangunan Kura-Kura Oceanarium berdiri megah namun sunyi dalam kegelapan.

Konon katanya, tanah di pesisir ini bukan sekadar hamparan pasir, melainkan titik temu antara napas daratan dan rahasia laut Jawa. Nenekku pernah bercerita bahwa pada malam-malam tertentu, air di Pantai Kartini memiliki “nyawa” yang bisa menyembuhkan luka hati bagi mereka yang mau mendengarkan bincang-bincang ombak dengan tulus.

Aku memejamkan mata, membiarkan angin laut mengurai rambutku. Namun, alih-alih hanya mendengar debur ombak, telingaku justru menangkap alunan gending Jawa yang samar, seperti muncul dari kedalaman laut itu sendiri. Nadanya lirih,halus,berpadu dengan gesekan daun kelapa di kejauhan, menciptakan harmoni yang tidak mungkin dihasilkan oleh penegeras buatan manusia.

Saat aku membuka mata, sebuah keajaiban budaya mulai menampakkan dirinya. Di permukaan laut tepat di depan dermaga, muncul pendaran cahaya hijau keemasan yang membentuk pola-pola ukiran lung-lungan khas Jepara. Cahaya itu tidak diam; ia meliuk-liuk seperti penari yang sedang membawakan tari tradisional di atas panggung air. Aku terpaku.

Anehnya, aku tidak merasa takut, hanya ada rasa takjub di benakku. Dari arah dermaga kayu yang lebih tua, kulihat seorang kakek berbaju surjan dengan ikatan kepala yang sangat rapi. Ia memegang sebatang dupa. Beliau adalah salah satu “penjaga” yang jarang terlihat oleh mata orang awam, sosok yang memastikan bahwa kesucian laut tetap terjaga dari keserakahan manusia.

“Jangan hanya melihat airnya, Nduk. Lihatlah apa yang ia simpan di dalamnya,” ucap kakek itu tanpa menoleh ke arahku. Suaranya berat namun menenangkan.

Ia melambaikan tangannya ke arah laut, dan seketika air di dekat dermaga menjadi jernih secara ajaib. Di bawah sana, aku tidak melihat terumbu karang biasa. Aku melihat sisa-sisa reruntuhan bangunan kuno yang terbuat dari batu hitam, dengan ukiran-ukiran yang menceritakan kejayaan Ratu Kalinyamat.

Ini adalah sisi magis budaya Jepara yang tidak ada di buku sejarah sekolah yang selama ini diajarkan padaku. Seperti memori yang sengaja disembunyikan oleh alam bawah laut. Aku merasa ditarik masuk ke dalam sebuah ruang waktu. Aku melihat bayangan kapal-kapal besar membawa kayu jati dan rempah-rempah, berlayar di bawah restu sang ratu. Energi dari masa lalu itu merambat melalui pilar-pilar dermaga, menyentuh telapak tanganku dan memberiku pemahaman bahwa identitas orang Jepara berakar kuat pada keberanian dan keluhuran budi para pendahulu. Keajaiban itu tidak menghadirkan rasa takut, justru terasa hangat dan dekat. Kakek itu kemudian menjelaskan bahwa laut di Pantai Kartini seolah menjadi penyimpan ingatan.

Katanya, setiap doa yang dipanjatkan masyarakat dalam ritual Lomban tidak hilang begitu saja, melainkan menetap di laut ini dan berubah menjadi kekuatan yang menjaga kota dari marabahaya.

“Kota ini dibangun dari cinta dan seni, Nduk. Itulah mengapa ukiran kita tidak ada tandingannya,” lanjut sang kakek.

Tiba-tiba, pendaran cahaya di atas air perlahan memudar seiring dengan berakhirnya nada gending tersebut. Bayangan kapal-kapal kuno menghilang, digantikan oleh pantulan lampu-lampu kapal nelayan sungguhan di kejauhan. Sang kakek pun sudah tidak ada lagi di sampingku, yang tersisa hanya aroma wangi kayu cendana yang tertinggal di udara malam. Aku berdiri dengan kaki yang lebih kokoh. Pantai Kartini kini tidak lagi kupandang sekadar tempat wisata untuk berfoto atau bersantai. Di mataku, tempat ini seperti ruang sunyi yang menyimpan jejak kehormatan dan jati diri budaya. Aku pun mulai menyadari bahwa sebagai generasi muda, tugasku bukan hanya menikmati keindahannya, tetapi juga ikut merawat “jiwa” kebudayaan yang hidup di balik ketenangan lautnya. Aku berjalan kembali menuju tempat parkir motor dengan perasaan yang sangat berbeda. Patung kura-kura raksasa di depanku kini tampak seolah sedang tersenyum dalam diamnya, menjadi saksi bisu atas apa yang baru saja kualami.

Sesampainya di rumah, aku tidak langsung tidur. Aku membuka kembali buku-buku tentang sejarah Jepara dengan semangat yang baru. Aku ingin tahu lebih banyak tentang siapa kami sebenarnya. Magis budaya di Pantai Kartini malam itu telah membukakan mataku bahwa keindahan fisik Jepara hanyalah kulit, sementara inti jiwanya ada pada kearifan lokal yang mistis namun mendidik.

Kini, setiap kali aku mengunjungi Pantai Kartini bersama teman-temanku, aku selalu menyempatkan diri untuk menatap laut sejenak. Di antara tawa dan riuh pengunjung, aku tetap bisa mendengar bisikan gending itu sayup-sayup. Aku tahu bahwa di bawah sana, sejarah tetap terjaga, dan aku adalah salah satu pewaris yang kini mengemban tugas untuk terus mencintai dan melestarikan tanah kelahiranku ini dengan segenap hati.(*)