Sejuta Pesona di Pinggiran Kota 

Oleh Sekar Ayu Wulan Sya’bani

Bau khas tanah halaman rumah masih terasa selepas hujan, hawa dingin memeluk, dan tetesan embun yang kini masih terlihat. Ini aku, yang saat ini sedang berdiri di sebuah bangunan sederhana namun nyaman, yaitu rumah. Aku lahir dan besar di kota Semarang, kota yang selalu ramai dan tak pernah diam meski besarnya tak sebanding dengan Jakarta. Dua puluh tahun aku menghabiskan waktuku di Kota Semarang, walau berpindah-pindah dari desa satu ke desa lainnya. Pada akhirnya, aku dan keluarga memilih menetap di suatu wilayah, yaitu Desa Nongkosawit, Kecamatan Gunung Pati. 

Desa ini tak begitu besar, namun tanpa banyak orang tahu, Desa Gunungpati menyimpan berbagai wisata alamnya yang sangat indah. Salah satunya adalah yang akan aku ceritakan di sini. Simak ceritaku ya. Indah, asri, sejuk tiga kata yang menggambarkan Desa Kalisidi. Terletak di kaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang , Desa Kalisidi menyuguhkan pesona alam yang menawan dengan dikelilingi pepohonan, sawah,dan hamparan luas rerumputan. Di sana terdapat dua buah curug, yaitu Curug Lawe dan Curug Benowo yang menjadi ikon dari desa tersebut. 

Aku pernah mengunjungi salah satu di antara kedua curug tersebut, yaitu Curug Lawe. Dengan jarak 3 kilometer, aku dan teman-temanku menempuh perjalanan menuju Curug Lawe dengan trek yang cukup terjal. Tak apa karena pemandangan selama di perjalanan tak pernah mengecewakan.  Setelah berjalan selama 11 menit, Aku disuguhkan air terjun yang jernih dan menyegarkan mata sehingga siapapun yang melihat keindahannya akan terpukau. Pantas saja tempat ini sangat terkenal. Rupanya terdapat surga yang berada di kaki Gunung Ungaran. 

Berwisata ke Curug Lawe adalah pilihan yang tepat untuk melepas penat dari aktivitas sehari-hari. Tak sedikit pula yang membawa kekasih hingga keluarganya untuk berkunjung dan menikmati keindahan Curug Lawe. Aku di sana cukup lama menghabiskan waktu , karena aku berpikir bahwa nanti aku tak punya cukup banyak waktu untuk kembali melihat keindahan air terjun ini. Aku menikmati bermain air dengan teman-temanku. Rasanya menyenangkan hingga tak ingin cepat usai. 

Waktu pun bergulir cepat. Aku dan teman-temanku memutuskan untuk segera pulang. Di tengah perjalanan, sesekali aku berhenti untuk mengambil gambar mengabadikan momen yang sangat berkesan. Canda tawa keluar dari mulutku dan lelucon teman-temanku. Saat sudah sampai di parkiran, aku memutuskan untuk makan terlebih dahulu karena perut sudah keroncongan. Kembali aku melanjutkan ke tempat kebun kopi yang tak jauh dari daerah Kalisidi.

Aku hampir lupa. Aku akan menceritakan mengenai Curug Lawe yang tidak semua orang tahu. Curug Lawe bukan hanya sekadar tempat wisata, melainkan lebih dari itu. Curug Lawe sangat bermanfaat bagi warga sekitar. Rupanya air yang mengalir di Curug berasal dari pegunungan. Bisa dibayangkan betapa jernih dan dinginnya air Curug Lawe. Air tersebut juga dimanfaatkan warga sekitar untuk mengairi sawah, untuk berkebun, dan untuk kebutuhan sehari-hari. 

Air yang berasal dari Curug Lawe mengalir bersih dan dimanfaatkan warga tanpa memungut biaya sepeser pun. Sumber air Curug Lawe juga berubah menjadi sumber kehidupan warga sekitar. Tarif tiket masuk pun tak mahal , maka dari itu, Curug Lawe selalu ramai pengunjung dari berbagai wilayah. Para pengelola pun menjadi lebih rajin untuk menjaga kebersihan tempat curug lawe

Aku menuju ke kebun kopi yang tak jauh dari situ, melihat banyaknya pohon-pohon kopi yang tumbuh subur. Pengelolaan perkebunan kopi dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian. Yang setahuku disebut “ KOBUKA (kopi bubuk Kalisidi)” yaitu UMKM warga sekitar Kalisidi. Tak banyak yang dapat aku ceritakan karena waktu sudah semakin sore. Aku harus segera pulang.

Di perjalanan pulang aku tersenyum karena mengingat kegiatan tadi saat berada di curug. Menghabiskan waktu cukup lama dengan teman-temanku membuatku sadar akan berharganya waktu kebersamaan. Curug tak hanya sekadar wisata alam bagiku, namun Curug Lawe juga merupakan tempat aku bisa bebas melepas beban. 

Selain ke Curug Lawe, aku juga pernah berkunjung ke wisata pemandian air panas. Nama tempat itu adalah Nglimut,berada di Desa Limut, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Pada saat itu, hari kedua setelah Lebaran, dengan perasaan sedih karena tak mudik, ayahku mengajakku untuk berwisata ke Nglimut. Seketika perasaan sedihku luntur. Ayah menyuruhku untuk mengajak beberapa anggota keluarga yang lain. Betapa senangnya mereka ikut liburan kali ini.

Aku dan keluarga ku berkumpul di rumahku selepas subuh, untuk menghindari keramaian tempat kolam di sana. Kami sepakat membawa barang bawaan masing-masing, seperti makanan, tikar, dan alat hiburan lainnya. Sampai di Nglimut, suasana masih sepi dan sejuk. Rasanya rindu, seolah sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke tempat ini. Aku pun mulai masuk dan sudah terdengar suara air mengalir, sangat menenangkan hati.

Aku dan keluarga segera memilih pendopo yang nantinya akan kami tempati sebagai tempat bersantai. Satu per satu keluargaku mulai berganti baju dan berlari ke kolam untuk menyebur. Pemandian air panas Nglimut sendiri memiliki tiga kolam yang berisi air panas dan tiga kolam yang berisi air dingin. Pengunjung dibebaskan memilih memakai kolam air dingin atau air panas. Warna kolam air panasnya sedikit kecoklatan, kata ayaku. Itu karena ada campuran belerang di dalamnya. Namun , kolam air dinginnya sangat jernih. Selain kolam renang, di sana juga ada wahana permainan seperti ayunan, perosotan, bahkan ada kebun binatang kecil. Tempat itu adalah pilihan yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga.(*)