Berwisata ke Pinea Forest Mangli di Magelang

Oleh Putri Zuanita Naelasari

Awalnya bukan aku yang ngajak. Entah siapa yang pertama kali lempar ide itu di grup whatsapp, akan tetapi tiba-tiba semuanya setuju dan tiba-tiba kita sudah menetapkan tanggal keberangkatan. Begitulah cara pikir kami membuat keputusan cepat, sedikit kacau, dan biasanya berakhir menyenangkan. Berhubung yang ikut ada enam orang dan itu cewek semua, jadi cukup untuk berboncengan masing-masing. Hari itu tepatnya saat libur semester dua. Kami berangkat pagi-pagi sekali. Bukan karena kami orang-orang disiplin, tapi karena sudah ada kesepakatan tidak tertulis bahwa siapa yang telat ditinggal. Tentu saja tidak serius, tapi entah kenapa ancaman itu cukup ampuh untuk membuat kami semua siap tepat waktu. Jalanan masih sepi, udara pun masih dingin, dan sinar matahari baru saja merangkak naik bukit. Rasanya seperti hari yang memang sengaja diciptakan untuk perjalanan.

Rute menuju wisata bukan jalanan yang biasa kami lalui. Setelah dari jalan utama, kami mulai masuk ke jalan yang lebih sempit, menanjak, dan dikelilingi pepohonan di kanan-kiri. Tanpa sadar aku memperlambat motorku, bukan karena takut, melainkan karena pemandangannya terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Gunung Merbabu terlihat dari sisi kanan jalan besar, tenang, dan terasa sangat dekat. Udara berubah drastis begitu kami mendekati kawasan hutan. Dari yang tadinya biasa, mendadak menjadi dingin dan segar dengan aroma tanah basah yang khas. Aroma itu sulit dijelaskan, seperti bau setelah hujan tapi versi yang lebih bersih dan lebih alami. Aku menarik napas dalam-dalam dan tidak ingin menghembuskannya terlalu cepat. 

Parkiran belum terlalu ramai ketika kami tiba. Kami mengunci motor, merapikan jaket dan rambut yang sudah acak-acakan karena angin, lalu berjalan ke pintu masuk. Dari luar saja sudah kelihatan berapa rapatnya pohon-pohon pinus di sana. Pohon-pohon itu tinggi sekali, tumbuh lurus ke atas seperti sedang berlomba menyentuh langit. Batangnya berwarna cokelat tua, sedikit kemerahan, dan di antara celah-celahnya, matahari masuk dengan caranya sendiri, tipis, berliku, seperti sinar lampu sorot di panggung pertunjukan. Langkah pertama ketika masuk ke dalam hutan itu terasa berbeda. Suaranya berubah. Kebisingan dari jalanan menghilang, digantikan oleh suara angin yang menggerakkan puncak pohon di atas. Sesekali terdengar suara burung, tapi tidak terlalu sering. Yang ada lebih banyak hening yang terasa hidup bukan hening yang kosong, akan tetapi hening yang dipenuhi oleh sesuatu yang tidak bisa diberi nama.

Kami mulai berjalan menyusuri jalan setapak. Jalurnya tidak terlalu sulit. Tanah di bawah kaki terasa lembap dan sedikit beralaskan jarum-jarum pinus yang jatuh. Setiap beberapa langkah ada sudut yang tampak seperti spot foto berupa pepohonan-pepohonan berjajar dengan jarak yang hampir teratur, lantai hutan ditutupi bayangan panjang, dan dari kejauhan sinar matahari menciptakan efek kabut tipis yang memperindah segalanya. Aku sampai tidak berhenti menggunakan kamera ponselku untuk menyimpan segala keindahan yang kulihat.

Yang tidak kuduga adalah seberapa damai rasanya di sana. Aku pikir pergi rame-rame berarti kami akan banyak tertawa dan berisik, dan ternyata memang benar terjadi momen-momen itu, tetapi ada juga saat-saat di mana kami semua diam. Bukan karena tidak punya bahan obrolan, tapi karena suasana hutannya yang membuat diam terasa lebih tepat. Terkadang sebuah keindahan itu memang tidak butuh komentar. 

Di beberapa titik terdapat spot-spot foto yang sudah tertata dengan rapi dan estetik. Ada ayunan kayu yang menggantung di antara dua pohon, ada bangku-bangku kecil dari kayu, dan ada beberapa dekorasi sederhana yang menyatu dengan alam sekitarnya tanpa terasa mengganggu. Kami tentu saja antre bergantian untuk foto. Antrean dengan sabar, menunggu giliran masing-masing sambil sesekali menertawakan ekspresi satu sama lain. 

Satu hal yang benar-benar membuatku berdiri lebih lama dari yang seharusnya adalah saat aku memilih berdiri diam di salah satu jalur yang agak sepi dari pengunjung lain. Aku biarkan teman-temanku sedikit menjauh ke depan, dan selama beberapa menit aku cuma berdiri, melihat ke atas melalui kanopi pohon. Langit biru terpotong-potong oleh cabang dan daun pinus, dan angin bertiup pelan dan bayanganku sendiri jatuh memanjang di lantai hutan. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku berdiri diam seperti itu tanpa merasa harus melakukan sesuatu. Tidak ada notifikasi yang harus dicek; tidak ada tugas yang melayang-layang di kepala. Hanya hutan, langit, dan suara daun sudah cukup membuatku tenang.

Menjelang siang kami mulai lapar. Ada warung kecil di area dekat pintu keluar yang menjual jagung bakar dan minuman hangat. Kami mampir dan memesannya. Jagungnya sederhana, dibakar dengan arang, dioles margarin dan sedikit garam. Tapi entah kenapa rasanya luar biasa enak, mungkin karena lapar, atau mungkin karena udara dingin, atau mungkin juga karena memang ada sesuatu dari makanan di tempat terbuka yang membuat segalanya terasa lebih nikmat. 

Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah ada di waktu perjalanan pulang. Perjalanan pulang selalu punya perasaan tersendiri. Kami turun dari Wisata Mangli dengan pemandangan yang berbeda dari saat naik tadi. Matahari sudah lebih tinggi, cahayanya lebih tegas, dan ladang-ladang di lereng bukit terlihat lebih jelas. Punggungku sedikit pegal karena motornya tidak terlalu nyaman untuk perjalanan jauh, tapi aku tidak benar-benar peduli. 

Dalam perjalanan pulang itu, aku sempat berpikir betapa mudahnya sebenarnya untuk bahagia. Tidak butuh hal yang rumit atau mahal. Cukup enam orang teman, motor masing-masing, udara pegunungan, dan hutan yang membiarkan kamu diam sejenak dari semua hal yang biasanya membuatmu sibuk.Sampai di kos, bau pinus masih terasa sedikit di jaket yang kubawa. Aku tidak langsung mencucinya. Karena ada beberapa hal yang memang lebih baik dibiarkan bertahan sedikit lebih lama. (*)