Pulang ke Hamparan Hijau

Oleh Wisnu Mukti Wibowo

Kereta api Pasundan yang kutumpangi perlahan melambat saat memasuki peron Stasiun Tasikmalaya. Bau udara khas Priangan Timur yang sejuk langsung menyapa paru-paruku, seolah memberikan pelukan selamat datang yang paling tulus. Rasanya sudah terlalu lama aku meninggalkan kota ini untuk mengadu nasib di tanah rantau, hingga setiap sudut stasiun ini tampak begitu ndédeuheur (sangat dirindukan).

Begitu keluar dari pintu stasiun, aku langsung disambut oleh deretan tukang ojek dan delman yang masih setia menunggu penumpang. Aku memilih untuk berjalan kaki sedikit menuju warung langganan keluargaku sejak kecil untuk mencari sarapan. Rasanya tidak sah pulang ke Tasik tanpa menyantap Nasi Tutug Oncom yang masih haneut (hangat) dengan aroma kencur yang menggoda selera.

Setelah perut terasa seubeuh (kenyang), aku melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tuaku di daerah Indihiang. Di sepanjang jalan, aku melihat banyak perubahan. Gedung-gedung baru mulai bermunculan, namun suasana kekeluargaannya tetap sama. Orang-orang saling menyapa dengan ramah, memberikan senyum someah (ramah/baik hati) yang sulit kutemukan di hiruk-pikuk kota besar.

Sesampainya di rumah, Ibu langsung menyambutku di depan pintu dengan mata yang berkaca-kaca. Beliau langsung memelukku erat dan menanyakan kabarku selama di perantauan dengan nada yang sangat deudeuh (penuh kasih sayang). Ayah yang sedang duduk di teras sambil membaca koran pun segera bangkit dan menyalami tanganku dengan kuat, sebuah gestur kebanggaan seorang bapak kepada anaknya.

Sore harinya, aku memutuskan untuk pergi ke pusat kota untuk melihat kerajinan Kelom Geulis yang sangat terkenal itu. Aku mampir ke salah satu bengkel pengrajin dan melihat betapa talianti (teliti) mereka mengukir kayu menjadi alas kaki yang sangat indah. Tasikmalaya memang tidak pernah kekurangan tangan-tangan kreatif yang mampu menyulap benda sederhana menjadi karya seni bernilai tinggi.

Keesokan paginya, aku merencanakan perjalanan ke Gunung Galunggung bersama teman-teman lama masa SMA. Kami berangkat pagi-pagi sekali agar bisa melihat matahari terbit dari puncak kawah. Udara pagi itu terasa sangat tiis (dingin, menusuk tulang, namun semangat kami untuk bernostalgia jauh lebih besar daripada rasa dingin yang menyerang.

Menaiki 620 anak tangga menuju puncak kawah bukanlah perkara yang enteng (mudah) bagi tubuhku yang jarang berolahraga ini. Berkali-kali aku harus berhenti untuk mengatur napas sambil memegang lutut yang mulai terasa lemas. Teman-temanku hanya tertawa melihatku sambil berteriak, ‘Ayo, jangan ngageprak (menyerah/terkapar) di tengah jalan!’, yang membuatku kembali termotivasi.

Setibanya di atas, rasa lelah itu seketika sirna digantikan oleh pemandangan kawah yang sangat asri (indah/alami) dengan balutan kabut tipis. Kami duduk di pinggir kawah sambil menyeruput kopi panas dan memakan pisang goreng yang dibeli dari warung di bawah tadi. Obrolan kami mengalir begitu saja, mulai dari urusan pekerjaan hingga kenangan konyol saat masih duduk di bangku sekolah.

Setelah puas menikmati puncak Galunggung, kami memutuskan untuk turun dan berendam di pemandian air panas Cipanas. Airnya yang mengandung belerang terasa sangat nyaman di kulit, seolah meluruhkan segala beban pikiran yang kubawa dari kota. Rasanya begitu tumaninah (tenang/damai) bisa beristirahat di tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan masa kecil ini.

Malamnya, kami berkumpul di kawasan Alun-alun Tasikmalaya yang kini semakin tertata rapi. Cahaya lampu kota dan megahnya Masjid Agung Tasikmalaya memberikan pemandangan yang sangat matak deudeuh (menyejukkan hati). Kami jajan Baso Aci di pinggir jalan yang rasanya sangat pedas namun bikin ketagihan, benar-benar ciri khas kuliner lokal yang tak tertandingi.

Hari-hari terakhirku di kampung halaman diisi dengan mengunjungi saudara-saudara dan tetangga sekitar rumah. Ibu sibuk menyiapkan berbagai macam oleh-oleh, mulai dari kerupuk melarat hingga bordir Tasik yang pengerjaannya sangat rapi. Beliau berpesan agar aku tidak sering-sering memberi kabar meskipun sedang sibuk bekerja.

Waktu keberangkatan pun tiba, dan aku harus kembali ke stasiun dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa berat untuk meninggalkan tanah kelahiran ini, namun ada juga semangat baru yang telah terisi penuh. Tasikmalaya akan selalu menjadi tempatku untuk pulang, tempat di mana hatiku merasa paling bungah (bahagia) dan diterima apa adanya.