Saya bertempat tinggal di Sudagaran tepatnya di RT 3 Kutowinangun. Kami sekeluarga mengontrak di sana. Kontrakan itu banyak area area yang bocor ketika turun hujan. Kami sekeluarga sering panik ketika hujan turun karena pasti bergegas untuk menyiapkan ember di titik titik yang bocor. Saat hujan turun saat itulah saya yang masih bayi digendong sembari sang ibu membantu menempatkan ember. Kita sekeluarga prihatin dengan keadaan yang dialami, genteng yang selalu bocor, saya dan kaka saya yang selalu ditinggal ayah kerja di Jogja dan bertemu hanya saat pagi harinya, sedangkan malam harinya kami terlelap tidur dan ayah saya baru pulang kerja. Banyaknya orang gila yang sering tidur di teras kontrakan kami, bahkan ada banyak sekali hal hal ghaib yang kita temui disana. Ayah dan ibu saya sudah merencanakan untuk membangun rumah sendiri supaya bisa lebih nyaman dan aman. Kami membangun rumah di tempat yang sama namun berbeda RT saja.
Saat itu kakak saya yang masih berusia 3 SD kami pindah ke rumah baru yang sudah direncanakan sebelumnya. Saya yang saat itu masih paud bertanya kepada orang tua saya yang sedang menyiapkan barang barang yang perlu dibawa ke rumah baru.
Pagi harinya kami mulai bergegas menuju rumah baru kami. Tetangga di sana ramah sekali, mereka banyak yang menyapa kami. Kami merasa sangat senang karena memiliki tetangga yang begitu baik. Setelah masuk ke dalam rumah, kami sekeluarga langsung membersihkan dan menata barang barang yang sudah kita bawa. Setelah selesai ibu, ayah, dan kakak saya beristirahat. Saya dan kakak saya merasa sangat senang sekali akhirnya memiliki rumah sendiri dan tidak lagi mengalami kehujanan didalam rumah. Ketika yang lain beristirahat saya keluar sebentar untuk melihat lingkungan baru, ternyata banyak anak anak seumuran saya yang sedang bermain bersama di pinggiran jalan kecil.
Keesokan harinya ayah dan ibu berencana untuk mendaftarkan saya untuk mengaji di sekitar rumah. Tempat mengaji terletak di pinggr jalan raya, sehingga orang tua disana bisa tenang karena anaknya tidak perlu menyebrang jalan. Banyak anak anak yang mengaji disana hingga khatam. Tetapi karena saya saat itu masih kecil awal awal diantar kedua orang tua. Jadwal mengaji setiap hari yang dimulai dari sore hari mulai jam 3 hingga jam 4. Jika hampir khatam mengaji bisa dilakukan sampai malam hari.
Tiba sore harinya, saya yang mulai mengaji di tempat Ustadz Ngadirun. Saya yang seorang pemalu harus bisa berkenalan dengan teman teman disana yang sama sekali belum saya kenal. Diantarlah saya dengan ibu jalan kaki karena dekat rumah untuk mengaji. Sesampainya disana, ibu saya mengantarkan sampai ke dalam tempat mengaji dan kemudian meninggalkan saya. Saya yang masih malu malu hanya terdiam duduk sembari menunggu giliran mengaji. Tertib dan rapi anak anak disana menunggu giliran, mereka tidak mendahului antrian. Saat menunggu giliran, tiba tiba saya didekati oleh seorang anak kecil yang seumuran saya dengan mengajak mengobrol. Sepertinya dia tahu bahwa saya anak baru di sini.
Ya di tempat mengaji itulah aku bertemu dengan Naya, dan kami selanjut menjadi teman yang sangat akrab. Hari demi hari minggu demi minggu hubungan kami semakin dekat, bisa dibilang kami menjadi besti. Saya merasa beruntung bisa bermain dan kenal dengan seseorang bernama Naya yang baik dan ramah. Naya yang selalu mengajakku k emana saja untuk bermain entah itu bersepedaan bersama atau bermain hanya di sekitar rumah. Naya yang selalu memberikan apa saja yang dia miliki dan membagikan kepadaku. Aku merasa senang sekali bermain dengannya.
Kami yang sudah beranjak SD dengan perbedaan sekolah, tidak menjadikan hubungan kami renggang. Saya disekolahkan orang tua di SD IT Al Furqan karena orang tua saya ingin anaknya memperbanyak dan memperdalam ilmu agama yang nantinya akan diajarkan. Sedangkan Naya di SD Negeri 3 Kutowinangun, sekolah yang dekat dengan rumah kami. Banyak sekali orang tua yang menyekolahkan anaknya di sana karena selain dekat dengan rumah, orang tuanya pun tidak perlu menjemput mereka. Anak mereka sudah terbiasa akan jalan kaki atau bersepeda ke sekolah. Saat itu saya yang sudah bisa menaiki sepeda, dan Naya juga sering bersepeda ketika pergi ke sekolah. Biasanya saya ketika berangkat sekolah diantar, tetapi karena melihat Naya yang mandiri pergi sekolah menggunakan sepeda kecilnya, saya pun merasa ingin sepertinya. Saya pun izin kepada kedua orang tua bahwa saya ingin menaiki sepeda saat berangkat sekolah. Walaupun sekolah saya memang menyebrang jalan raya tetapi jika pagi hari terdapat satpam yang siap sedia membantu saya ketika hendak menyebrang.
Waktu pengambilan rapor kenaikan kelas, ibu saya yang mengambil rapor saya dan hasilnya saya naik kelas dan mendapatkan nilai yang memuaskan. Tetapi berbeda dengan Naya, ia tidak naik kelas saat itu. Ketika saya bermain dengannya saya pun bertanya kepadanya bagaimana hasil belajarnya selama ini.
Pada akhirnya, saya mengetahui bahwa dia ternyata memiliki cerita yang menyedihkan dan memprihatinkan. Naya yang ternyata kekurangan kasih sayang orang tuanya. Sejak kecil dia tinggal di rumah yang berisi kakek neneknya, orang tua, dan adik perempuannya. Orang tuanya sudah bercerai sejak ia masih kecil, mereka sering berantem hanya karena masalah kecil. Naya juga pernah cerita bahwa ia sering dipukuli dan dimarahin ayahnya. Ibunya yang tidak terlalu perhatian kepadanya.
Semenjak bercerai, ibunya pergi meninggalkan Naya ke luar negeri lebih tepatnya ke negara Malaysia untuk bekerja disana. Sedangkan ayahnya pergi meninggalkan Naya begitu saja, entah pergi ke mana Naya pun tidak mengetahui. Karena ibunya bekerja di luar negeri Naya tinggal hanya bersama kakek nenek dan adik perempuannya. Mereka berdua setelah pulang sekolah biasanya membantu kakek neneknya berjualan di pasar dan pulang ketika hampir menjelang Isya tetapi tidak sering, kadang pulang cepat di sore hari jika memang dagangannya sudah habis terjual. Jika sedang luang saya pun ikut Naya ke pasar untuk membantu kakek neneknya, walaupun mungkin saya tidak membantu banyak disana.
Waktu yang terus berjalan hingga tak sadar bahwa saya yang sudah menginjak kelas 8 SMP sedangkan Naya masih kelas 7 SMP karena dia sempat tidak naik kelas saat itu. Semenjak itu Naya memanggilku menggunakan kata “Mbak” karena saya menjadi lebih tua darinya. Semakin besar semakin kita menjadi jarang bermain bersama karena memiliki kesibukannya sendiri. Saya yang mulai pulang jam empat sore dan mengikuti berbagai organisasi di sana. Ketika bulan Ramadan tiba saat itulah kami mulai sering bersama di sore dan malam harinya. Bulan Ramadan di mana bulan yang malamnya terdapat salat sunah yaitu Salat Tarawih. Pada malam hari saat bulan Ramadan banyak orang orang yang berbondong bondong ke masjid dekat rumah untuk menunaikan ibadah tersebut.
Dalam perjalanan pulang aku bertanya kepada Naya untuk bermain bersama setelah ini di rumahku. beberapa menit kemudian, Naya pun datang dengan membawa jajan di tangannya.
Seiring berjalannya waktu, saya yang sudah duduk di bangku SMP kelas 9 sementara Naya yang memasuki kelas 8 SMP. Ketika itu juga ibu Naya yang kerja di Malaysia menikah dengan seorang pria pilihannya yang berasal dari Medan. Setelah beberapa bulan mereka akhirnya memiliki seorang anak laki laki. Karena sudah menikah dengan pria asal Medan, ibunya Naya pindah ke Medan dan tinggal disana. Sedangkan Naya masih tinggal di rumah bersama kakek nenek dan adik kandungnya. Mendengar hal itu saya merasa kasihan padanya yang tidak tinggal bersama orang tuanya. Saya merasa bersyukur diberikan orang tua yang sayang kepada saya. Naya pernah bercerita bahwa ia sebenarnya rindu dengan orang tuanya dan ingin tinggal bersama. Keluhan itu sering saya dengar dari mulut Naya ketika saya bermain dengannya.
“Mbak, aku kangen banget sama Ayah dan Ibu,” keluhnya kepadaku.
“Sabar ya, Naya, pasti orang tua kamu juga kangen sama kamu,” ucap saya.
“Kata ibu aku bakal dijemput kalau dah lulus kelas 8 SMP.”
“Bentar lagi kamu kan kamu lulus 8 SMP. Tunggu aja sabar,” jawabku menenangkan.
Tiba saatnya Naya lulus kelas 8 SMP dan saya lulus kelas 9 SMP. Saya yang menganggap bahwa Naya akan tetap tinggal di sini, meskipun ibunya pernah mengatakan akan menjemput Naya ketika Naya sudah lulus.
Tak disangka dan benar terjadi sore harinya ibu Naya dengan berpakaian rapi membawa koper untuk diisi baju Naya datang ke rumah untuk menjemput anaknya disaat kami sedang bermain. Tangis Naya pecah saat itu, ia langsung memeluk sang ibu sembari mengatakan bahwa ia rindu dengan ibunya.
“Ibuuu… Naya kangen banget sama Ibu,” ucap Naya sambil memeluk ibunya.
“Ibu juga kangen sama Naya,” kata ibunya.
Saya pun yang berada di sana ikut menangis. Akhirnya Naya bisa bertemu dengan ibunya setelah sekian lama tidak berjumpa. Terasa sedih di dada.
Naya akan ikut dengan ibunya ke Medan. Itu berarti saya tidak dapat bermain lagi dengannya. Tetapi saya berpikir bahwa pasti Naya akan kembali lagi walaupun hanya ketika Ramadan atau libur panjang. Naya dan ibunya pun mulai menyiapkan barang barang Naya dan adiknya yang akan dibawa ke Medan.
Naya sudah pergi, saya pun pulang ke rumah untuk beristirahat. Hari demi hari, tahun demi tahun. Saya yang selalu setia menunggu kabar dari Naya, tetapi tidak pernah muncul notifikasi ataupun getaran dari ponsel saya. Pikir saya mungkin Naya sedang sibuk. Tetapi sampai sekarang juga Naya tidak memberi kabar kepada saya. Ternyata pelukan yang kemarin pernah ada menjadi pelukan terakhir bagi kami berdua. Saya merasa sedih dan berpikir bahwa Naya melupakan saya. Walaupun begitu saya harus tetap menjalani kehidupan yang saya jalani sampai sekarang.(*)
Oleh Tsaniyatu Mutiara Abdah