Di sebuah desa kecil yang berada di pinggir hutan, terdapat sebuah jembatan tua yang dikenal dengan nama Jembatan Bacem. Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan jembatan itu dibangun, namun cerita tentang asal-usulnya sudah menjadi bagian dari folklor yang diceritakan turun-menurun.
Menurut legenda yang beredar di kalangan penduduk, jembatan ini dibangun oleh seorang pria bernama Ki Rante, seorang tukang kayu dan pandai besi yang sangat dihormati di desanya. Ki Rante terkenal karena keterampilan tangannya dalam membuat berbagai alat, mulai dari senjata hingga perabotan rumah tangga. Namun, ada satu keahlian lain yang ia miliki yang membuatnya berbeda dari yang lain: Ki Rante bisa “mendengar” suara dari alam.
Pada suatu malam yang sangat gelap, ketika bulan hanya tampak sebagai cincin tipis di langit, Ki Rante mendengar bisikan dari hutan. Suara itu mengalir begitu halus, seolah datang dari dalam tanah. Suara itu berkata, “Bangunlah sebuah jembatan, Ki Rante. Jembatan yang akan menghubungkan dunia yang terpisah oleh sungai dan waktu.”
Ki Rante tak bisa mengabaikan bisikan itu. Ia mengumpulkan semua kayu terbaik yang bisa ditemukan di hutan, bersama dengan besi yang ia tempa sendiri, dan mulai membangun sebuah jembatan di atas Sungai Bacem yang mengalir tenang di bawahnya. Jembatan itu bukan hanya berfungsi sebagai penghubung antara dua desa, tetapi menurut Ki Rante, ia dibangun untuk menghubungkan dua dunia: dunia manusia dan dunia yang lebih gelap, tempat roh-roh bersemayam.
Namun, ketika jembatan itu selesai dibangun, peristiwa aneh mulai terjadi. Setiap kali malam tiba, terdengar suara-suara aneh di sekitar jembatan. Ada yang mengatakan mereka mendengar tangisan seorang wanita yang hilang, ada pula yang mendengar langkah kaki berat seperti raksasa yang berjalan di atas kayu. Tak jarang, warga yang lewat di jembatan itu merasa ada sesuatu yang mengawasi mereka, seperti ada mata-mata yang tersembunyi di balik bayangan gelap.
Salah satu cerita yang paling terkenal adalah tentang seorang pemuda yang bernama Joko. Pada suatu malam, Joko yang sedang dalam perjalanan pulang dari desa sebelah, memutuskan untuk melintasi Jembatan Bacem. Ia baru saja melewati separuh jembatan ketika mendengar suara lembut memanggil namanya.
“Joko… Joko…,” suara itu berbisik dari arah seberang.
Dengan penasaran, Joko berbalik dan melihat sosok wanita berpakaian putih yang tampak berdiri di ujung jembatan. Wajahnya tak tampak jelas karena tertutup kabut tipis, namun suaranya memikat Joko untuk mendekat.
Namun, begitu ia melangkah lebih dekat, angin kencang tiba-tiba menerpa wajahnya, membuatnya terhuyung dan terjatuh ke dalam sungai yang deras. Sebelum tenggelam, Joko sempat melihat dengan jelas wajah wanita itu, yang ternyata bukanlah wanita biasa. Matanya tampak kosong, penuh kesedihan yang mendalam, dan wajahnya terbakar seperti tergores api. Sejak saat itu, Joko tak pernah muncul lagi.
Kisah Joko menjadi peringatan bagi warga desa. Mereka percaya bahwa Jembatan Bacem tidak hanya menghubungkan dua tempat fisik, tetapi juga menjadi gerbang bagi roh-roh yang tak bisa ditemukan jalan pulang.
Tak hanya Joko yang menjadi korban. Warga desa yang berani melewati jembatan itu sering menghilang tanpa jejak. Setiap kali seseorang mencoba mencari tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi, mereka hanya menemukan jejak-jejak kaki basah yang mengarah ke tengah jembatan, kemudian hilang begitu saja.
Berita tentang kejadian-kejadian aneh itu menyebar cepat. Beberapa orang mulai percaya bahwa jembatan itu dihuni oleh roh seorang wanita yang dulunya tenggelam di sungai saat ia sedang melarikan diri dari kejaran seorang pria yang sangat dicintainya. Pria itu, yang dikenal sebagai Banyu, begitu patah hati setelah mengetahui bahwa wanita yang ia cintai telah terbunuh dalam sebuah kecelakaan di jembatan tersebut. Sejak itu, Banyu menghilang, dan kabarnya, jembatan itu menjadi tempat bagi roh wanita dan Banyu untuk saling mencari, tanpa bisa menemukan jalan pulang.
Namun, ada cerita lain yang lebih menyeramkan. Konon, jembatan itu bukan hanya sekadar tempat bagi roh yang tersesat. Beberapa orang yang berani mendekati tengah jembatan pada malam hari, mengaku mendengar suara-suara seperti ritus kuno yang dipimpin oleh Ki Rante sendiri. Mereka percaya bahwa Ki Rante, yang membangun jembatan itu dengan maksud menghubungkan dunia manusia dan dunia roh, telah terperangkap di dalam jembatan itu selamanya. Sejak malam itu, jembatan itu menjadi tempat bagi roh-roh yang tak bisa beristirahat, mencari korban-korban baru untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan.
Di beberapa malam yang sangat gelap, kabut tebal akan turun dan melingkupi seluruh jembatan. Warga yang lewat seringkali melaporkan melihat cahaya aneh yang bergerak-gerak di atas jembatan, seolah-olah ada sesuatu yang mengawasi mereka dengan sangat cermat. Mereka yang nekat mencoba mendekat selalu kembali dengan wajah pucat, menceritakan bahwa mereka merasa seolah-olah jembatan itu ingin menelan mereka, membawa mereka ke dunia yang tak terjangkau oleh manusia.
Meskipun banyak yang takut melintasinya, ada pula yang tertarik dengan misteri jembatan itu. Beberapa pemuda datang di malam hari, berharap bisa melihat roh yang dikatakan menghantui jembatan. Mereka datang untuk membuktikan diri, namun tak pernah ada yang bisa kembali dengan penjelasan yang memadai.
Bagi sebagian orang, Jembatan Bacem hanyalah tempat yang terlupakan, namun bagi yang percaya, itu adalah gerbang antara dua dunia. Dunia manusia yang penuh dengan kehidupan dan dunia roh yang terjebak, mencari jalan mereka kembali, berputar-putar dalam kegelapan yang tak pernah berakhir.
Dan hingga kini, setiap kali hujan turun, kabut tipis selalu melayang di sekitar jembatan, dan suara-suara aneh kadang terdengar di malam hari, seperti bisikan yang mengundang rasa penasaran. Banyak yang berpendapat bahwa Jembatan Bacem adalah tempat di mana batas antara dunia manusia dan dunia roh begitu tipis, dan terkadang, roh-roh yang terlupakan mencari jalan mereka kembali.(*)
Oleh Karima Husna