Kehidupan manusia tak pernah bisa luput dari sejarah. Sejarah secara sederhana dapat diartikan sebagai kisah atau cerita tentang masa lampau dalam kehidupan manusia. Cerita ini dituangkan dalam berbagai bentuk, baik lisan maupun tulisan. Contohnya cerita rakyat yang seringkali menjadi kisah sejarah masyarakat di suatu tempat, misalnya mengenai asal-usul penamaan nagari atau wilayah, asal-usul tradisi tertentu, asal-usul terjadinya suatu tempat, kesaktian tokoh tertentu, dan lain sebagainya. Cerita tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sehingga berkembang menjadi sumber sejarah lokal yang tak tak lekang oleh waktu. Cerita rakyat menjadi sumber sejarah yang selalu menarik dan tak jarang menyiratkan filosofi yang mendalam. Kisah yang terjadi didalamnya terus berdinamika ditengah kehidupan masyarakat, didengar, diingar, dan di interpretasikan dari, oleh dan untuk masyarakat.
Cerita ini hadir dari sebuah dusun kecil yang terletak di Desa Purworejo, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Hadir sebagai dusun kecil yang terdiri dari lima rukun tetangga, dusun ini bernama “Dusun Dompon”. Dusun Dompon merupakan sebuah dusun yang masih lekat akan budaya lokal, menjunjung tinggi tradisi, dan terus merawat adat dan nasihat. Konon katanya, Dusun Dompon berasal dari kosakata bahasa jawa, yaitu “Dompol”. Dalam bahasa jawa, “Dompol” memiliki arti bergerombol, berkumpul, atau bersamaan. Makna kata “Dompol” ini merupakan sebuah kiasan, “Dompol” sendiri biasanya digunakan untuk mendefinisikan gerombol pada buah-buahan, misalnya kelengkeng atau rambutan yang identik dengan ciri buah bergerombol atau bersama-sama.
Bukan tanpa alasan, hal ini merujuk pada realitas yang terjadi di masyarakat, sebagaimana yang diungkapkan oleh Mbah Selam selaku sesepuh atau orang yang dituakan dalam kalangan masyarakat Dusun Dompon, “Dompon iku ibarat gambaran, kadadean ning kene ibarat ace sak dompol, opo-opo bebarengan, jajal yen ono wong nikah, bareng-bareng nikah gonta-ganti, semono uga nek ono lelayu utawa wong ninggal, uga bebarengan ganti-gantian, utawa nek ono wong meteng lan lahiran, ra let suwe podo bareng-barengan, dompol sing dimaksud ning kene nggambarke kondisi iku, opo-opo sing ndompol utawa sesarengan” (Dompon itu ibarat gambaran, kejadian disini ibarat rambutan satu gandeng, apa-apa bersamaan, coba kalau ada orang nikah, bareng-bareng nikah secara bergantian, begitupula kalau ada orang meninggal atau berpulang, juga bersamaan ganti-gantian, atau ketika ada orang hamil atau lahiran, tidak berselang lama pasti jaraknya, bersamaan, gandeng atau dompol yang dimaksud disini menggambarkan kondisi itu, apa-apa yang bersamaaan).
Nama Dompon merupakan identitas yang unik untuk menggambarakan bagaimana kondisi yang terjadi di Dusun Dompon, nama ini diberikan oleh seorang tokoh yang namanya melegenda di dalam tataran kehidupan masyarakat dan dipercaya sebagai cikal bakal Dusun Dompon itu sendiri, orang-orang familiar menyebutnya sebagai “Sing Mbaurekso” bernama “Singa Yuda”. Istilah “Sing Mbaurekso” dalam khasanah budaya jawa diartikan sebagai tokoh penunggu atau sang pelindung/penjaga bagi suatu tempat tertentu yang dinilai memiliki keistimewaan atau bersejarah bagi perjalanan suatu tokoh. Sampai saat ini, makam “Singa Yuda” selaku tokoh yang menjadi cikal bakal di Dusun Dompon masih terawat dan tidak pernah terlewat di ziarahi sebelum melakukan kegiatan apapun di Dusun Dompon, entah kegiatan yang bernilai tradisi, seperti nyadran, merti dusun, suronan, maupun kegiatan budaya seperti reog. Masyarakat sangat menghormati leluhur yang dinilai sebagai “founding father” Dusun Dompon.
Dusun Dompon juga lekat jika dikaitkan dengan tokoh legendaris yang pernah napak tilas di tanah kecil yang terletak di sebelah timur Dusun Kalegen ini. Konon katanya, ada 2 makam petilasan tokoh legendaris yang dulunya pernah menjejakkan langkah di Dusun ini, yaitu Nyi Ageng Serang dan Kyai Kadilangu. Relevan dengan istilah “Sing Mbaurekso” sebagai representasi penunggu wilayah istimewa atau tempat bersejarah bagi perjalanan suatu tokoh. Kedua tokoh legendaris itu juga sangat dihormati, disamping makam “Singa Yuda” yang selalu di ziarahi dalam setiap momen, makam kedua tokoh itu juga tidak dilupakan, untaian doa dan bunga sebagai pertanda rasa hormat dan cinta kasih juga mengalir untuk keduanya. Merekalah tokoh yang menjadi bagian dari “Dusun Dompon” yang lestari hingga saat ini.(*)
Oleh Rizki Ananda