Pada zaman dahulu, saat kabut masih turun lebih tebal daripada sinar mentari, dan suara burung-burung hutan lebih ramai daripada derap langkah manusia, hiduplah seorang tokoh sakti mandraguna bernama Ki Juru Martani. Ki Juru Martani bukan orang biasa. Tubuhnya kekar laksana gunung, sorot matanya tajam menembus kabut, dan pikirannya seluas samudra. Atas perintah Raja Mataram, ia ditugaskan mencari tanah baru untuk memperluas negeri.
Suatu pagi, setelah bersemedi selama tujuh malam di bawah pohon beringin tua, Ki Juru Martani berdiri menghadap matahari terbit. Angin berbisik lirih di telinganya, seolah membawa pesan dari langit.
“Carilah tanah yang basah oleh embun pagi, subur oleh doa para leluhur, dan kuat oleh derap langkah para pejuang,” demikian suara itu membelai pikirannya.
Bersama dua pengikut setianya, Kiai Wira Kusuma dan Ki Gedhe Brantas, ia memulai perjalanan menembus hutan belantara, melewati sungai-sungai berliku yang berkilauan bagai ular emas di bawah sinar mentari. Di tengah perjalanan, Ki Wira Kusuma bertanya, sambil menyingkap ranting-ranting berduri.
“Guru, tanah macam apa yang kita cari? Hutan ini seakan tak berujung, kabut ini menelan jalan
Ki Juru Martani tersenyum, suaranya dalam, seolah berasal dari perut bumi sendiri.
“Kita mencari tanah yang diselimuti doa, Nak. Negeri yang kelak jadi pusaka keturunan kita. Bersabarlah. Kadang, mutiara harus dicari di dasar samudra terdalam.”
Hari berganti malam, malam berganti hari. Mereka melewati medan berat, berteman hanya dengan rembulan dan desir angin. Hingga pada malam ketujuh, ketika rembulan bersinar terang, mereka menemukan sebuah dataran tanah. Tanahnya hitam semerah arang, sungainya berkilau terkena sinar bulan bagai benang perak disulam di atas bumi.
Ki Juru Martani, yang wajahnya diterangi cahaya bulan, berbisik seolah pada dirinya sendiri:
“Inilah surga tersembunyi,” katanya, suaranya berat seperti guruh, “Di sini kita bangun negeri.”
Namun sebelum tonggak pertama tertancap, kabut di sekitar mereka berputar. Udara mengeras, seperti napas malam membeku. Dari balik pepohonan, muncul sosok mengerikan: Banaspati Alas, tubuhnya sebesar gajah, kulitnya hitam mengkilap seperti batu basah, tanduknya melengkung bagai sabit bulan kelam, dan matanya merah menyala laksana bara dalam tungku kemarahan. Suara Banaspati meledak, memecahkan kesunyian:
“Wahai manusia! Ini bukan tanahmu! Ini tanahku! Siapa berani merebutnya, akan kubakar menjadi abu!”
Ki Gedhe Brantas mundur satu langkah, wajahnya yang biasanya seperti purnama kini pucat bagai abu. Ki Wira Kusuma merapatkan genggaman pada keris pusakanya, keringat mengalir membelah pipinya seperti sungai kecil. Namun Ki Juru Martani berdiri tegak, bagai pohon beringin di tengah badai. Suaranya mengalir kuat:
“Wahai Banaspati! Tanah ini bukan untuk kerakusan, Tapi untuk kehidupan. Untuk anak-anak yang lahir tanpa dosa, untuk para petani yang menanam doa dalam tanah!”
Banaspati meraung, melontarkan lidah api. Api melahap pepohonan, membuat malam seolah disulap menjadi neraka kecil. Ki Juru Martani mencabut tombak pusaka Kyai Sekar Jagad, tombak panjang berhiaskan ukiran naga emas, lalu menancapkannya ke tanah. Tombak itu berpendar cahaya, menembus asap dan kegelapan.
Maka pecahlah pertarungan maha dahsyat. Cakar Banaspati membelah angin, tombak Ki Juru Martani membelah malam. Pertarungan itu bagai badai melawan karang. Bumi bergetar, langit mendengus, dan pohon-pohon merunduk ketakutan.
Akhirnya, dengan satu teriakan sakti dan hunjaman tombak ke jantung Banaspati, makhluk itu roboh. Tubuhnya lama-kelamaan mulai menghilang seperti terbawa angin. Ketika tanah kembali tenang, embun turun seolah air suci dari surga, membasuh luka bumi. Ki Juru Martani, dengan suara berat bercampur lega, berkata:
“Negeri ini lahir bukan dari tangan hampa, Tapi dari darah, dari keringat, dari keberanian.”
Maka, dibangunlah pemukiman di lembah itu. Dinamailah ia Purwonegoro, yang artinya permulaan dari sebuah negeri, pondasi dari mimpi dan perjuangan.(*)
Oleh Bimo Yuan Eriko