Pada zaman kerajaan Majapahit berkuasa, hiduplah seorang putri bernama Dewi Srini. Konon ia meninggalkan istana dan berkelana hingga menetap di dusun Libak, Temanggung. Di desa kecil itu, Dewi Srini bertemu dengan Joko Kliwon, seorang pemuda tampan dari desa sebelah, desa Gandulan. Keduanya merasa nyaman dan saling jatuh cinta.
Suatu hari di taman desa, Joko mengumpulkan nyali dan membisik pada Dewi Srini, “Aku hanyalah pemuda biasa, tapi hatiku tulus mencintaimu.” Putri Srini tersipu, matanya berkaca-kaca.
”Joko… aku pun menyayangimu,” jawabnya lembut. Obrolan mereka hangat dan penuh haru.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Dewi Srini merasa sedih dan malu karena statusnya. Ia adalah putri bangsawan sementara Joko hanyalah rakyat biasa.
Suatu malam, di hadapan lentera remang-remang, ia berkata lirih, “Joko, aku takut… Berbagai pikiran menggangguku. Aku putri kerajaan, sedangkan kau dari pedukuhan sederhana.”
Joko menatap Dewi Srini dengan penuh kasih. “Aku tak peduli apa kata orang. Yang kuinginkan hanyalah berada di sisimu,” ujarnya mantap. Tetapi kegundahan menghantuinya. Dalam hatinya muncul perasaan canggung dan beban yang tak bisa diungkapkan.
Hari demi hari Dewi Srini semakin murung. Berat hatinya bagaikan beban batu, hingga tubuhnya pun terserang penyakit. “Aduh, sakit sekali,” ratapnya sambil memegangi kepala.
Joko setia menemani di sisinya, namun si putri tak kuasa membendung tangisnya. Bulan pun berganti, penyakit yang dideritanya semakin parah. Pada akhirnya, Dewi Srini menghembuskan napas terakhirnya di Libak. Ia dimakamkan di pemakaman desa Libak, Desa Klepu. Kabar duka itu segera menyebar ke kampung-kampung sekitar.
Setelah kepergian Dewi Srini, masyarakat desa Libak mulai percaya makamnya memiliki keistimewaan. Cerita tentang sang putri tersebar luas, banyak orang dari daerah lain datang berziarah dan memohon berkah di pusaranya.
“Dengar-dengar, nama Putri Srini sudah terkenal di luar. Orang-orang sering ke makamnya untuk menyampaikan hajat hidup,” kata seorang tetua desa pada suatu pagi. Warga pun bahu-membahu membersihkan kompleks makamnya dan menumbuhkan kebun bunga kecil di sekelilingnya.
Kepercayaan akan berkah Putri Srini juga melahirkan tradisi unik. Menurut cerita para juru kunci makam, setiap kali permohonan seseorang dikabulkan oleh Putri Srini, ia harus menggelar kenduri syukur.
Seorang pemuda desa menjelaskan, “Katanya kalau doa kita terkabul, kita harus bancakan di rumah juru kunci makam. Tuan juru kunci akan menyediakan nasi kuning, ayam panggang (ingkung), dan hidangan pasar untuk dimakan bersama.”
Ibu-ibu desa pun sering menyiapkan lauk bersantan, nasi kuning, dan kue-kue tradisional sebagai tanda syukur atas karunia yang diterima. Tradisi itu terus dijaga agar hati Dewi Srini tetap lapang dan karomahnya terpelihara.
Di sebelah makam tersebut kini berdiri dua pohon beringin yang kembar, tumbuh di alun-alun kecil berbentuk lapangan sepak bola. Konon pohon beringin kembar itu adalah peninggalan sakral dari Dewi Srini, warga percaya pohon-pohon itu tumbuh karena restu sang putri.
Suatu senja, seorang bocah menunjuk ke arah pohon beringin, bertanya kepada kakeknya: “Kakek, mengapa ada dua pohon besar itu?”
Kakek menjawab, “Itulah ‘pohon beringin kembar’ tanda berkah dan keberkahan Putri Srini. Dulu katanya pohon itu sudah ada saat makamnya dibangun.”
Legenda Dewi Srini juga menuntun warga Libak memelihara satu pantangan hingga kini. “Tidak seorang pun di desa ini berani mendirikan rumah dengan membelakangi makam Putri Srini,” cerita seorang nenek kepada cucunya.
Sejak ratusan tahun lalu mereka percaya jika melanggar, takdir buruk bisa menimpa. Maka setiap bangunan baru dibangun dengan arah menghadap ke sisi samping atau depan makam sebagai penghormatan terakhir kepada sang putri.
Demikianlah kisah Putri Dewi Srini tetap hidup di hati masyarakat Libak. Meskipun tragedi cintanya berakhir pilu, kenangan dan keistimewaan pusaranya terus dihormati. Hingga sekarang, tradisi ziarah dan aturan menghormati makamnya tetap dijaga, menandakan bahwa legenda tentang asal-usul, cinta, dan pengorbanan Dewi Srini tidak pernah dilupakan generasi demi generasi.(*)
Oleh Ela Novi Iswardani