Legenda Gunung Pinang

Konon, di tanah Banten yang subur dan indah, terdapat sebuah gunung kecil yang dikenal dengan nama Gunung Pinang.  Di sana, ada sebuah kisah lama yang diceritakan turun-menurun oleh orang-orang tua di desa. 

Pada zaman dahulu, tanah Banten masih luas dan penuh hutan lebat. Di antara hutan-hutan itu, hiduplah seorang pertapa yang bijaksana, Ki Aria Mandalika. Ia dikenal oleh masyarakat karena selalu memberikan nasihat yang penuh kebijaksanaan dan selalu menjaga keseimbangan alam. 

Suatu hari, datanglah bencana besar yang mengguncang desa. Laut yang tenang tiba-tiba menjadi gelombang besar, dan air bah datang menghanyutkan segala yang ada di depannya. Penduduk desa panik dan berlarian mencari tempat perlindungan. Ki Aria Mandalika yang telah lama mendalami ilmu alam, merasa bahwa ini adalah saat yang menentukan. Ia berlari menuju ouncak bukit dan mengangkat tangan ke langit.

“Ya Tuhan, tunjukkanlah jalan. Hamba tak bisa melawan bencana ini seorang diri. Apa yang hamba harus lakukan?” doanya penuh ketulusan.

Tiba-tiba, terdengarlah suara lembut dari angin yang berhembus, seolah menjawab permohonan Ki Aria.

“Tanamlah biji pinang di tanah ini, dan bencana ini akan berlalu.”

Ki Aria Mandalika terdiam sejenak, terkejut namun merasa hati yang tenang. Ia pun segera mengambil biji pinang yang ia simpan dalam gubuknya dan berlari ke tengah padang.

Sambil menanam biji pinang itu, ia berkata dalam hati, “Semoga pohon ini membawa keberkahan bagi desa ini, seperti yang Kaukehendaki.”

Dalam hitungan detik, sebuah pohon pinang besar dan kuat tumbuh menjulang tinggi, menghalangi gelombang laut yang datang. Akar-akar pohon itu melilit tanah dengan erat, membentuk sebuah bukit yang melindungi desa. Gelombang laut yang dahsyat terpecah dan mengalir menjauh.

Penduduk desa yang melihat keajaiban itu bersorak, berlari menuju Ki Aria dengan penuh rasa syukur.

“Ki Aria, engkau telah menyelamatkan kami! Pohon pinang ini, sungguh ajaib! Apa yang harus kami lakukan untuk berterima kasih?” tanya seorang penduduk.

Ki Aria Mandalika tersenyum bijaksana dan menjawab, “Cukup bersyukurlah kepada Tuhan, dan jaga kesucian tempat ini. Gunung Pinang ini bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kebaikan bersama.”

Sejak saat itu, Gunung Pinang menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal atau tempat berdoa. Masyarakat mulai percaya bahwa Gunung Pinang memiliki kekuatan gaib yang melindungi mereka dari segala bencana. Banyak yang datang dari desa-desa jauh untuk berziarah, berharap agar permohonan mereka dikabulkan.

Pada suatu malam yang sunyi, seorang pemuda dari desa yang jauh datang ke kaki Gunung Pinang. Ia berjalan dengan penuh harap dan duduk di bawah pohon pinang besar itu, berdoa dengan sungguh-sungguh.

“Ya Tuhan, aku datang dengan hati yang penuh harap. Keluargaku sakit, dan kami hidup dalam kemiskinan. Berikanlah kami keberkahan dan kesembuhan,” doa pemuda itu.

Tiba-tiba, suara lembut terdengar dari dalam hutan, “Wahai anak muda, janganlah kau mencari berkah dengan niat duniawi semata. Perlindungan sejati datang dari dalam hati, dari kasih sayang kepada sesama.”

Pemuda itu terkejut, namun dalam hatinya merasa tenang. Ia menjawab dengan penuh rasa penyesalan, “Aku datang dengan niat baik, ya Tuhan. Aku ingin keluargaku sehat, bukan untuk kekayaan semata. Aku akan berbuat lebih baik.”

Keesokan harinya, pemuda itu kembali ke desanya dengan penuh harapan baru. Dalam waktu singkat, keluarganya sembuh dari sakit dan hidup mereka menjadi lebih baik. Ia pun kembali ke Gunung Pinang untuk mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih, Gunung Pinang, terima kasih Ki Aria Mandalika. Aku akan menjaga hati ini tetap bersih dan tulus,” ucap pemuda itu.

Pohon pinang yang pertama kali ditanam oleh Ki Aria Mandalika tetap tumbuh dengan kokoh hingga kini. Pohon itu menjadi saksi bisu dari keberanian dan kebijaksanaan Ki Aria. Bahkan, beberapa orang masih percaya bahwa jika mereka datang dengan doa yang tulus, mereka dapat merasakan kehadiran Ki Aria yang memberikan petunjuk lewat angin atau suara alam sekitar.

Pada malam-malam tertentu, mereka yang datang dengan hati penuh kasih dan niat baik sering merasakan sebuah kedamaian yang tak terlukiskan. Suara gemericik air dan bisikan angin membawa pesan dari alam, seolah memberi mereka petunjuk tentang hidup yang lebih baik.(*)

Oleh Aufti Tsabitha Zhahirah