Cinta Seorang Pemuda Pribumi dengan Gadis Keturunan Belanda

Sutradara: Hanung Bramantyo

Produser: HB Naveen, Frederica (Falcon Pictures)

Penulis buku: Pramoedya Ananta Toer

Penulis naskah: Salman Aristo

Pemain: Sha Ine Febriyanti, Mawar Eva de Jongh, Iqbaal Ramadhan, Peter Sterk, Whani Darmawan, Giorgino Abraham, Jerome Kurnia

Durasi: 181 menit

Klasifikasi LSF: 17+

Rilis di bioskop: 15 Agustus 2019

Bumi Manusia merupakan film yang diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer yang merupakan cerita pertama dalam terbitan Hasta Mitra pada tahun 1980. Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduksi oleh Falcon Pictures dengan Iqbal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, dan Sha Ine Febryanti sebagai pemeran utama. Film ini berdurasi sekitar tiga jam, dan dipuji karena alur cerita yang ringan dan keterampilan para aktor dalam menggambarkan karakter mereka. Iqbaal Ramadhan mampu menunjukkan emosi dan perjuangan Minke dengan sangat meyakinkan Begitu pula dengan Mawar Eva de Jongh dan Sha Ine Febriyanti, keduanya mampu berperan dan membuat penonton terbawa dalam perasaan mereka. Sutradara Hanung Bramantyo telah berhasil menghadirkan dunia yang rumit dan terkadang memilukan di bawah penjajahan Belanda.

Film ini bercerita tentang Minke, seorang pemuda Jawa yang bersekolah di sekolah orang Eropa, HBS. Bumi Manusia diawali pertemuan Robert Suurhof, siswa HBS campuran Indo Eropa yang mengajak Minke menyaksikan pelantikan Ratu Wilhelmina. Minke digambarkan sebagai seorang pemikir yang mengagumi kemajuan Eropa tetapi masih dipandang rendah oleh rekan-rekannya karena ia adalah penduduk asli.Minke adalah seorang pemuda yang cerdas dan berbakat dalam menulis.Ia memiliki impian untuk mengubah nasib bangsanya melalui tulisannya. Selain menceritakan sejarah, film ini juga menggambarkan kisah cinta antara Minke dan Annelies, putri Herman Mellema.

Pada suatu hari, Robert Surhoof mengajak Minke untuk berkunjung ke rumah keluarga Mellema, Boerderij Buintenzorg di Wonokromo. Kedatangan Minke disambut dengan penuh kecurigaan oleh Robert Mellema, berbeda dengan cara ia menyambut Suurhof dengan penuh keakraban. Itu dikarenakan Minke adalah seorang pribumi. Ketika Robert asik berbincang dengan Suurhof, seorang gadis cantik keluar dari rumah, yaitu Annelies Mellema. Annelies mengajak Minke berkenalan dan ia menyambut dengan gembira walaupun Minke adalah seorang pribumi. Setelah berbincang sebentar dengan Annalies di luar, Annelies mengajak Minke untuk masuk dan berkeliling melihat rumah yang penuh dengan ornamen belanda yang unik. Ketika Annelies sedang mengenalkan beberapa barang, Nyai Ontosoroh keluar dan menyapa Minke dengan gembira ketika Annelies mengenalkan Minke sebagai temannya, pribumi. Nyai Ontosoroh adalah mama Annelies, dia juga seorang pribumi. Minke berbincang sebentar dengan Nyai Ontosoroh sebelum Nyai Ontosoroh kembali ke kantornya karena ia sangat sibuk. Sepergiannya Nyai, Annelies mengajak Minke untuk bermain ke kebun keluarganya. Sepanjang perjalanan, banyak warga yang antusias menyapa Annelies begitupun Annelies yang membalasnya tak kalah antusias. Sesampainya di kebun keluarga Annelies, terlihat pemandangan danau yang sangat luas dan juga kuda yang sangat banyak. Annelies menghampiri satu kuda yang diberi nama Bawuk dan mengenalkan Minke sebagai temannya. 

Mereka lalu berjalan mengitari kebun dengan Minke yang terus menggoda Annelies, karena godaan itu Annelies jadi tersipu malu hingga ia tidak memperhatikan jalan dan membuatnya jatuh, Minke segera membantunya untuk bangun dan menanyakan apakah dirinya baik-baik saja. Mereka saling tatap dalam waktu lama hingga tatapan itu harus terputus karena tiba-tiba Minke mengecup bibir Annelies. Annelies kaget dengan apa yang dilakukan Minke, lalu ia berlari meninggalkan Minke. Minke yang melihat itu dengan cepat berlari menyusulnya dan berteriak memanggil Annelies. Minke sampai pada rumah keluarga Mellema dan tidak mendapati Annelies disana. Minke malah bertemu dengan Nyai Ontosoroh dan berbincang tentang hal yang disukai Minke, Ditengah perbincangan ringan itu, Annelies turun dari tangga dan menghampiri Nyai dan Minke. Ia terlihat begitu cantik dan elegan dengan kebayanya dan riasan di wajahnya. Kata Nyai, Annelies bersolek untuk Minke. Mereka lalu pergi makan malam bersama dengan Robert dan Suurhof. Di tengah mereka makan malam, Papa Annelies datang dalam keadaan mabuk dan merendahkan Minke karena ia adalah seorang pribumi. Seusai makan malam Nyai Ontosoroh mengutus Darsam untuk mengantarkan Minke pulang. Tapi sebelum Minke pulang, di depan rumahnya Nyai Ontosoroh menyuruh Minke untuk mencium putrinya sekali lagi di hadapannya untuk mengetahui apakah yang diceritakan Annelies perihal Minke menciumnya di kebun benar atau tidak. Dengan perasaan Annelies yang malu dan Minke yang segan, akhirnya Minke kembali mencium Annelies di hadapan Nyai. Nyai senang karena Minke lah yang mencium putrinya, lalu beliau mempersilahkan Minke untuk pulang diantar Darsam.

Beberapa hari kemudian Minke mendapat surat dari Nyai Ontosoroh yang meminta Minke untuk berkunjung ke Wonokromo lagi. Mendapat surat itu, beberapa hari kemudian Minke kembali berkunjung ke kediaman Mellema. Kedatangannya kali ini disambut penuh suka cita oleh Nyai Ontsoroh dan Annelies. Di sana Minke disediakan kamar untuknya dan Nyai Ontosoroh meminta Minke untuk tinggal dan menjadi teman sekaligus kakak untuk Annelies. Suatu pagi, Annelies pergi berjalan jalan dengan Minke. Annelies menceritakan kehidupan ibunya, Sanikem yang kemudian mengganti namanya menjadi Ontosoroh. Sepulangnya mereka berjalan jalan, Minke terinspirasi dari cerita Nyai Ontosoroh dan membuat artikel di koran Surabaya dengan nama samaran Max Tollenar. Tetapi pada malam harinya, Minke tiba-tiba ditangkap polisi karena tulisan artikelnya beberapa hari lalu. Karena ayah minke seorang bupati, Minke bisa dibebaskan dengan syarat Minke harus pulang ke rumah. Minke akhirnya pulang ke rumah dan disambut dengan kemarahan ayahnya karena ia berhubungan dengan Annelies. Hubungan itu dianggap ayahnya meninggalkan budaya dan tradisi Jawa. Pada suatu hari, ayahnya mengizinkan Minke untuk kembali bersekolah di HBS dengan syarat tidak berhubungan lagi dengan Nyai dan Annelies. Tetapi Minke berbohong kepada ayahnya, ia kembali ke kediaman Nyai Ontosoroh.

Pada suatu pagi, tiba-tiba Annelies yang berkeliling pertanian pingsan sehingga Annelies dirawat oleh Martinet, dokter keluarga Mellema. Setelah memeriksa Annelies, dokter Martinet berbicara dengan Minke. Ia mengatakan jika Annelies butuh Minke, Annelies butuh keseriusan Minke. Pada malam harinya, Minke pergi ke kamar Annelies untuk menjenguknya dan Annelies meminta Minke untuk berdongeng untuknya. Mereka saling bercerita hingga mereka mengetahui jika mereka saling mencintai. Seiring berjalannya waktu, rasa cinta mereka semakin besar dan hubungan mereka ditentang oleh banyak orang karena budaya. Akan tetapi mereka dapat melaluinya bersama. Lantas Minke membulatkan tekad untuk melamar Annelies dan berjuang bersama menghadapi masalah yang datang silih berganti.

Salah satu hal yang menarik dari film ini adalah penggambaran yang sangat detail mengenai kehidupan pada masa itu. Kostum, set, dan properti yang digunakan dalam film ini sangat autentik dan mendukung cerita yang disampaikan. Penonton dapat merasakan atmosfer zaman penjajahan Belanda di Indonesia melalui visual yang ditampilkan dalam film ini. Namun, meskipun film ini memiliki banyak kelebihan, ada beberapa kelemahan yang dapat ditemukan. Durasi film yang cukup panjang (hampir 3 jam) membuat beberapa adegan terasa lambat dan membosankan. Beberapa adegan juga terasa terlalu dramatis dan berlebihan, sehingga mengurangi kesan realistis dari cerita yang ingin disampaikan. Selain itu, beberapa karakter pendukung dalam film ini terasa kurang berkembang, sehingga sulit untuk merasa terhubung dengan mereka. Namun secara keseluruhan, film “Bumi Manusia” adalah sebuah film yang patut diapresiasi.

Film bergenre romansa ini memang belum cocok untuk ditonton anak-anak sebab ada beberapa adegan dewasa di dalamnya. Namun, latar Sejarah yang disajikan membuat film ini sangat cocok untuk ditonton para pecinta sejarah. Film yang menggambarkan perjuangan Masyarakat Jawa pada masa penjajahan, membuat penonton yang menyaksikan film ini tertarik pada tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh karena kegigihan mereka dalam memperjuangkan hak-hak manusia pribumi. Selain itu,  Minke dapat menjadi contoh sosok lelaki yang sangat lembut dan dapat menghargai wanita, terlihat ketika ia memperlakukkan Annelies. Melalui cerita ini, film “Bumi Manusia” mengajarkan kita jika berani jatuh cinta, harus berani bertanggung jawab.

Narista Amellea Dinata, Anggita Rahma Aprilianti, Febriyanti Kusumaningrum, Octa Surya Pradana, Andini Bella Pertiwi

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia

Leave a Reply