Pada zaman dahulu, jauh sebelum wilayah Mustika Jaya menjadi kawasan permukiman yang ramai seperti sekarang, daerah ini masih berupa hutan belantara yang lebat dan penuh misteri. Di tengah hutan tersebut, hiduplah seorang pertapa sakti bernama Mbah Jaya Perkasa, yang dikenal bukan hanya karena ilmunya yang tinggi, tetapi juga karena kesetiaannya menjaga keharmonisan antara manusia dan alam.
Mbah Jaya dikenal sebagai sosok bijaksana dan memiliki ilmu kanuragan yang luar biasa. Ia berasal dari trah prajurit kerajaan, namun memilih mengasingkan diri karena kecewa dengan kekuasaan yang makin serakah. Dalam kesendiriannya, ia menemukan kedamaian dalam heningnya hutan, tempat di mana ia berikrar menjaga alam dan seluruh makhluk yang tinggal di dalamnya, baik yang kasat mata maupun tidak.
Setiap malam Jumat Kliwon, warga desa sering mendengar alunan gamelan halus dari arah hutan, disertai semerbak bunga melati. Suara itu seperti berasal dari alam lain. Mereka percaya, saat itulah Mbah Jaya sedang bersemedi, berbicara dengan para leluhur dan menjaga batas antara dunia nyata dan gaib agar tetap seimbang.
Salah satu kisah yang paling terkenal terjadi saat proyek pembangunan jalan akan dimulai, memotong tengah-tengah hutan. Malam itu, alat berat tiba-tiba rusak tanpa sebab. Para pekerja pun mengalami mimpi yang sama yaitu sosok kakek berjubah putih berdiri di tengah kabut hutan. Dengan suara berat dan lembut, ia memperingatkan, “Wahai anak muda… jangan ganggu tempat ini. Ini bukan tanah biasa. Di sinilah kekuatan alam berdiam.”
Keesokan harinya, para pekerja saling bercerita dengan wajah pucat. “Kalian juga mimpiin kakek berjubah putih, kan?” tanya Pak Rudi, salah satu mandor. Pak Darto yang duduk di pojok langsung menjawab, “Iya… dia bilang kita bakal kena musibah kalau terus ganggu tempat itu.” Semua saling tatap. Mereka sadar, ini bukan mimpi biasa.
Akhirnya, para tetua dan sesepuh desa dikumpulkan di pendopo. Mereka menggelar mediasi spiritual dan melakukan tirakat untuk meminta petunjuk. “Tempat ini bukan sekadar tanah kosong,” ujar sang sesepuh. “Ia dijaga. Dan kita sudah diberi tanda.” Maka diputuskan, pembangunan jalan dialihkan, dan digelar selametan sebagai bentuk penghormatan.
Sejak itu, kawasan itu diberi nama Mustika Jaya, diambil dari nama sang penjaga, Mbah Jaya Perkasa, dan ‘mustika’ yang berarti kekuatan sakti. Warga percaya, mustika alam itu tidak tampak secara fisik, tapi melindungi siapa pun yang menghormati alam dan adat.
Hingga kini, tiap tahun warga masih menggelar doa bersama. Mereka membawa sesajen sederhana: bunga tujuh rupa, kembang telon, dan kelapa muda. Malam itu selalu hening dan khidmat. Beberapa warga bahkan mengaku masih mencium bau melati dari arah pepohonan, seperti kehadiran yang tak kasat mata sedang lewat.
Di suatu malam, seorang bocah kecil menatap keluar jendela. Ia melihat daun-daun bergoyang pelan, seolah ada yang lewat di antara semak. Ia berbisik lirih, “Mbah Jaya… beneran ada nggak, ya?” Angin malam mendesir lembut, menerpa pipinya seolah menjawab: “Aku di sini… selalu menjaga.”
Kini, meski hutan telah berganti menjadi rumah-rumah dan jalan aspal, cerita tentang Mbah Jaya tetap hidup dalam bisik-bisik warga dan dongeng menjelang tidur. Sosoknya mungkin tak lagi tampak di depan mata, tapi kehadirannya tetap terasa di desir angin yang lembut, dalam aroma melati yang muncul tiba-tiba, atau dalam rasa tenang yang menyelimuti Mustika Jaya setiap malam. Karena di tanah ini, warisan sakral masih dijaga oleh mereka yang percaya, dan dihormati oleh mereka yang tahu batas antara dunia nyata dan yang tak kasatmata.(*)
Oleh Ashafa Egidya Kalista Syabani