Khataman Tutup Tradisi Ngaji Posonan Kitab Kuning di Masjid Baitul Muttaqin

Foto: Zuliatin Fitria

Pati – Tradisi ngaji posonan di Masjid Baitul Muttaqin, Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, resmi ditutup dengan acara khataman pada malam ke-27 Ramadan, Selasa (26/3/2025). Kegiatan diikuti oleh puluhan santri dan warga dari berbagai kalangan.

Kegiatan ngaji posonan tahun ini diasuh oleh KH. Ahmad Yasir, yang mengajarkan sejumlah kitab seperti Fathul Aqfal, Maulid Azab, Washiyatul Mustofa, Manaqib, dan Al-Bushro, yang merupakan kitab-kitab tentang akhlak dan adab menuntut ilmu.

“Selain ringkas, isi kitab-kitab tersebut sangat relevan untuk anak muda sekarang. Kita ingin mereka memiliki akhlak yang baik saat menuntut ilmu dan hidup bermasyarakat,” ujar KH. Ahmad Yasir.  

Setelah melaksanakan ngaji posonan selama 20 hari, khataman dilaksanakan pada malam ke-27 Ramadan sebagai bentuk rasa syukur karena telah berhasil menyelesaikan ngaji selama bulan Ramadan. Rangkaian kegiatan khataman ini di awali dengan mengkhatamkan kitab, dilanjutkan pembacaan tahlil, doa bersama, dan tausiah. Acara berlangsung khidmat dan diakhiri dengan pembagian nasi kotak serta buka puasa bersama di serambi masjid.

Panitia kegiatan, Muhammad Mirzan (25), menyebutkan bahwa jumlah peserta ngaji posonan kitab kuning tahun ini meningkat dibanding tahun sebelumnya. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan ngaji posonan terbuka untuk umum, tidak terbatas untuk santri. 

“Alhamdulillah setiap tahun jumlah peserta ngaji posonan selalu bertambah. Oh ya, tidak hanya waktu khataman saja, ngaji posonan ini diperuntukkan untuk umum, tidak hanya untuk santri saja. Jadi siapa saja yang ingin dan memiliki niat mencari berkah selama Ramadan disilakan ikut.”

Salah satu peserta, Ahmad Bayhaqi (17), mengatakan bahwa ia merasa terbantu dengan adanya kegiatan ini. “Selama ngaji posonan, kesan yang saya rasakan sangat menyenangkan dan seru karena mendapatkan ilmu sekaligus bisa bertemu dengan teman dari desa lain,” ujarnya.

Tak hanya santri, warga sekitar juga turut meramaikan kegiatan ini. Ardiansyah (16), warga desa tetangga yang rutin mengikuti ngaji posonan bersama temannya, menyebutkan bahwa ia senang mengikuti kegiatan ini tapi menjaga konsistensi hadir setiap hari adalah tantangan tersendiri. “Saya senang mengikuti ngaji posonan, tapi menjaga agar tetap istikamah berangkat setiap hari terkadang kalau teman absen itu agak berat untuk berangkat sendiri,” ungkapnya.

Panitia kegiatan menyebutkan tradisi ngaji posonan kitab kuning dan khataman bukan sekadar acara tahunan, melainkan bentuk dari usaha menjaga keberlanjutan tradisi pesantren di tengah arus modernisasi. “Kami ingin masjid tetap menjadi tempat belajar, bukan hanya tempat ibadah. Tradisi seperti ini harus dilestarikan,” tutup Mirzan.(*)

Oleh Zuliatin Fitria