
Ungaran, Agustus 2025 — Universitas Negeri Semarang (Unnes) kembali menunjukkan kiprahnya dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pengabdian dosen yang berfokus pada pengembangan kapasitas komunitas kreatif. Kali ini, tim pengabdian dari Fakultas Bahasa dan Seni Unnes menyelenggarakan program bertajuk Pemberdayaan Komunitas Kampung Film Bulusari Ungaran dalam Peningkatan Kemampuan Menulis Skenario dan Produksi Film Pendek, yang berlangsung sejak Maret 2025.
Program ini ditujukan kepada Komunitas Kampung Film Bulusari di Desa Bandarjo, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang—sebuah komunitas yang telah lama bergelut dalam dunia film, fotografi, dan audiovisual, namun dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas komunitas ini menurun drastis karena kendala teknis, minimnya pelatihan profesional, serta terbatasnya fasilitas produksi.
Di bawah koordinasi Prof. Dr. Yusro Edy Nugroho, M.Hum., tim pengabdian yang terdiri dari akademisi lintas bidang seperti Prof. Dr. Hari Bakti Mardikantoro, Sungging Widagdo, M.Pd., Dr. Asep Purwo Yudi Utomo, M.Pd., serta Norma Eralita, M.Pd. dan Tri Astuti, M.Pd. melakukan pendekatan Participatory Community Appraisal (PCA)—metode pemberdayaan yang menempatkan komunitas sebagai subjek aktif mulai dari perencanaan hingga evaluasi program.
“Kami melihat potensi besar dari Komunitas Kampung Film Bulusari, namun sayangnya belum terasah maksimal karena kurangnya akses terhadap pendampingan teknis dan jejaring profesional,” ujar Prof. Yusro saat membuka sesi pelatihan pertama. “Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan bekal dan ruang bagi anak-anak muda untuk berani menciptakan karya film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga edukatif dan berkualitas,” tambahnya.
Program pemberdayaan ini terbagi dalam tiga fokus utama: pelatihan penulisan skenario, pelatihan produksi film pendek, dan pendampingan berkelanjutan. Dalam prosesnya, peserta dibimbing secara langsung untuk memahami struktur naratif, pengembangan karakter, dan teknik menyusun dialog yang kuat. Selain itu, mereka juga dilatih dalam penggunaan kamera, pencahayaan, dan software editing profesional.
“Selama ini kami hanya belajar dari YouTube atau otodidak, tapi setelah didampingi langsung oleh dosen Unnes, kami jadi lebih paham alur kerja produksi film yang benar,” ungkap Alfian, salah satu anggota komunitas. “Kami juga mulai percaya diri menulis skenario dan mencoba produksi kecil-kecilan yang sebelumnya kami anggap mustahil,” lanjutnya.
Salah satu film pendek yang tengah dikembangkan bertema budaya lokal dan sosial masyarakat Ungaran, dengan naskah yang sepenuhnya ditulis oleh anggota komunitas sendiri. “Kami ingin cerita-cerita dari kampung ini bisa dinikmati oleh banyak orang. Lewat film, kami bisa menyampaikan suara kami,” tutur Indri Dwi Astuti, mahasiswa pendamping dari Unnes.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari tokoh masyarakat. Kepada desa Bandarjo, dalam kesempatan kunjungannya, menyatakan, “Kami bangga dengan anak-anak muda yang aktif dan kreatif. Program dari Unnes ini bukan hanya melatih, tapi juga memotivasi mereka untuk berkarya dan berkontribusi bagi desa kami.”
Menutup rangkaian kegiatan awal, Dr. Asep Purwo Yudi Utomo menyampaikan, “Industri kreatif adalah masa depan. Jika kita ingin masyarakat kita mandiri dan inovatif, kita harus mulai dari komunitas. Dan Unnes hadir untuk itu—mendampingi, memfasilitasi, dan menginspirasi.”
Program ini membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menjadi motor penggerak kemajuan komunitas kreatif. Dengan bekal kemampuan teknis, jaringan, dan kepercayaan diri, Komunitas Kampung Film Bulusari kini siap melangkah menuju panggung perfilman yang lebih luas.