Rasa Tidak Dihargai dan Ketakutan Akan Kegagalan

Dalam beberapa tahun terakhir, isu mengenai kesehatan mental pada kalangan muda semakin mendapat perhatian serius. Kelompok usia 18 – 25 tahun yang termasuk dalam masa dewasa awal berada pada fase pencarian jati diri dan pembentukan arah hidup. Pada tahap ini, mereka berusaha menyeimbangkan tuntutan akademik, karier, serta hubungan sosial di tengah perubahan sosial yang cepat dan ekspektasi lingkungan yang tinggi. Namun, tidak sedikit di antara mereka yang mengalami perasaan tidak dihargai baik oleh keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan kerja dan digital yang pada akhirnya menumbuhkan rasa takut gagal dan rendah diri.

Menurut laporan World Health Organization (WHO, 2023), lebih dari 60% anak muda di seluruh dunia mengaku mengalami tekanan psikologis akibat kurangnya dukungan sosial dan apresiasi dari lingkungan terdekat. Kondisi ini diperkuat oleh penelitian dari American Psychological Association (APA, 2024) yang menunjukkan bahwa tiga dari sepuluh pekerja muda (usia 18–25 tahun) merasa stres dan tidak dihargai di tempat kerja, sehingga menurunkan motivasi dan rasa percaya diri.

Sementara itu, penelitian yang dimuat dalam jurnal Frontiers in Psychology (2022) menemukan bahwa rendahnya self-esteem pada individu usia muda berkorelasi kuat dengan meningkatnya rasa cemas, overthinking, serta ketakutan untuk mencoba hal baru. Ketika apresiasi terhadap usaha dan pendapat mereka jarang diberikan, anak muda cenderung menilai dirinya dari sudut kegagalan, bukan dari proses belajar. Fenomena ini semakin kompleks dengan hadirnya media sosial yang menormalisasi budaya perbandingan dan validasi eksternal, memperparah perasaan tidak cukup baik dan tidak berharga.

Dalam konteks sosial Indonesia, situasi ini juga tampak nyata. Berdasarkan survei Jakpat Research (2024) terhadap 1.200 responden muda di usia 18–25 tahun, sekitar 68% merasa tidak mendapatkan pengakuan yang layak atas usaha mereka, baik di lingkungan pendidikan maupun keluarga. Akibatnya, mereka menjadi lebih mudah cemas, ragu mengambil keputusan, dan takut gagal karena merasa setiap langkah harus sempurna.

     Pada kenyataannya, anak muda masa kini menghadapi tekanan psikologis yang semakin kompleks. Di satu sisi, mereka dituntut untuk menjadi pribadi yang produktif, berprestasi, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Namun di sisi lain, mereka juga berhadapan dengan realitas sosial yang sering kali membuat mereka merasa tidak cukup baik, tidak didengar, dan tidak dihargai. Rasa tidak dihargai inilah yang perlahan menumbuhkan ketakutan untuk gagal dan rasa tidak percaya diri, terutama pada kelompok usia 18–25 tahun, yang sedang berada di masa pencarian identitas diri dan arah kehidupan.

Tekanan Sosial Dunia Digital

Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson (1968), individu pada tahap dewasa awal menghadapi krisis identitas yang berkaitan dengan pembentukan hubungan sosial dan pencapaian tujuan pribadi. Ketika individu gagal mendapatkan dukungan dan penghargaan dari lingkungan sekitar, mereka cenderung mengalami inferioritas emosional dan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Fenomena ini kini semakin diperkuat oleh tekanan sosial di dunia digital, di mana standar kesuksesan dan kebahagiaan sering kali diukur dari validasi eksternal seperti popularitas, pencapaian, dan pengakuan publik.

Di Indonesia sendiri, perasaan tidak dihargai sering kali muncul karena budaya yang masih menempatkan hierarki usia dan status sosial di atas ekspresi individu muda. Anak muda sering kali merasa pendapat mereka diabaikan dalam lingkungan keluarga, akademik, bahkan di tempat kerja. Kondisi ini dapat menimbulkan luka emosional yang tak kasatmata, memunculkan rasa takut untuk mencoba hal baru, dan membuat mereka enggan berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan.

Rasa takut gagal yang muncul akibat tidak adanya apresiasi tersebut bukan sekadar persoalan psikologis ringan, tetapi dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan, penurunan motivasi, hingga hilangnya arah hidup. Seperti yang diungkapkan oleh American Psychological Association (2024), rasa tidak dihargai memiliki korelasi langsung dengan meningkatnya tingkat stres dan kecemasan pada individu muda. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan merupakan aspek mendasar dalam pembentukan kesehatan mental dan kepercayaan diri.

Rasa tidak dihargai dan ketakutan akan kegagalan merupakan dua fenomena psikologis yang saling berkaitan erat dan kerap dialami oleh anak muda pada rentang usia 18–25 tahun. Dalam masa transisi menuju kedewasaan, mereka dihadapkan pada berbagai tuntutan sosial, akademik, dan profesional yang sering kali tidak seimbang dengan dukungan emosional yang diterima. Ketika usaha dan pendapat mereka tidak diakui, hal itu menimbulkan luka emosional yang membuat mereka meragukan kemampuan diri sendiri, merasa tidak layak, dan takut untuk mencoba hal baru.

Fenomena ini tidak hanya muncul akibat faktor internal seperti rendahnya harga diri, tetapi juga diperkuat oleh lingkungan eksternal seperti budaya sosial yang kurang menghargai proses, sistem pendidikan yang menitikberatkan pada hasil, serta tekanan sosial di media digital yang menumbuhkan budaya perbandingan. Akibatnya, banyak anak muda terjebak dalam siklus ketakutan: semakin mereka merasa tidak dihargai, semakin besar pula rasa takut mereka untuk gagal.

Oleh karena itu, penting bagi individu maupun lingkungan sosial untuk menumbuhkan budaya apresiasi dan penerimaan diri. Anak muda perlu membangun kesadaran bahwa nilai diri tidak hanya ditentukan oleh pencapaian, melainkan juga oleh proses, usaha, dan keberanian untuk terus berkembang. Di sisi lain, masyarakat termasuk keluarga, lembaga pendidikan, dan tempat kerja perlu menciptakan ruang yang inklusif dan suportif, di mana setiap kontribusi dihargai dan setiap kegagalan dipandang sebagai bagian dari pembelajaran.

       Dengan demikian, upaya memulihkan luka emosional akibat rasa tidak dihargai dan ketakutan akan kegagalan harus dilakukan secara menyeluruh, baik dari dalam diri individu maupun melalui dukungan sosial yang berkelanjutan. Apabila kedua aspek ini dapat berjalan beriringan, maka generasi muda akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, resilien, dan berani melangkah menuju masa depan tanpa dibayangi rasa takut untuk gagal.(*)

Oleh Natasya Aulia Putri