Rendahnya Kesadaran Publik terhadap Teknologi AI di Indonesia

Sekarang AI udah ada di mana-mana dari pabrik, transportasi, sampai rekomendasi video di TikTok atau YouTube. Tapi, ternyata banyak orang Indonesia yang masih belum benar-benar ngerti gimana cara kerja AI dan seberapa besar pengaruhnya di hidup kita. Survei dari Ipsos/Lumite (Mei 2025) bilang, 42% orang Indonesia nggak yakin mana konten yang dibuat manusia dan mana yang dari AI. Jadi, sebenarnya kita sering banget pakai teknologi canggih tanpa sadar kalau AI lagi jalan di belakang layar.

Menurut UNESCO (2023), literasi digital Indonesia nilainya masih 3,54 dari skala 5 lumayan, tapi belum tinggi. Yang paling lemah itu pemahaman soal teknologi dan keamanan data. Padahal kata Kominfo, AI bisa bantu ekonomi digital Indonesia tumbuh sampai USD 366 miliar di tahun 2030 kalau dimanfaatkan dengan baik. Sayangnya, banyak yang belum sadar potensi sebesar itu.

Masalah lainnya adalah soal akses teknologi. Data dari BPS (2024) nunjukin, orang di kota besar yang punya perangkat digital itu sekitar 88%, tapi di desa cuma 59%. Jadi, masih banyak yang belum bisa belajar atau pakai AI dengan maksimal. Terus di dunia pendidikan, AI juga belum diajarin secara nyata. Kata Dr. Wisnu Jatmiko dari UI, “pendidikan AI di Indonesia masih fokus ke teori, belum ke kreativitas dan inovasi.” Jadi, nggak heran kalau masih sedikit anak muda yang benar-benar paham gimana AI bisa dipakai buat hal keren atau bahkan paham risikonya.

Nah, soal privasi dan etika, ini juga penting banget. Banyak orang belum tahu kalau data pribadi mereka bisa dipakai buat ngelatih sistem AI. Ingat kasus kebocoran data 100 juta akun di 2023? Itu bukti kalau kesadaran dan perlindungan data kita masih kurang banget.

Untungnya, pemerintah udah mulai ambil langkah. Sejak 2020, Indonesia punya Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) 2020–2045. Tujuannya biar pengembangan AI di Indonesia bisa lebih etis, aman, dan bermanfaat buat banyak sektor — kayak pendidikan, kesehatan, sampai transportasi (BPPT, 2020). Tapi, nyadarin masyarakat soal AI bukan cuma tugas pemerintah. Sekolah, media, dan industri juga harus ikut turun tangan. Kayak kata UNESCO (2022), AI itu harus tetap berpusat pada manusia. Jadi, kalau semua pihak jalan bareng, Indonesia bisa bukan cuma jadi pengguna, tapi juga pencipta teknologi masa depan.(*)

Oleh Fazrul Muhammad Fadli