Dahulu lari hanya dipandang sebagai salah satu jenis olahraga yang sederhana karena tidak membutuhkan banyak peralatan. Namun, dalam beberapa tahun belakangan ini tren lari mulai meningkat pesat, bahkan lari telah menjadi sebuah tren global. Dengan semakin meningkatnya peminat olahraga ini semakin banyak pula bermunculan event lari, dimulai dari fun run hingga ultra run beratus-ratus kilometer.
Dengan semakin meningkatnya peminat tren lari ini, semakin meningkat pula kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Data dari World Health organization (WHO, 2020) menunjukkan bahwa aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu dapat mengurangi risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, hipertensi dan penyakit jantung. Lari dapat menjadi salah satu pilihan aktivitas yang dapat dilakukan karena biaya yang lebih murah dan dapat dilakukan dimana saja tanpa harus mencari pusat kebugaran.
Tidak hanya menguntungkan di bidang kesehatan, lari juga menguntungkan di bidang industri. Dengan meningkatnya tren lari ini di kalangan masyarakat, maka meningkat juga penjualan barang yang berhubungan denga aktivitas ini, seperti sepatu, smartwatch, hingga earphone. Tak hanya itu, mereka juga suka menggunakan pakaian yang terlihat trendi. Fenomena pelari yang seperti ini biasanya sering disebut dengan istilah “Pelari Kalcer”
Fenomena “Pelari Kalcer” sendiri adalah orang-orang yang gemar berlari tetapi mereka sangat memperhatikan penampilan mereka selama berlari. Beberapa ciri seorang pelari kalcer biasanya menggunakan pakaian yang sporti dan trendi, sepatu lari yang kekinian, smartwatch terbaru, hingga TWS yang trendi.
Istilah pelari kalcer sendiri diambil dari kata “kalcer” yang hits di media sosial dan mulanya berasal dari istilah “culture”. Kata “kalcer” sendiri dapat diartikan sebagai budaya atau kebiasaan tertentu yang terbentuk di sebuah individu, kelompok, maupun komunitas dengan tujuan untuk menampilkan dirinya dalam versi terbaik (dalam segi fashion-nya).
Tak hanya dari segi pakaian dan aksesoris yang digunakan, para pelari kalcer ini memiliki kebiasaan untuk mengambil foto saat mereka sedang berlari. Baik foto yang mereka ambil sendiri maupun foto yang didaptkan dengan membayar jasa fotografer yang sering berada di area olahraga. Dan mereka juga sering menggunakan aplikasi seperti strava untuk memantau progres berlari mereka. Setelah nanti mereka selesai berlari, mereka akan mengunggah foto dan hasil progres lari mereka ke media sosial. Dengan mereka mengunggah progres lari mereka ke media sosial, seccara tidak sadar hal ini akan mengajak lebih banyak orang lagi untuk melakukan kegiatan lari seperti yang mereka lakukan. Dan membuat kesadaran masyarakat akan hidup sehat juga semaking meningkat.
Dengan semakin meningkatnya tren lari di kalangan masyarakat global, diharapakan kesadaran akan kesehatan juga semakin meningkat. Media sosial ini juga dapat kita gunakan untuk mengajak lebih banyak lagi orang untuk peduli dengan kesehatan mereka. Begitu juga dengan adanya tren “Pelari Kalcer” yang sering kali memperlihatkan progres mereka ke media sosial juga bisa dijadikan motivasi kepada orang-orang yang melihatnya untuk mengikuti tren lari ini dan mulai menjaga kesehatan mereka.(*)
Oleh Noval Dwi Setiadi