Legenda Buaya Putih dari Kali Bekasi

Malam di tepi Kali Bekasi selalu membawa aroma lumpur basah dan lembap, bercampur bau asap pembakaran sampah yang samar-samar. Di bawah rembulan sabit yang menggantung malu, air kali yang keruh dan berminyak tampak seperti pita hitam panjang yang membelah kota.

Di warung kopi milik Bang Jampang, yang letaknya persis di tikungan Kali Bekasi Lama, obrolan selalu berputar pada satu topik: Mbah Suro, Si Buaya Putih.

“Sejak proyek cut-off Kali Bekasi itu rampung, Mbah Suro jadi jarang menampakkan diri,” ujar Pak RT Jaka, menyeruput kopi kentalnya.

“Dia bukan menghilang, Pak. Dia sedang marah,” sahut Mak Ijah, si penjual gorengan, dengan nada misterius. “Air kali kita makin kotor. Buaya Putih itu, sejatinya, adalah penjaga sekaligus perwujudan kesucian kali ini. Kalau kali kita cemar, dia akan pergi.”

Kisah Buaya Putih, atau Mbah Suro, sudah menjadi legenda turun-temurun di sepanjang bantaran Kali Bekasi. Ia dipercaya bukan buaya biasa. Konon, ia adalah jelmaan seorang pertapa sakti dari zaman kerajaan yang bersumpah menjaga aliran sungai tersebut dari segala marabahaya dan perusak. Wujudnya yang putih bersih adalah simbol janji kesuciannya.

***

Sore itu, Doni, seorang pemuda yang baru saja kembali dari Jakarta untuk menjaga ibunya di Kampung Muara, sedang memancing di tempat yang sering dianggap keramat, sebuah cekungan di mana dua aliran sungai bertemu. Ia memancing bukan untuk ikan, tetapi untuk menenangkan pikirannya dari hiruk pikuk kota besar.

Tiba-tiba, mata kailnya tertarik dengan kuat. Doni menariknya sekuat tenaga. Ia yakin ini ikan Patin raksasa. Namun, tarikannya terlalu berat, terlalu hidup. Doni akhirnya memutuskan tali pancingnya.

Saat ia memandang ke air, sesuatu yang tak terduga muncul di permukaan.

Bukan ikan. Itu adalah sepotong kayu putih pucat yang mengambang, sangat panjang, dan bergerak perlahan melawan arus. Doni terkesiap. Saat ‘kayu’ itu bergerak lebih dekat, ia melihat sepasang mata merah menyala, dingin, dan tajam menatap lurus ke arahnya.

Itu adalah Mbah Suro. Tubuhnya yang bersisik putih gading tampak berkilau suram di bawah cahaya senja yang kelabu. Panjangnya kira-kira tiga kali tubuh Doni. Buaya itu tidak menyerang. Ia hanya mengambang, menatap, seolah sedang menilai.

Doni terpaku, lututnya lemas. Ia teringat cerita masa kecilnya, bahwa Mbah Suro hanya akan menampakkan diri pada dua jenis manusia: mereka yang sangat berniat baik pada Kali Bekasi, atau mereka yang sangat berniat buruk.

“Aku… aku hanya ingin menjaga ibuku di sini, Mbah,” bisik Doni gemetar. “Aku tidak akan merusak kali ini. Aku janji.”

Buaya Putih itu perlahan berputar, ekornya yang besar menciptakan riak air yang memantul ke dinding beton. Kemudian, ia menyelam tanpa suara, menghilang ke dalam kegelapan lumpur di bawah.

Pengalaman itu mengubah Doni. Ia tidak lagi melihat Kali Bekasi sebagai selokan besar yang bau, melainkan sebagai rumah bagi sesuatu yang sakral. Ia mulai mengajak anak-anak kampung membersihkan tepian sungai, menyingkirkan plastik dan sampah yang mengambang. Ia bahkan menggunakan uang tabungannya untuk membuat papan peringatan agar tidak membuang limbah.

Warga kampung awalnya menertawakan Doni. Mereka bilang, membersihkan kali adalah pekerjaan yang sia-sia, mustahil. Tapi Doni terus melakukannya, hari demi hari.

Suatu malam, saat Doni sedang duduk sendirian di tepi kali, kelelahan setelah seharian bekerja, ia mendengar suara gemerisik air yang familiar.

Mbah Suro muncul lagi. Kali ini, buaya itu berenang lebih dekat, kepalanya sedikit terangkat, menatap Doni.

Tiba-tiba, dari mulut Mbah Suro, bukan gigi tajam yang terlihat, melainkan sebuah batu pipih berwarna hijau lumut. Buaya itu meletakkannya pelan-pelan di atas beton tepi kali, tepat di hadapan Doni, lalu menghilang ke kedalaman air untuk yang terakhir kalinya.

Batu itu terasa hangat. Doni mengambilnya. Keesokan harinya, ketika Doni hendak menjual tanah warisan di pinggir kali untuk biaya pengobatan ibunya, ia kesulitan menemukan pembeli. Tiba-tiba, ia teringat pada batu itu. Ia menggenggamnya erat, berharap mendapatkan ketenangan.

Saat itulah, sebuah perusahaan konservasi lingkungan datang. Mereka tidak ingin membangun perumahan, melainkan ingin mendirikan pusat edukasi sungai. Mereka menawarkan harga yang adil, jauh lebih baik, dan berjanji akan merawat lahan itu sebagai bagian dari upaya pelestarian.

Doni menjual tanahnya. Ibunya sembuh. Ia kemudian diangkat menjadi pengurus utama di pusat konservasi tersebut, mewujudkan janjinya untuk menjaga Kali Bekasi.

Warga kampung terkejut. Mereka akhirnya mengerti. Mbah Suro, Si Buaya Putih, bukanlah makhluk yang ditakuti, melainkan manifestasi dari alam yang mencari pewaris. Ia tidak marah pada manusia, melainkan marah pada ketidakpedulian manusia.

Kini, orang-orang di tepi Kali Bekasi tak lagi membuang sampah sembarangan. Mereka percaya, Mbah Suro memang telah pergi. Namun, ia mewariskan tugasnya pada setiap warga kampung, diwakili oleh semangat Doni.

Mitos Buaya Putih itu abadi. Ia bukan hanya legenda tentang seekor binatang keramat, melainkan legenda tentang tanggung jawab, bahwa kesucian sebuah lingkungan hanya bisa dipertahankan oleh hati yang bersih dari manusia itu sendiri.(*)

Oleh Alimah Adri Salwa