Patih Sampun Jiwonegoro

Pada masa lampau, ketika tanah Jawa masih terbagi dalam berbagai kadipaten dan kerajaan kecil, berdirilah Kadipaten Pemalang yang dipimpin oleh seorang tokoh pendekar sakti bernama Ki Gede Sambung Yudo. Beliau adalah sosok yang bijaksana sekaligus disegani karena kekuatan ilmunya. Di bawah kepemimpinannya, pusat pemerintahan Kadipaten Pemalang dibangun di wilayah Pedurungan, tempat yang kelak menjadi pusat kemakmuran masyarakat Pemalang.

Masa kepemimpinan Ki Gede Sambung Yudo menjadi masa keemasan bagi Pemalang. Wilayahnya makmur, rakyatnya hidup tenteram, dan perdagangan berjalan ramai. Di tengah kemakmuran itu, ajaran agama Islam pun berkembang dengan pesat. Para ulama dan mubaligh berdatangan dari berbagai daerah, berdakwah dengan damai di tengah masyarakat yang terbuka. Berkat kebijaksanaan Ki Gede Sambung Yudo, agama Islam diterima dengan tangan terbuka oleh rakyat Pemalang.

Ketenaran Ki Gede Sambung Yudo bahkan sampai ke telinga Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa. Karena kewibawaannya, Ki Gede Sambung Yudo diakui secara resmi oleh Kesultanan Demak sebagai Adipati Pemalang. Hal ini membuat posisi Kadipaten Pemalang semakin kuat dan berpengaruh di kawasan pesisir utara Jawa.

Namun, waktu tak pernah berhenti berjalan. Setelah bertahun-tahun memimpin dengan arif, Ki Gede Sambung Yudo akhirnya wafat. Rakyat Pemalang berduka, dan kepemimpinan pun diteruskan oleh putranya, Anom Windu Galbo. Meski masih muda, Windu Galbo memiliki semangat dan keberanian yang luar biasa. Ia mewarisi semangat ayahnya untuk memajukan Pemalang, bahkan bertekad untuk memperluas wilayah kekuasaan.

Di masa pemerintahannya, Kadipaten Pemalang tumbuh semakin besar. Wilayahnya meluas hingga ke timur, mencakup daerah Pekalongan dan Batang. Hal ini tak lepas dari peran Patih Cincing Murti, seorang prajurit tangguh dan setia yang menjadi tangan kanan sang Adipati. Cincing Murti bukan hanya ahli strategi perang, tapi juga memiliki kesaktian yang disegani. Dalam setiap peperangan, ia selalu berada di garis depan, membawa nama Pemalang menuju kejayaan.

Saat itu, keruntuhan Majapahit mulai tampak. Perpecahan di antara pejabat tinggi kerajaan menyebabkan kekuasaannya melemah. Sementara itu, munculnya Kesultanan Demak menjadi angin baru bagi kadipaten-kadipaten Islam di pesisir utara Jawa, termasuk Pemalang. Kondisi ini menjadi peluang bagi Windu Galbo untuk memperluas wilayahnya dan memperkuat kedudukan Kadipaten Pemalang agar lebih mandiri.

Windu Galbo sangat mempercayai Patih Cincing Murti. Bahkan dalam setiap ekspedisi perluasan wilayah, sang Patih selalu ditemani oleh putranya, Jiwonegoro, seorang pemuda sakti yang mewarisi ilmu dan keberanian ayahnya. Setelah berhasil menaklukkan Pekalongan dan Batang, Adipati Windu Galbo kembali menugaskan mereka untuk memperluas kekuasaan ke arah barat.

“Pergilah ke arah barat,” perintah Windu Galbo pada suatu pagi di pendapa kadipaten. “Taklukkan Tegal, Slawi, dan Brebes. Satukan semua wilayah itu di bawah panji Pemalang!”
Dengan kepala menunduk penuh hormat, Patih Cincing Murti menjawab, “Sendika dawuh, Kanjeng Adipati.”

Tanpa menunda waktu, Patih Cincing Murti segera mengumpulkan pasukan pilihan dan membawa serta Jiwonegoro. Pertempuran berlangsung sengit selama berhari-hari. Pasukan Pemalang menghadapi perlawanan keras dari laskar Tegal yang dipimpin oleh Syaikh Walijoko (Mbah Panggung), seorang tokoh sakti yang juga disegani di wilayah itu.

Namun berkat keberanian dan strategi jitu, Tegal, Slawi, dan Brebes akhirnya dapat ditaklukkan. Kadipaten Pemalang pun mencapai puncak kejayaan dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas. Akan tetapi, kemenangan itu dibayar mahal. Dalam pertempuran terakhir melawan pasukan Mbah Panggung, Patih Cincing Murti gugur di medan perang.

Menjelang ajalnya, Cincing Murti memanggil putranya yang setia di sisi. Dengan suara lemah ia berkata,

“Jiwonegoro… teruskanlah perjuanganku. Abdikan hidupmu untuk Pemalang. Jadilah pelindung bagi rakyat, bukan penguasa bagi mereka.”

Dengan air mata yang tertahan, Jiwonegoro menggenggam tangan ayahnya dan berjanji,

“Baik, Ayah. Aku akan melanjutkan perjuanganmu. Aku akan menjaga Pemalang seperti engkau menjaganya.”

Beberapa saat kemudian, Cincing Murti menghembuskan napas terakhirnya. Rakyat Pemalang kehilangan salah satu tokoh besar mereka. Ia dimakamkan dengan penghormatan di Dukuh Brujulan, Desa Kabunan, Kecamatan Taman. Sejak saat itu, Jiwonegoro diangkat menjadi Patih Kadipaten Pemalang, meneruskan warisan pengabdian ayahnya.

Tahun-tahun berlalu, hingga akhirnya Adipati Windu Galbo wafat. Ia tidak meninggalkan keturunan, sehingga Kadipaten Pemalang mengalami kekosongan kepemimpinan. Rakyat menyebut masa itu sebagai masa “Pemalang komplang”, masa di mana tidak ada Adipati yang memimpin. Untuk sementara, Jiwonegoro memegang dua jabatan sekaligus—sebagai Patih dan Adipati Pemalang.

Namun Jiwonegoro bukanlah orang yang haus kekuasaan. Ia sadar bahwa jabatan Adipati seharusnya berasal dari garis keturunan kerajaan. Maka ia mengutus seseorang ke Sultan Pajang, Sultan Hadiwijaya, untuk melaporkan kondisi Pemalang. Setelah menerima laporan itu, Sultan Hadiwijaya kemudian menunjuk putranya, Pangeran Benowo, untuk menjadi Bupati Pemalang.

Sebelum berangkat, Sultan Hadiwijaya memberikan dua pusaka sakti. Ia berkata,

“Anakku, bawalah Keris Setan Kober ini sebagai lambang kewibawaanmu. Dan ambillah pula Keris Kyai Tapak dari tangan Sultan Yusup, atas perintahku. Kedua keris ini akan menjadi penjaga dalam perjalanan dan pemerintahanmu.”

Dengan penuh hormat, Pangeran Benowo menjawab,

“Sendiko dawuh, Ayahanda. Akan hamba laksanakan.”

Setelah berhasil mendapatkan kedua pusaka itu, Pangeran Benowo dilantik menjadi Bupati Pemalang pada 24 Januari 1575 Masehi, bertepatan dengan 2 Syawal 982 Hijriah, hari kedua Idul Fitri.

Hari itu menjadi momen bersejarah. Pendopo Kadipaten Pemalang dipenuhi oleh rakyat, para pejabat, dan tamu undangan. Suasana halal bihalal penuh tawa dan kebahagiaan. Di tengah keramaian, Pangeran Benowo bertanya kepada Patih Jiwonegoro,

“Wahai Patih, dalam acara semeriah ini, apakah tak ada hiburan yang disiapkan untuk rakyat?”

Dengan tenang dan senyum tipis, sang Patih menjawab,

“Sampun dipunsediaken, Kanjeng.”

Belum sempat orang bertanya lebih jauh, dari arah kejauhan tampak rombongan gamelan datang membawa seperangkat alat musik tradisional, diikuti para pesinden dari Desa Gombong, dipimpin oleh Nyai Sarinten. Semua hadirin, termasuk Pangeran Benowo, terperangah. Tak seorang pun tahu dari mana mereka datang, sebab sebelumnya tidak ada yang menyiapkannya.

Sejak saat itu, masyarakat mulai menyadari bahwa Patih Jiwonegoro memiliki kesaktian luar biasa. Apa pun yang beliau ucapkan dengan kata “sampun” (sudah), benar-benar terjadi seketika.

Keajaiban itu terulang lagi dalam rapat Paseban berikutnya. Pangeran Benowo saat itu memerintahkan agar dibangun dua jembatan di kota, untuk memperlancar hubungan antarwilayah.
“Bangunlah jembatan di Kali Banger dan Pelawangan,” titah sang Bupati.

Patih Jiwonegoro menjawab dengan tenang,

“Sampun dados, Kanjeng.”

Ketika ditinjau ke lapangan, ternyata bukan dua, melainkan tujuh belas jembatan telah berdiri kokoh di seluruh penjuru Pemalang — dari Brug Banger, Giyanti, Comal, Moga, Rejasa, hingga Pesanggrahan.

Pangeran Benowo tertegun dalam kekaguman. Ia menatap Patih Jiwonegoro dengan hormat dan berkata,

“Mulai hari ini, engkau kuanugerahi gelar Patih Sampun Jiwonegoro, karena setiap titah yang kuucap selalu telah engkau jadikan nyata.”

Sejak saat itu, nama Patih Sampun Jiwonegoro dikenal luas, bukan hanya karena kesaktiannya, tetapi karena pengabdiannya yang tulus dan keikhlasannya dalam bekerja tanpa pamrih.

Beliau mengabdi hingga masa pemerintahan Bupati Mangun Oneng (Mangoneng). Namun, usia tua dan pertempuran yang tiada henti membuat tubuhnya semakin lemah. Pada akhirnya, ia gugur dalam pertempuran melawan Patih Jongsari dari Alas Roban pada tahun 1616 Masehi.

Jenazahnya dimakamkan di Depok Slatri, Wanareja, dan rakyat Pemalang mengenangnya sebagai pahlawan yang setia hingga akhir hayat. Sebagai bentuk penghormatan, namanya diabadikan menjadi Taman Patih Sampun, sebuah tempat yang hingga kini menjadi simbol ketulusan dan kesetiaan abdi negara.

Sebab bagi rakyat Pemalang, nama Patih Sampun Jiwonegoro bukan sekadar legenda. Ia adalah lambang dari pengabdian sejati — seorang patih yang tidak pernah berkata “belum”, karena baginya, setiap perintah pemimpin selalu “sampun” — sudah terlaksana dengan sepenuh hati.(*)

Oleh Muhamad Safikri Al Uyun