Pada masa lalu, menikah muda sering dianggap sebagai simbol kesuksesan hidup. Tapi bagi generasi sekarang—terutama Gen Z—ceritanya berbeda. Banyak dari mereka yang justru lebih takut pada satu hal: kemiskinan. Bukan takut ditinggal pasangan, bukan juga takut hidup sendiri. Bagi Gen Z, menikah bukan lagi soal cinta semata, melainkan soal kemampuan bertahan hidup di tengah realitas ekonomi yang makin tidak menentu.
Fenomena ini bukan sekadar tren di media sosial. Ia nyata, hadir dalam percakapan sehari-hari, dalam candaan teman sebaya, bahkan dalam keputusan hidup yang paling personal. Ungkapan seperti “mending healing dulu sebelum nikah” atau “duit dulu baru cinta” bukan sekadar lelucon—tapi refleksi dari kecemasan finansial yang sedang dialami banyak anak muda.
Salah satu alasan utama mengapa Gen Z cenderung menunda pernikahan adalah karena biaya hidup yang kian melonjak. Di kota-kota besar Indonesia, harga sewa rumah, biaya makan, transportasi, hingga kebutuhan dasar meningkat jauh lebih cepat dibandingkan kenaikan gaji.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS, 2023), indeks harga konsumen di Indonesia terus naik dalam lima tahun terakhir, dengan kelompok pengeluaran untuk makanan dan perumahan menjadi penyumbang terbesar inflasi. Artinya, kebutuhan pokok semakin mahal, sedangkan pendapatan sering kali tak bertambah signifikan.
Bagi Gen Z yang baru memulai karier, penghasilan awal sering kali tidak cukup untuk menabung, apalagi menyiapkan biaya pernikahan atau kehidupan rumah tangga. Dalam situasi seperti ini, wajar jika mereka berpikir ulang: menikah berarti menambah tanggung jawab finansial, bukan mengurangi beban.
Bukan berarti generasi ini menolak cinta. Tapi bagi banyak orang muda, menikah bukanlah urgensi utama. Mereka lebih memilih menstabilkan diri terlebih dahulu—membangun karier, meningkatkan keterampilan, atau mengejar pendidikan.
Sosiolog dari Universitas Indonesia, Nurul Ulfah (2023), menjelaskan bahwa pergeseran nilai ini menunjukkan perubahan cara pandang terhadap makna kebahagiaan. “Dulu, kebahagiaan diukur dari keluarga dan anak. Sekarang, banyak anak muda yang merasa bahagia kalau mereka mandiri dan tidak merepotkan orang lain secara finansial,” ujarnya.
Fenomena ini juga tampak di survei Kompas (2024) yang menunjukkan bahwa lebih dari 60% responden Gen Z di Indonesia menunda pernikahan karena alasan ekonomi. Mereka menganggap menikah dalam kondisi belum stabil sama saja dengan menyiapkan diri untuk stres dan konflik jangka panjang.
Dalam budaya populer, sering terdengar kalimat seperti “cinta cukup untuk bertahan.” Tapi Gen Z tampaknya sudah belajar dari pengalaman generasi sebelumnya. Banyak yang tumbuh menyaksikan orang tua bertengkar karena uang, atau bahkan bercerai karena tekanan ekonomi.
Bagi mereka, cinta tanpa kestabilan finansial bukanlah pondasi, tapi jebakan. Hubungan yang penuh kasih bisa hancur jika kebutuhan dasar tak terpenuhi. Seorang pengguna X (dulu Twitter) menulis, “Aku gak butuh nikah cepet, aku butuh tenang. Aku mau punya rumah dulu sebelum punya pelaminan.” Ungkapan seperti ini viral karena banyak yang merasa senasib. Di era ketika harga tanah bisa setara dengan belasan tahun gaji, keinginan untuk ‘tenang dulu’ adalah bentuk realistis, bukan ketakutan.
Media sosial turut memainkan peran besar dalam membentuk cara Gen Z memandang hidup. Di satu sisi, mereka melihat kehidupan ideal para influencer: rumah estetik, liburan ke luar negeri, dan pasangan romantis yang saling support. Di sisi lain, mereka sadar betul bahwa semua itu membutuhkan uang.
Kontras antara dunia maya dan kenyataan sering kali membuat mereka merasa tertinggal. Akibatnya, muncul fenomena financial anxiety, yakni kecemasan berlebihan terhadap kondisi keuangan sendiri.
Belum lagi tantangan karier yang mereka hadapi. Banyak perusahaan masih menerapkan sistem kontrak jangka pendek atau gaji minimum yang pas-pasan. Menurut survei Katadata (2024), 47% pekerja muda di Indonesia mengaku belum memiliki tabungan darurat, dan 62% merasa gajinya tidak cukup untuk biaya hidup bulanan. Dalam situasi seperti ini, menikah bisa terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau.
Menariknya, sikap “takut miskin” ini bukan semata bentuk pesimisme. Gen Z justru menunjukkan cara berpikir yang lebih rasional dan terencana. Mereka tahu bahwa cinta butuh ruang, tapi kehidupan butuh biaya.
Dalam konteks ini, Gen Z bukan anti-menikah, tapi anti-sengsara. Mereka menolak gagasan bahwa pernikahan harus dilakukan segera setelah cukup umur, dan lebih memilih memastikan diri siap—baik secara mental maupun finansial.
Satu hal yang patut diapresiasi dari generasi ini adalah kesadaran mereka akan pentingnya self- love dan kemandirian. Mereka percaya bahwa mencintai orang lain dimulai dari mencintai diri sendiri, dan salah satu bentuk cinta diri adalah tidak membebani pasangan dengan masalah ekonomi yang belum terselesaikan.
Banyak Gen Z yang memilih untuk fokus pada investasi, menabung, atau bahkan membangun bisnis kecil-kecilan sebelum menikah. Bagi mereka, stabilitas finansial bukan simbol keserakahan, tapi bentuk tanggung jawab.
Kondisi global yang tidak menentu—mulai dari pandemi, resesi ekonomi, hingga perubahan iklim—membuat generasi muda hidup dalam ketidakpastian yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya.
Dalam kondisi seperti ini, menikah tanpa perencanaan terasa seperti melompat ke dalam jurang dengan mata tertutup. Oleh karena itu, banyak anak muda yang menunda menikah bukan karena takut komitmen, tapi karena ingin memastikan masa depan mereka tidak runtuh di tengah jalan.
Gen Z ingin menikah bukan hanya untuk hidup bersama, tapi juga untuk bertahan bersama. Dan untuk bisa bertahan, mereka tahu bahwa cinta saja tidak cukup—dibutuhkan kestabilan finansial, perencanaan, dan kematangan berpikir.
Pada akhirnya, Gen Z mengajarkan kita bahwa ketakutan terhadap kemiskinan bukan bentuk materialisme, melainkan bentuk kesadaran. Mereka tidak menolak cinta, hanya menolak hidup dalam ketergesa-gesaan yang berpotensi membawa penderitaan.
Pernikahan seharusnya bukan perlombaan, melainkan keputusan yang matang. Janji sehidup semati tetap indah, tapi akan lebih indah lagi jika diiringi dengan kestabilan finansial dan kesiapan mental.(*)
Oleh Ardi Ihsannur Rosyidi