Jika kamu pernah bermain game baik di ponsel ataupun di konsol sebut saja Genshin Impact, Mobile Legends, atau Honkai: Star Rail, kamu mungkin sudah akrab dengan istilah gacha. Banyak pemain rela menghabiskan berjam-jam hari mereka untuk menabung mata uang di dalam gim, bahkan mengeluarkan uang betulan demi mendapatkan karakter langka atau senjata keren. Ketika tombol draw ditekan, jantung berdebar mempertanyakan akankah kali ini beruntung, atau coba lagi? Inilah sensasi yang membuat gacha begitu digemari.
Namun di balik keseruan itu, ada mekanisme psikologis dan ekonomi yang menarik untuk dibahas. Mengapa sistem acak seperti ini bisa membuat jutaan pemain terus lembali membuka aplikasinya, lagi dan lagi?
Istilah gacha sendiri berasal dari gachapon, mesin mainan kapsul asal Jepang. Kita memasukkan koin, memutar tuas, dan dapat kapsul yang isinya mainan dengan beragam jenis mulai dari figur koleksi sampai aksesori, tergantung apa yang mesin itu tawarkan. Dalam gim daring, konsep ini diadaptasi menjadi sistem undian. Pemain menggunakan mata uang dalam gim untuk membuka peluang mendapatkan item atau barang secara acak. Mata uang dalam gim sendiri bisa didapatkan dengan erja keras menyelesaikan misi, atau bisa didapatkan dengan mudah dengan membelinya langsung menggunkan uang betulan.
Barang yang didapat bisa berupa karakter baru, senjata, kostum, aksesori karakter, dan lain-lain. Semakin langka dan berharga barangnya, semakin kecil pula peluang mendapatkannya. Sebagai contoh, sebuah gim mungkin memberikan peluang hanya 0,6% untuk mendapatkan karakter “SSR” atau karakter dengan tingkat kelankaan tinggi. Sekilas terlihat sederhana, tapi di sinilah daya tarik sekaligus jebakannya muncul.
Mekanisme gacha memadukan strategi dan keberuntungan. Pemain tahu bahwa hasilnya acak, tapi tetap merasa memiliki kendali. Misalnya dengan menabung mata uang dalam gim, menunggu event rate-up, atau menghitung peluang melalui pity system. Sensasi ini menciptakan ilusi kontrol yang sangat kuat.
Dari sisi psikologi, gacha memanfaatkan efek dari hormon dopamin, zat kimia otak yang muncul saat kita menantikan sesuatu yang menyenangkan. Setiap kali hasil undian muncul, otak kita menerima rasa senang dan penasaran, mirip dengan sensasi yang dialami penjudi saat menarik tuas mesin slot.
Di sisi lain, faktor sosial juga berperan besar. Media sosial dipenuhi unggahan pemain dalam suatu forum yang memamerkan hasil gacha mereka. Saat teman mendapatkan karakter langka, muncul perasaan FOMO (Fear of Missing Out) yang mendorong pemain untuk terus mencoba mendapatkan karakter itu lagi dan lagi sampai rela menghabiskan uang di dunia nyata demi sesuatu hal yang hanya ada dalam dunia virtual.
Dampak terhadap Pemain
Tentu tidak semua efek gacha bersifat negatif. Bagi sebagian pemain, sistem ini memberikan unsur kejutan dan tantangan. Mendapatkan karakter langka memberi rasa bangga tersendiri, terutama jika hasilnya diperoleh tanpa mengeluarkan uang sungguhan, murni kerja keras menabung dari event di dalam gim.
Namun, sisi gelapnya juga tak bisa diabaikan. Gacha berpotensi menimbulkan perilaku impulsif. Kebanyakan pemain mengaku sulit berhenti setelah gagal, berpikir “sekali lagi pasti dapat”, suatu perilaku yang sama yang juga sering ditunjukkan oleh para pemain judi slot daring. Akibatnya, banyak yang menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah tanpa sadar. Fenomena ini dikenal sebagai microtransaction trap, jebakan transaksi kecil tapi berulang yang akhirnya menumpuk besar.
Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50% remaja yang berpartisipasi dalam gim gacha menunjukkan beberapa kecenderungan berjudi, dengan sekitar 5% mengembangkan kebiasaan bermasalah dan 10% menunjukkan tanda-tanda awal kecanduan judi.
Bagi remaja dan pemain muda, risikonya bisa lebih tinggi lagi karena mereka belum sepenuhnya memahami konsep peluang dan pengendalian diri. Tak jarang muncul cerita pemain yang menyesal setelah saldo tabungannya habis demi mengejar karakter virtual.
Perspektif Hukum dan Etika
Karena kemiripannya dengan perjudian, mekanisme gacha menuai perdebatan di berbagai negara. Belgia dan Belanda misalnya, melarang sistem loot box (serupa dengan gacha) karena dianggap sebagai bentuk perjudian terselubung. Jepang, negara asal istilah ini dan salah satu negeri pengembang gim gacha terbesar, telah mengatur ketat praktik kompu gacha (gacha berantai) yang dinilai terlalu eksploitatif. Korea Selatan yang juga melahirkan beberapa gim gacha terkenal mewajibkan pengembang gim mengungkap peluang setiap item secara transparan.
Tiongkok sebagai salah satu negara pengembang gim gacha besar dan populer mengatur ketat sistem gacha karena dianggap menyerupai perjudian. Sejak Desember 2023, aturan baru diberlakukan untuk mengendalikan sistem gacha, termasuk pembatasan hadiah, top-up, dan aturan mengenai pemain di bawah umur.
Sementara itu, Indonesia sendiri belum memiliki aturan khusus yang mengatur tentang gacha. Namun wacana regulasi mulai mengemuka, terutama karena kekhawatiran terhadap anak-anak dan remaja yang mudah terpengaruh.
Meski gacha tidak selalu buruk, pemain tetap perlu dan wajib hukumnya menjaga keseimbangan. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:
- Tetapkan batas pengeluaran. Tentukan jumlah maksimal yang bisa diterima untuk dihabiskan. Gunakan juga uang dingin, alias uang yang bukan diperuntukkan untuk kebutuhan sehari-hari.
- Gunakan mata uang gim gratis dengan bijak. Nikmati proses mengumpulkan dan menabung mata uang dalam gim yang bisa didapatkan secara gratis tanpa merasa harus selalu membeli.
- Sadari bahwa hasilnya acak. Tidak ada strategi pasti yang menjamin keberhasilan.
- Fokus pada kesenangan bermain, bukan hasil undian. Gim seharusnya jadi hiburan di kala senggang, bukan sumber stress apalagi kalua sampai menghabiskan uang.
Dengan kesadaran ini, pemain bisa menikmati sensasi gacha tanpa kehilangan kendali atas waktu dan uang mereka. Fenomena gacha adalah cerminan dari dunia hiburan digital modern yang menggabungkan teknologi, psikologi, dan ekonomi dalam satu paket adiktif. Ia bisa menjadi sumber kesenangan, tetapi juga potensi jebakan jika tidak disikapi bijak.
Akhirnya, keseruan sejati dalam gim bukan terletak pada karakter langka atau senjata mahal, melainkan pada pengalaman bermain dan kemampuan kita mengendalikan diri.(*)
Oleh Fahmi Husaini