Pelaksanaan pembelajaran aksara Jawa di sekolah menjadi isu yang selalu hangat untuk dibicarakan. Pembelajaran aksara Jawa yang bertujuan agar siswa mampu membaca dan menulis aksara Jawa dengan baik pada nyatanya masih sangat jauh dari yang diharapkan. Masih banyak siswa yang belum mampu membaca teks beraksara Jawa. Bahkan untuk sekadar memahami bentuk dan aturan penulisan aksara Jawa dengan baik, seperti nglegena, sandhangan, dan pasangan, juga belum mampu dilakukan oleh sebagian besar siswa. Siswa masih kesulitan untuk menghafal bentuk-bentuk dasar aksara Jawa sebagai pondasi dalam pembelajaran aksara Jawa.
Permasalahan tersebut menjadi permasalahan yang sangat serius mengingat pembelajaran aksara Jawa pada jenjang yang lebih tinggi akan semakin kompleks. Siswa tidak akan mampu memahami isi teks beraksara Jawa yang menyimpan berbagai pengetahuan akan kebudayan Jawa pada tataran-tataran yang lebih tinggi jika tataran membaca masih berada pada kemampuan membaca teknis. Terlebih lagi bagi mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa atau Sastra Jawa yang pada muaranya akan menjadi sarjana sekaligus pendidik di bidang bahasa Jawa. Tentu saja, kemampuan membaca aksara Jawa yang baik menjadi modal penting bagi mereka untuk mampu mengembangkan bahan ajar bahasa Jawa yang semakin beragam. Permasalahan ini menjadi penting, karena memang selama ini guru hanya mengandalkan bacaan-bacaan beraksara Jawa yang tersedia di buku teks dan belum mampu memberikan variasi bacaan teks aksara Jawa kepada siswa. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pembelajaran aksara Jawa menjadi kurang menarik untuk dipelajari siswa di sekolah.
Beberapa faktor lain yang turut menjadi penyebab rendahnya keterampilan menulis dan membaca aksara Jawa di institusi pendidikan adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang efektif dan rendahnya intensitas penggunaan aksara Jawa pada siswa. Selama ini sebagian besar guru menggunakan metode drilling yang hanya berorientasi pada hafalan sementara dan akan cepat hilang setelah ujian. Metode tersebut belum mampu membuat siswa benar-benar memahami dan mengingat aksara Jawa dalam jangka panjang. Selain itu, permasalahan yang krusial juga terjadi karena siswa tidak terbiasa menggunakan aksara Jawa untuk kegiatan baca tulis sehari-hari. Siswa hanya menggunakan aksara Jawa pada pembelajaran aksara Jawa yang waktunya sangat terbatas sehingga optimalisasi pengembangan kemampuan baca tulis aksara Jawa masih sangat rendah.
Pembelajaran aksara Jawa sendiri harus berorientasi pada pembiasaan atau pembelajaran literasi agar siswa mampu membangun pemahaman dan menghimpun berbagai informasi secara mandiri. Pembelajaran literasi aksara Jawa tidak hanya bermuara akhir pada kemampuan membaca dan menulis saja, melainkan kemampuan membangun konsep dan berpikir analitik untuk ingatan jangka panjang. Sebagai contoh, jika dalam kegiatan literasi seorang siswa menemukan kata “kuwi” maka siswa akan membangun pemahaman terhadap bentuk dasar aksara Jawa dan sandhangan. Siswa akan membangun pemahaman terhadap aksara “ka” yang diberi sandhangan suku sehingga menghasilkan bunyi “ku” dan aksara “wa” yang diberi sandhangan wulu sehinggan berbunyi “wi”. Pemahaman tersebut dibangun secara mandiri oleh siswa sehingga dapat dikembangkan dan diingat dalam jangka panjang.
Pemahaman terhadap aksara Jawa tidak boleh hanya berpusat pada penggunaan aksara nglegeba, sandhangan, dan pasangan. Secara lebih luas dan kompleks, pembelajaran literasi aksara Jawa akan mengantarkan siswa pada kemampuan berpikir lebih mendalam seperti menganalisis sebuah hubungan sebab akibat dan hubungan yang berkaitan dengan sebuah teks dan kemampuan memproduksi teks sederhana beraksara Jawa sebagai bentuk pemahaman terhadap bentuk dan aturan penulisan aksara Jawa yang tepat.
Pembelajaran literasi dalam konteks aksara Jawa bertujuan untuk membantu siswa yang masih kesulitan untuk menguasai kemampuan memahami teks beraksara Jawa, menginterpretasi makna teks beraksara Jawa yang kompleks dari keberadaan struktur tata bahasa dan sintaksis, serta menemukan strategi pembelajaran membaca dan menulis aksara Jawa yang efektif.
Setidaknya ada tiga kompetensi utama yang dikembangkan dalam pembelajaran literasi aksara Jawa. Kompetensi tersebut yaitu literasi pada tingkat kata (mencakup ejaan dan kosakata), tingkat kalimat (mencakup tanda baca dan tata bahasa), dan tingkat teks (mencakup pemahaman teks dan komposisi teks). Dalam hal ini, pembelajaran literasi aksara Jawa dapat diterapkan melalui 4 tahapan. Tahapan tersebut dimulai dari tahapan melibatkan, merespon, elaborasi, meninjau ulang, hingga mempresentasikan. Melalui tahapan-tahapan tersebut, siswa akan mampu membangun pemahamannya secara mandiri dan dapat diingat jangka panjang.
Konsep pembelajaran literasi aksara Jawa ini akan lebih efektif jika bahan literasi aksara Jawa dikembangkan secara massif dalam bentuk digital. Dalam hal ini, konsep literasi digital aksara Jawa akan mempermudah siswa untuk dapat mengakses berbagai bahan bacaan digital beraksara Jawa yang dapat menambah variasi bacaan agar siswa tidak mudah bosan untuk membaca aksara Jawa yang hanya itu-itu saja. Dengan demikian, model pembelajaran literasi digital aksara Jawa ini diharapkan dapat mempermudah siswa untuk meningkatkan kemampuan membaca teks beraksara Jawa.
Dr. Nur Hanifah Insani, S.Pd., M.Pd.
Rahma Ari Widihastuti, S.Pd., M. A.
Sheyra Silvia Siregar S.S., MTCSOL
Yusuf Nur Kholiq, S.Pd.
Alya Andeska
Messi Nurzanah Rindang Fariha Idana