Mengabadikan Kenangan di Bukit Naga Jolong 2

Oleh Alvina Rahma Calista

Bukit Naga Jolong 2 merupakan salah satu destinasi wisata alam yang terletak di lereng Gunung Muria, tepatnya di Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Lokasi ini menawarkan pemandangan perbukitan yang hijau dengan udara yang masih sangat asri dan sejuk, menjadikannya pelarian sempurna dari hiruk-pikuk pusat kota. Dinamakan Bukit Naga karena di sana tertanam banyak sekali pohon buah naga. Akses menuju ke sana memang cukup menantang karena jalannya yang menanjak, namun keindahan panorama yang ditawarkan selalu berhasil memikat siapa saja yang berkunjung. 

Keindahan tempat ini tidak hanya terletak pada pemandangan alamnya saja, tetapi juga pada fasilitas pendukung yang tertata rapi bagi para wisatawan. Dari puncak bukit, kita bisa melihat pemandangan Waduk Seloromo yang membentang luas di bawah sana seperti cermin raksasa yang memantulkan langit. Bukit Naga Jolong 2 sering kali menjadi lokasi favorit untuk sesi pemotretan karena pencahayaannya yang natural dan latar belakang vegetasi yang beragam. Pepohonan yang rimbun dan tatanan batu-batu alam di sana memberikan kesan eksotis yang sulit ditemukan di tempat lain di wilayah Pati. Tidak heran jika banyak orang memilih tempat ini sebagai lokasi untuk mengabadikan momen-momen penting dalam hidup mereka.

Nah, ceritaku ini pada hari Jumat, 10 Januari 2025, saat kami dari kelas XII-1 SMA Negeri 2 Pati ada kegiatan sesi foto yearbook. Sebagai anak Smanda, kami ingin memberikan kenang-kenangan yang paling ikonik sebelum masa sekolah kami berakhir secara resmi. Kami berkumpul di sekolah dengan semangat yang meluap-luap, mengenakan kostum sesuai tema yang telah disepakati bersama. Karena keberangkatan pagi, tentunya kami sudah mulai bersiap sejak sehabis subuh. Langit pagi itu tampak cerah, seolah memberikan restu bagi agenda besar yang sudah kami rencanakan sejak berbulan-bulan yang lalu. Semua perlengkapan telah diperiksa kembali agar tidak ada yang tertinggal saat kami sudah sampai di lokasi tujuan. 

Sekitar pukul 08.00 pagi, kami semua berkumpul di kelas XII-1 untuk sesi presensi. Setelah sesi presensi dan mendapat izin keberangkatan dari guru kesiswaan, rombongan kami akhirnya berangkat menuju kawasan Jolong dengan perasaan penuh antusiasme pada sekitar pukul 09.30. Kebrangkatan menggunakan beberapa mobil dari masing-masing kelompok. Perjalanan dari pusat kota Pati menuju Gembong memakan waktu yang cukup singkat, namun memberikan pemandangan yang mulai berubah dari aspal perkotaan menjadi hijaunya pepohonan. Di dalam kendaraan, kami terus bercengkerama dan tertawa, membayangkan betapa serunya sesi pemotretan nanti dengan kostum unik kami. Semangat kami tetap terjaga meskipun kami tahu bahwa medan yang akan kami hadapi di Bukit Naga tidaklah mudah. Kami semua berharap cuaca tetap bersahabat hingga seluruh sesi pemotretan selesai dilakukan. 

Di perjalanan, kelompok itulah yang tibanya paling akhir karena salah pilih jalur. Jadi saat itu rombongan kelompokku putar balik dan lumayan memakan waktu. Sesampainya di titik pemberhentian Bukit Naga Jolong 2, tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai bagi kami semua. Kami harus berjalan kaki menanjak untuk mencapai spot foto utama yang berada di bagian atas perbukitan tersebut. Langkah demi langkah kami lalui dengan napas yang mulai tersengal-sengal karena kemiringan jalur yang cukup menguras tenaga fisik. Kostum dan properti yang kami bawa menambah beban perjalanan, namun tekad untuk mendapatkan foto yang bagus mengalahkan rasa lelah itu. Keringat mulai membasahi kening, tapi tawa teman-teman di sepanjang tanjakan membuat suasana tetap terasa ringan dan menyenangkan. 

Kelasku, yakni kelas XII-1, secara khusus memilih tema “Jumanji”. Kami membagi menjadi 6 kelompok besar, di mana setiap kelompok terdiri dari 6 anggota dengan peran masing-masing. Tema “Jumanji” ini membuat kami terlihat seperti sekelompok petualang yang sedang terjebak di dalam sebuah permainan papan ajaib di tengah hutan belantara. Keseragaman konsep ini memberikan kesan yang sangat kuat dan kohesif saat kami mulai berbaris di antara pepohonan. Kami benar-benar merasa seperti karakter film yang sedang menjalankan misi rahasia di tengah Pegunungan Muria.

Kelompokku sendiri tampil secara totalitas dengan berbagai properti pendukung yang sudah kami persiapkan di rumah. Kelompokku terdiri dari 4 perempuan dan 2 laki-laki. Teman yang laki-laki di kelompokku membawa beberapa tembak-tembakan mainan yang nanti juga dipinjamkan ke beberapa teman perempuan di kelompokku. Ada juga yang membawa tas gunung berukuran besar dan perlengkapan lainnya. Aku sendiri membawa teropong kecil yang kugantungkan di leher. Properti-properti ini bukan hanya sekadar hiasan, tetapi juga menjadi elemen penting yang menghidupkan suasana petualangan dalam jepretan kamera nanti. Kami saling membantu merapikan atribut masing-masing agar terlihat sempurna saat sesi foto dimulai. 

Kegiatan kami hari itu diatur oleh dua orang panitia pembuatan foto yearbook yang penampilannya nggak kalah kece. Mereka masih teman seangkatan kami sendiri sih. Mereka berdua dengan sigap mengarahkan barisan, memastikan setiap kelompok siap pada gilirannya, dan menjaga agar jadwal tetap tepat waktu. Meskipun kami sebaya, mereka menunjukkan profesionalisme yang tinggi dalam mengatur puluhan siswa. Koordinasi yang baik dari mereka membuat suasana pemotretan menjadi lebih teratur dan tidak kacau di lokasi yang cukup terbuka itu. Tanpa kehadiran mereka, mungkin sesi foto ini akan memakan waktu jauh lebih lama dari yang dijadwalkan. 

​Di lokasi pemotretan (Bukit Naga Jolong 2), seorang fotografer yang ditugaskan untuk memotret sudah siap dengan kameranya untuk mengabadikan momen kami. Fotografer itulah yang memegang kendali penuh atas pose-pose yang harus kami lakukan agar komposisi fotonya terlihat estetik dan sinematik. Kadang kami diminta untuk berpose menghadap arah lain, tidak memandang kamera (candid). Arahan yang detail dari fotografer tersebut sangat membantu kami yang awalnya merasa canggung di depan kamera. Hasilnya, setiap kelompok berhasil menampilkan ekspresi yang dramatis dan sesuai dengan semangat petualangan “Jumanji”. Fotografer tersebut juga sangat sabar. Apabila kami merasa kurang dengan hasil fotonya, boleh minta ulang.

Mengingat hari itu adalah hari Jumat, kami memiliki keterbatasan waktu yang cukup ketat untuk menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan. Kami harus memastikan bahwa seluruh kelompok sudah selesai dipotret sebelum waktu Salat Jumat tiba. Oleh karena itu, ritme kerja kami sangat cepat, namun tetap berusaha menjaga kualitas setiap jepretan agar tidak ada yang terlewat. Panitia terus mengingatkan kami tentang sisa waktu yang ada agar kami segera bersiap turun dari bukit setelah selesai. Ada rasa urgensi yang membuat kami semua menjadi lebih fokus dan disiplin dalam mengikuti arahan fotografer. 

Tepat saat matahari mulai meninggi dan mendekati siang hari, sesi foto terakhir dari kelompok keenam pun akhirnya berhasil diselesaikan. Kami segera mengemasi seluruh properti, mulai dari teropongku hingga tas-tas besar, untuk segera turun menuju area parkir. Perjalanan turun terasa jauh lebih ringan dibandingkan saat naik, meskipun kami tetap harus berhati-hati karena jalur yang cukup licin. Rasa lega terpancar dari wajah setiap anak XII-1 karena misi “Jumanji” kami hari itu telah tuntas dengan sukses. Kami berhasil menyelesaikan semuanya sebelum azan salat Jumat berkumandang, sesuai dengan rencana awal yang telah kami buat. 

Pengalaman foto yearbook di Bukit Naga Jolong 2 ini akan menjadi salah satu memori yang paling indah bagi kami siswa-siswi kelas XII-1 selama bersekolah di SMA Negeri 2 Pati. Lelahnya mendaki bukit dan panasnya sengatan matahari seolah terbayar lunas dengan kebersamaan yang kami rasakan sepanjang hari itu. Foto-foto yang dihasilkan nantinya akan menjadi saksi bisu perjalanan pertemanan kami di bangku SMA yang penuh dengan warna. Aku menatap teropong di tanganku dan tersenyum, menyadari bahwa sebentar lagi kami semua akan menjalani perjalanan hidup yang lebih nyata masing-masing setelah lulus. Hari itu bukan hanya tentang mengambil foto, tetapi tentang mengukir kenangan yang tak akan pernah pudar oleh waktu. (*)