Tradisi Meron di Sukolilo Pati

Oleh Putri Fatihan Chamamah

Ada sebuah tradisi yang sampai kini masih tetap hidup dan dijaga dengan penuh kesadaran oleh masyarakat Kabupaten Pati, khususnya di wilayah Sukolilo. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Meron. Bagi masyarakat setempat, meron bukan hanya sekadar acara tahunan, melainkan bagian dari kehidupan yang memiliki makna, baik secara budaya, sosial, maupun religius. 

Di sini, saya akan menceritakan bagaimana keseruan dalam tradisi meron ini. Arti Meron adalah tradisi adat tahunan untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad saw., yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal. Sebelumnya, masyarakat setempat sudah mulai mempersiapkan acara arak-arakan, di mana masyarakat setempat akan mulai membuat meron/gunungan yang menjadi ciri khas dari tradisi meron tersebut. Adanya gunungan/meron tersusun dari hasil bumi, jajanan pasar, dan berbagai simbol kesejahteraan masyarakat. 

Tradisi meron/arak-arakan meron dilaksanakan pada pukul 13.00 dengan keadaan situasi yang ramai dan suasana yang amat sangat panas pada saat itu. Acara diawali dengan doa bersama dan pembacaan salawat dengan bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Jalanan desa yang biasanya tenang kini berubah menjadi lautan manusia. Warga dari berbagai penjuru datang berbondong-bondong, bahkan tidak sedikit pengunjung dari luar daerah yang turut meramaikan suasana. Saya memilih berdiri di pinggir jalan, mencoba mencari posisi terbaik untuk menyaksikan arak-arakan. Di sepanjang jalan, pedagang kaki lima berjejer rapi menjajakan aneka makanan tradisional seperti getuk, klepon, dan gorengan. Aroma manis dan gurih bercampur menjadi satu, menciptakan suasana khas perayaan rakyat.

Di tengah keramaian, saya memperhatikan interaksi antarwarga. Mereka saling menyapa, bercengkerama, bahkan tertawa bersama. Tidak ada sekat antara satu dengan yang lain. Tradisi ini seolah menjadi ruang pertemuan sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Tak lama kemudian, ternyata acara arak-arakan akan segera dimulai. Dari kejauhan sudah mulai terdengar suara tabuhan musik tradisional dan perlahan terdengar mendekat. Para peserta arak-arakan meron dimulai dari barisan pertama. Para peserta mengenakan pakaian adat dengan warna-warna cerah. Barisan kedua ada pembawa bendera Merah Putih dan pasukan pengibar bendera. Kemudian ada yang membawa atribut tradisional, ada marching band, ada Mbak dan Mas Duta Budaya Pati, ada juga kesenian tradisional yang bermacam-macam seperti barongan. Namun, yang menjadi ciri khas dari arak-arakan ini adalah meron/gunungan yang telah disusun untuk diarak juga. 

Bagian rombongan inilah yang menjadi pusat perhatian. Bentuk dari meron tersebut menjulang tinggi seperti gunung dan dihiasi berbagai hasil bumi. Susunannya rapi dan artistik, mencerminkan kerja keras dan kreativitas masyarakat dalam mempersiapkan tradisi ini. Setiap elemen dari meron memiliki makna tersendiri. Warna-warni yang menghiasi meron memberikan kesan meriah sekaligus sakral.

Satu per satu peserta arak-arakan meron sudah menampilkan. Ada salah satu peserta arak-arakan yang membawa gunungan untuk direbut oleh para pengunjung yang sedang menyaksikan arak-arakan tersebut. Gunungan itu diletakkan di tengah jalan yang kemudian dikerumuni oleh pengunjung. Mereka berebut untuk mendapatkan dari gunungan itu. Ada yang mendapatkan kacang panjang, ada juga yang mendapatkan ketela, dan banyak lagi para pengunjung yang mendapatkannya, serta ada pula pengunjung yang tidak dapat karena mereka tidak ikut mengerumuni. Tradisi meron ini melambangkan kemakmuran dan harapan akan keberkahan hidup dari masyarakat setempat.

Arak-arakan terus bergerak perlahan menyusuri jalan desa di Sukolilo dengan ritme yang teratur, seolah setiap langkah telah diatur mengikuti alunan musik pengiring. Anak-anak tampak menjadi kelompok yang paling ekspresif dalam menikmati arak-arakan tersebut. Mereka berlarian kecil mengikuti rombongan, sesekali melompat kegirangan sambil menunjuk ke arah meron yang menjulang tinggi. Tawa mereka pecah tanpa beban, mencerminkan kegembiraan yang tulus. Beberapa anak bahkan mencoba mendekat lebih jauh, meskipun sesekali dipanggil kembali oleh orang tua mereka agar tetap berhati-hati di tengah keramaian. Di sisi lain, para orang tua terlihat lebih tenang namun tetap antusias. Banyak di antara mereka yang sibuk mengabadikan momen menggunakan ponsel, baik dalam bentuk foto maupun video.

Arak-arakan sudah mulai mendekati titik akhir. Suasana yang semula terasa santai perlahan berubah menjadi lebih tegang, namun sekaligus dipenuhi antusiasme yang tinggi. Warga yang sebelumnya berdiri dengan jarak mulai merapat ke arah meron, membentuk kerumunan yang semakin padat di sepanjang jalan. Dalam momen itu, terasa jelas bahwa pembagian isi meron bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan puncak dari seluruh rangkaian tradisi yang sarat makna—di mana rasa syukur, harapan akan berkah, dan semangat kebersamaan bertemu dalam satu peristiwa yang dinantikan bersama.

Akhirnya, momen yang dinanti tiba saat isi meron mulai diperebutkan warga dengan penuh antusiasme. Suasana seketika menjadi ramai; tangan-tangan terulur dari berbagai arah untuk mengambil hasil bumi dan jajanan yang tersusun. Meski tampak semrawut, tidak ada konflik yang terjadi; justru terdengar tawa dan sorak kegembiraan di mana-mana. Bagi masyarakat, apa pun yang diperoleh bukan sekadar benda, melainkan simbol berkah, sehingga momen ini mencerminkan kebersamaan, solidaritas, dan kepercayaan terhadap nilai tradisi yang diwariskan.

Dengan perlahan, keramaian mulai surut seiring dengan selesainya seluruh rangkaian acara tradisi Meron di Sukolilo. Suara musik yang sebelumnya menggema kini mulai menghilang, digantikan oleh percakapan ringan warga yang bersiap untuk kembali ke rumah. Jalanan yang sebelumnya dipenuhi oleh kerumunan manusia perlahan kembali menjadi sepi. Sisa-sisa daun, kertas pembungkus makanan, dan jejak langkah kaki menjadi tanda bahwa sebuah perayaan besar baru saja terjadi. Warga meninggalkan lokasi satu per satu dengan ekspresi yang menunjukkan kepuasan dan kebahagiaan. Beberapa di antara mereka masih membawa hasil dari rebutan isi meron, seperti makanan ringan atau hasil tani yang diyakini membawa berkah. Ada pula yang berjalan sambil bercengkerama, mendiskusikan jalannya acara dari awal hingga akhir. Momen ini menunjukkan bahwa tradisi Meron tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menciptakan ruang interaksi sosial yang hangat di antara warga.

Saya sendiri mulai melangkah meninggalkan keramaian dengan perasaan yang cukup reflektif. Pengalaman menyaksikan tradisi ini secara langsung memberikan kesan yang berbeda dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengar ceritanya. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa tradisi Meron bukan sekadar perayaan tahunan yang bersifat ritualistik. Tetapi lebih dari itu, tradisi ini merupakan cerminan nilai kehidupan masyarakat tentang rasa syukur, solidaritas sosial, serta kesadaran kolektif untuk menj. Ada identitas budaya. Hal inilah yang menjadikan meron tetap relevan dan oenting untuk dilestarikan, khususnya di Tengah dinamuka kehidupan modern saat ini.(*)